Skip to content
  Sunday 16 August 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

PURANA 17: Renjana Perca, Ketika Karya Seni, Sisa Material, dan Cinta pada Indonesia Bertemu

August 15, 2026 Fashion, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

PURANA 17: Renjana Perca, Ketika Karya Seni, Sisa Material, dan Cinta pada Indonesia Bertemu

Merayakan 17 tahun perjalanan PURANA melalui kolaborasi dengan para seniman Nusantara dan sebuah perayaan tentang kemerdekaan berkarya

Ada sesuatu yang menarik dari sepotong kain perca. Ia mungkin pernah menjadi bagian dari sebuah karya yang utuh, lalu tersisih ketika proses kreatif berlanjut. Namun, ketika potongan-potongan itu dikumpulkan kembali, disusun dengan imajinasi baru, dan diberi kesempatan untuk berbicara, sesuatu yang berbeda dapat lahir darinya.

Kekayaan budaya Nusantara, flora, fauna, lanskap, hingga berbagai narasi tentang Indonesia diterjemahkan ke dalam motif dan karya yang menjadi bagian dari dunia PURANA.

Semangat itulah yang menjadi napas “PURANA 17: Renjana Perca”, perayaan ulang tahun ke-17 PURANA yang berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 di Main Atrium East Mall, Grand Indonesia, Jakarta.

Berlangsung bertepatan dengan Bulan Kemerdekaan Indonesia, perhelatan ini tidak sekadar merayakan perjalanan sebuah rumah mode, tetapi juga mengajak publik melihat kembali hubungan antara seni, fesyen, material, dan keberlanjutan.

Di tangan PURANA, perca bukan sekadar sisa. Ia menjadi metafora tentang perjalanan: serpihan-serpihan pengalaman, kolaborasi, budaya, dan kreativitas yang selama bertahun-tahun dirangkai menjadi identitas.

Tujuh belas tahun tumbuh bersama para seniman

Selama 17 tahun, perjalanan PURANA tidak dibangun dalam ruang kreatif yang tertutup. Founder & Chief Creative Officer PURANA, Nonita Respati, justru menjadikan kolaborasi dengan seniman dari berbagai penjuru Indonesia sebagai salah satu fondasi perjalanan kreatifnya. Kekayaan budaya Nusantara, flora, fauna, lanskap, hingga berbagai narasi tentang Indonesia diterjemahkan ke dalam motif dan karya yang menjadi bagian dari dunia PURANA.

Para seniman tersebut bukan sekadar kontributor visual. Mereka adalah sahabat karya yang tumbuh bersama perjalanan PURANA. Dalam Renjana Perca, dua belas seniman kolaborator kembali dipertemukan. Di antara mereka terdapat talenta-talenta muda yang kini telah berkembang menjadi nama penting dalam dunia seni Indonesia, sekaligus maestro seperti Sutjipto Adi.

Pertemuan lintas generasi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada sebuah koleksi. Ia dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, mengalami interpretasi baru, dan terus menemukan relevansinya.

“Selama 17 tahun, perjalanan PURANA dalam menghidupkan filosofi Livable Art bukanlah perjuangan saya seorang diri,” ujar Nonita Respati.

Founder & Chief Creative Officer PURANA, Nonita Respati, menegaskan bahwa kolaborasi dengan seniman dari berbagai penjuru Indonesia sebagai salah satu fondasi perjalanan kreatifnya. 

Baginya, kolaborasi dengan para seniman merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan tersebut—sebuah proses untuk terus menghidupkan kekayaan warisan budaya, flora, fauna, lingkungan, serta narasi Nusantara melalui karya.

Ketika limbah menemukan kehidupan kedua

Salah satu bagian paling menarik dari Renjana Perca justru berada pada bagaimana material diperlakukan. Pada pembukaan acara, PURANA memperlihatkan demonstrasi “Waste-to-Weave”, sebuah proses yang menunjukkan bagaimana limbah botol plastik industri daur ulang dapat diolah menjadi serat yang kemudian digunakan sebagai bahan tekstil.

