Wrapped in a City: Bagaimana Batik Marunda Menjahit Jiwa Jakarta ke dalam Sebuah Sampir
Pada perayaan 500 tahun Jakarta, Batik Marunda tidak sekadar memperkenalkan koleksi baru. Ia menawarkan sebuah cara baru memandang ibu kota—melalui wastra yang lahir dari ingatan, keberagaman, dan tangan-tangan perempuan yang mengubah keterampilan menjadi identitas budaya.
Setiap kota besar memiliki simbol. Paris memiliki haute couture. Milan berbicara melalui tailoring. Kyoto menjaga memorinya lewat kimono. Lalu, bagaimana Jakarta menceritakan dirinya kepada dunia?

Pertanyaan itu dijawab Batik Marunda melalui Sampir Jakarta—sebuah koleksi yang tidak lahir untuk mengikuti musim mode, melainkan untuk mengabadikan denyut sebuah kota yang selama lima abad terus berubah, menerima, dan membentuk identitas baru.
Di tangan Irma Sinurat bersama para perempuan pembatik Marunda, Jakarta diterjemahkan bukan sebagai lanskap beton atau deretan gedung pencakar langit. Kota ini hadir sebagai kumpulan kenangan, flora, arsitektur, tradisi, dan manusia yang hidup berdampingan di dalam selembar kain.
Di sinilah fashion berhenti menjadi sekadar pakaian. Ia berubah menjadi arsip budaya.
Menariknya, Irma tidak menempatkan dirinya sebagai pencipta motif. Ia memilih menjadi jembatan yang mempertemukan para pembatik dengan seniman, ilustrator, dan kreator visual Jakarta agar lahir bahasa desain yang benar-benar merepresentasikan wajah ibu kota hari ini.
“Saya hanya pembina. Saya mempertemukan ibu-ibu pembatik dengan para seniman Jakarta. Mereka membuat desainnya, lalu ibu-ibu Marunda yang mencantingnya. Saat hasilnya dipakai orang lain, mereka merasa bangga karena ikut menciptakan karya itu,” ujar Irma pada media yang menemui usai acara pada Kamis, 30 Juli 2026 di JCC Jakarta.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Batik Marunda. Seni, budaya, pemberdayaan, dan fesyen bertemu dalam satu proses kreatif yang saling menghidupkan.
Ketika Sebuah Sampir Menjadi Manifesto Kota
Ketimbang memilih siluet dramatis atau koleksi seremonial, Irma justru menghadirkan sesuatu yang sederhana: sebuah sampir. Dalam tradisi Nusantara, sampir adalah kain yang disampirkan di bahu. Ia tidak menutupi tubuh secara penuh, tetapi menemani, menghangatkan, dan hadir dengan tenang.
Filosofi itulah yang ingin diberikan kepada Jakarta. Kota metropolitan terbesar di Indonesia ini, menurut Irma, seharusnya menjadi ruang yang terbuka bagi siapa pun—seperti sampir yang memberi kehangatan tanpa pernah membatasi.
Pilihan bentuk tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Batik Marunda memahami kemewahan dalam cara yang berbeda. Kemewahan tidak selalu berarti rumit. Kemewahan justru lahir ketika sebuah karya mampu menyampaikan gagasan dengan kesederhanaan yang elegan.

Jakarta yang Tidak Lagi Terjebak pada Stereotip
Menariknya, Batik Marunda tidak mengulang simbol-simbol Betawi yang selama puluhan tahun mendominasi narasi visual Jakarta. Ondel-ondel memang tetap hadir. Namun ia bukan lagi pusat cerita.
Museum Sejarah Jakarta, topeng Betawi, petasan, bunga melati Gambir, kembang kelapa, langgondol, hingga elemen-elemen kota diterjemahkan menjadi komposisi visual yang lebih grafis, lebih berani, dan lebih dekat dengan estetika desain kontemporer. Motif-motif itu diperbesar, menciptakan bahasa visual yang terasa modern sekaligus mudah dikenali.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya tidak harus terjebak pada romantisme masa lalu. Ia dapat terus berevolusi tanpa kehilangan jiwanya.
Dari Rumah Susun Menuju Panggung Fashion
Namun, narasi paling menyentuh dari Batik Marunda sesungguhnya tidak berada pada motif.
Ia berada pada orang-orang yang membuatnya!
Dua puluh perempuan penghuni Rusunawa Marunda—yang dahulu bekerja sebagai buruh cuci, pekerja harian, atau kehilangan pekerjaan setelah relokasi—kini menjadi penjaga tradisi sekaligus pencipta karya bernilai tinggi.
Lebih dari satu dekade mereka belajar menguasai teknik membatik. Satu helai kain dikerjakan selama satu hingga dua minggu. Proses yang nyaris mustahil dipercepat dalam dunia yang semakin terbiasa dengan produksi instan.
Di tengah industri fesyen global yang berlomba menghadirkan koleksi baru setiap musim, Batik Marunda justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: waktu. Dan waktu adalah bentuk kemewahan yang sesungguhnya.

Fashion sebagai Ekosistem Kreatif
Irma tidak pernah mengklaim dirinya sebagai desainer. Ia lebih memilih menjadi kurator yang mempertemukan ilustrator, seniman, dan para perempuan pembatik dalam satu ekosistem kreatif.
Kolaborasi itu menghasilkan bahasa visual yang terus berkembang, sekaligus memastikan bahwa setiap koleksi tetap berakar pada identitas Jakarta.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa masa depan fashion Indonesia tidak hanya bergantung pada desainer besar, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi lintas disiplin yang menghargai setiap mata rantai proses kreatif.
Ketika Kualitas Menjadi Bentuk Pemberdayaan
Di balik seluruh pencapaiannya, Irma hanya memiliki satu permintaan kepada publik.
Jangan membeli Batik Marunda karena rasa iba!
Belilah karena kualitasnya.
Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi mengandung filosofi yang sangat kuat. Pemberdayaan tidak pernah lahir dari belas kasihan. Ia lahir ketika karya dihargai setara dengan kualitasnya. Dan di situlah Batik Marunda menemukan posisi yang berbeda.

Ia bukan sekadar produk kerajinan. Ia adalah bagian dari percakapan baru mengenai bagaimana fashion dapat menjadi medium pemberdayaan, pelestarian budaya, sekaligus pembentuk identitas kota.
Sebuah Kota yang Dikenakan
Ketika diminta menggambarkan Batik Marunda dalam tiga kata, Irma menjawab singkat, “Canting, canting, canting.”
Jawaban itu terasa sederhana. Namun justru di sanalah seluruh cerita bermuara. Canting bukan hanya alat. Ia adalah simbol kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk terus menciptakan sesuatu yang bernilai di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.
Mungkin itulah makna terdalam dari Sampir Jakarta. Ia bukan koleksi yang hanya ingin dikenakan. Ia ingin diingat. Karena pada akhirnya, kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan yang sibuk.
Sebuah kota hidup melalui cerita yang diwariskan dari tangan ke tangan—dan kali ini, Jakarta memilih untuk menceritakan dirinya melalui selembar batik yang disampirkan di bahu. (SMS | Foto: SMS)