Proses tersebut menjadi semacam pengingat bahwa keberlanjutan dalam fesyen tidak selalu harus hadir melalui gagasan yang rumit. Ia dapat dimulai dari cara kita melihat kembali sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Material yang berakhir sebagai limbah dapat memperoleh kehidupan kedua. Dan ketika bertemu dengan desain, teknologi, serta keterampilan manusia, material tersebut berpotensi berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika dan ekonomi baru.

Di titik inilah konsep circular fashion menemukan relevansinya. Bukan sekadar mengurangi limbah, tetapi mempertanyakan kembali bagaimana sebuah material dapat terus berputar dalam siklus kehidupan yang lebih panjang. Sebuah ruang yang juga memiliki cerita. Gagasan tersebut tidak berhenti pada material tekstil.

Ruang Renjana Perca sendiri dirancang dengan prinsip serupa. Arsitektur instalasinya menggunakan 100 persen kardus daur ulang, hasil kolaborasi dengan DusDukDuk dan seniman spasial Arief Susanto. Pilihan tersebut membuat ruang pamer menjadi bagian dari narasi, bukan sekadar latar bagi koleksi.

Kardus yang biasanya hadir sebagai material pengemasan diberi fungsi baru sebagai elemen arsitektur. Dengan demikian, konsep keberlanjutan diterjemahkan tidak hanya melalui produk, tetapi juga melalui cara sebuah pengalaman kreatif dibangun.

Ambisinya sederhana namun penting: menghadirkan ruang dengan limbah seminimal mungkin sekaligus membuka kemungkinan agar praktik sirkular dapat terus diterapkan di luar ruang pamer.

Kolaborasi PURANA dengan Grand Indonesia juga memperlihatkan bagaimana ruang komersial dapat mengambil peran yang lebih luas sebagai ruang pertemuan antara publik dan kebudayaan.

Kemerdekaan yang lain: kebebasan untuk berkarya

Berada di tengah perayaan Hari Kemerdekaan membuat Renjana Perca memiliki lapisan makna lain. Bagi PURANA, kemerdekaan tidak hanya berbicara mengenai sejarah sebuah bangsa, tetapi juga tentang kesempatan bagi manusia untuk mencipta, berekspresi, dan menemukan bahasanya sendiri. Karena itu, “Kemerdekaan Berkarya” menjadi salah satu gagasan utama perayaan ini.

Kolaborasi dengan dua belas seniman memperlihatkan bagaimana kebebasan artistik dapat menghasilkan interpretasi Indonesia yang begitu beragam. Tidak ada satu wajah tunggal tentang Nusantara. Ada berbagai perspektif, pengalaman, medium, dan generasi yang semuanya dapat hidup berdampingan.

Dalam konteks tersebut, keberlanjutan pun tidak lagi sekadar persoalan lingkungan. Ia menjadi bagian dari cara menjaga agar kreativitas, pengetahuan, keterampilan, dan kebudayaan tetap memiliki ruang untuk tumbuh.

Ketika pusat perbelanjaan menjadi ruang kebudayaan

Kolaborasi PURANA dengan Grand Indonesia juga memperlihatkan bagaimana ruang komersial dapat mengambil peran yang lebih luas sebagai ruang pertemuan antara publik dan kebudayaan.

Kanina Hanindita, General Manager Marketing Communications & Operations Grand Indonesia, melihat pusat perbelanjaan bukan hanya sebagai tempat transaksi, tetapi sebagai katalis yang mempertemukan komunitas, seni, budaya, dan inovasi.

“Grand Indonesia sangat bangga dapat menjadi tuan rumah bagi gerakan kebanggaan nasional ‘PURANA 17: Renjana Perca’,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi publik untuk melihat secara langsung bagaimana warisan budaya Indonesia dapat bertemu dengan gagasan zero-waste luxury dan praktik ekonomi sirkular.

Sementara itu, dukungan dari Wardah membawa perspektif lain ke dalam perayaan tersebut. Elsa Maharani, Senior Head of Strategic Brand Growth and Influence for Halal, Teens, Emerging Beauty and Personal Care, ParagonCorp, mengatakan bahwa beauty bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang keberanian untuk bergerak, berekspresi, dan berkarya.

Persinggungan antara kecantikan dan fesyen, dalam pandangannya, terletak pada keduanya sebagai ruang ekspresi dan kreativitas. Melalui kolaborasi bersama PURANA, semangat tersebut diarahkan untuk mendukung talenta dan karya lokal agar terus berkembang sekaligus membawa cerita Indonesia lebih jauh.

Pada akhirnya, Renjana Perca berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada material sisa, dan tentang bagaimana fesyen dapat mulai memandang kemewahan melalui perspektif yang berbeda: bukan sekadar kemilau material baru, tetapi juga nilai dari proses, keterampilan, kreativitas, keberlanjutan, dan cerita yang melekat di dalamnya.

Dari perca menuju kemungkinan baru

Pada akhirnya, Renjana Perca berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada material sisa. Ia adalah cerita mengenai bagaimana sesuatu yang pernah dianggap selesai dapat diberi kesempatan kedua.

Tentang bagaimana kolaborasi selama 17 tahun dapat berubah menjadi warisan kreatif. Tentang bagaimana para seniman dari berbagai generasi dapat bertemu dalam satu ruang dan memperlihatkan beragam wajah Indonesia. Dan tentang bagaimana fesyen dapat mulai memandang kemewahan melalui perspektif yang berbeda: bukan sekadar kemilau material baru, tetapi juga nilai dari proses, keterampilan, kreativitas, keberlanjutan, dan cerita yang melekat di dalamnya.

Barangkali, itulah makna paling menarik dari perca. Ia mengingatkan kita bahwa sesuatu yang terpisah tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, serpihan-serpihan yang tersisa justru dapat disusun kembali menjadi sesuatu yang lebih utuh.

Setelah 17 tahun perjalanan PURANA, Renjana Perca pun terasa seperti sebuah pernyataan: bahwa masa depan kreativitas Indonesia mungkin tidak dibangun dari sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan dari kemampuan kita untuk melihat kembali apa yang telah ada, memberinya makna baru, lalu menciptakan masa depan dari sana. (SMS|Foto: SMS)

circular fashion Indonesiaekonomi sirkularFashion Berkelanjutanfesyen Indonesiakemerdekaan berkaryakolaborasi seni dan fashionPURANA 17 Renjana PercaPurana fashionPURANA Indonesiaseniman IndonesiaSustainable Fashion Indonesiasustainable luxuryWaste-to-Weavezero waste fashion
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

Ketika Hal-Hal Sederhana Menjadi Istimewa: Cara Baru IM3 Memaknai Kebutuhan Pelanggan

August 15, 2026
Popular categories
  • What's On279
  • Headline85
  • Fashion82
  • Business80
  • Lifestyle76
  • Health67
  • Beauty64
  • Profile18
  • Uncategorized5
  • Events3

PURANA 17: Renjana Perca, Ketika Karya Seni, Sisa Material, dan Cinta pada Indonesia Bertemu

August 15, 2026

Ketika Hal-Hal Sederhana Menjadi Istimewa: Cara Baru IM3 Memaknai Kebutuhan Pelanggan

August 15, 2026

Cove Carstens: Ketika Hunian Urban Berubah Menjadi Sebuah Gaya Hidup

August 13, 2026

The New Asha Assuncao: Ketika Sebuah Wajah Lama Menemukan Momennya

August 11, 2026

BMHS Hadirkan Bunda Parenting Convention 2026, Perkuat Peran Keluarga Dukung Tumbuh Kembang Anak di Era Modern

August 10, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

10 Atlet Voli Tercantik Dunia

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA