Skip to content
  Sunday 20 September 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

Indonesia Menuju Populasi Menua: Sudah Siapkah Kita Menghadapi Masa Tua?

September 17, 2026 Business, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

Indonesia Menuju Populasi Menua: Sudah Siapkah Kita Menghadapi Masa Tua?

Riset DBS Foundation memotret tantangan di balik transisi demografi Indonesia: keluarga yang semakin kecil, ketergantungan antargenerasi, dominasi pekerjaan informal, dan kesenjangan besar antara akses keuangan dengan kesiapan pensiun.

Ada masa ketika masa tua terasa begitu jauh. Bagi mereka yang masih berada di usia produktif, pensiun mungkin baru menjadi rencana samar di masa depan. Kebutuhan pendidikan anak, pekerjaan, kesehatan, rumah tangga, dan berbagai kebutuhan hari ini sering kali terasa jauh lebih mendesak. Namun, perubahan demografi perlahan membuat masa depan tersebut semakin dekat.

Berdasarkan riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”, proporsi penduduk berusia lanjut diproyeksikan melampaui 20 persen pada 2045. 

Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang lebih tua. Berdasarkan riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”, proporsi penduduk berusia lanjut diproyeksikan melampaui 20 persen pada 2045. Pada saat yang sama, angka kelahiran terus menurun dan struktur keluarga berubah menjadi semakin kecil.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar berapa banyak lansia yang akan hidup di Indonesia beberapa dekade mendatang.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana kita memastikan mereka dapat menjalani masa tua dengan sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera?

Ketika keluarga semakin kecil, tanggung jawab bisa semakin besar

Indonesia saat ini masih menikmati bonus demografi. Sekitar 69 persen penduduk berada pada usia produktif 15–65 tahun pada 2025. Namun, jendela tersebut perlahan menyempit seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia.

Di sisi lain, ukuran keluarga juga berubah. Total Fertility Rate (TFR) Indonesia turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045. Jumlah pernikahan juga menurun dari sekitar 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025.

Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar statistik kependudukan. Ketika jumlah anggota keluarga usia produktif semakin sedikit, semakin sedikit pula orang yang dapat berbagi tanggung jawab untuk menopang kebutuhan orang tua.

Di sinilah persoalan sandwich generation berpotensi menjadi semakin kompleks. Generasi produktif bukan hanya perlu membangun masa depan mereka sendiri, tetapi dalam banyak keluarga juga menjadi penopang bagi generasi yang lebih tua.

Lebih dari separuh lansia masih bekerja

Gambaran tentang masa tua sebagai fase ketika seseorang berhenti bekerja juga belum sepenuhnya sesuai dengan realitas Indonesia. Data BPS menunjukkan 55,32 persen lansia masih bekerja, dan 84,75 persen dari lansia yang bekerja berada di sektor informal.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Tetap bekerja pada usia lanjut tidak selalu berarti seseorang mengalami kesulitan ekonomi. Sebagian lansia mungkin memilih tetap bekerja karena ingin produktif, menjalankan usaha, atau mempertahankan aktivitas yang telah menjadi bagian dari kehidupannya. Namun, karakter pekerjaan mereka menunjukkan persoalan yang tidak bisa diabaikan.

Sektor informal cenderung memiliki pendapatan yang lebih tidak menentu dan akses perlindungan ketenagakerjaan yang lebih terbatas. BPS juga mencatat bahwa 75,21 persen pekerja lansia tergolong pekerja rentan. Artinya, tantangan Indonesia bukan hanya bagaimana membuat masyarakat hidup lebih panjang, tetapi bagaimana memastikan tambahan usia tersebut berjalan bersama kualitas hidup dan keamanan ekonomi.

Akses keuangan tinggi, kesiapan pensiun belum mengikuti

Salah satu temuan yang paling menarik dari riset ini muncul ketika akses terhadap layanan keuangan dibandingkan dengan kesiapan menghadapi masa pensiun. Pada kelompok usia produktif, inklusi keuangan sudah relatif tinggi. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti masyarakat telah memiliki perencanaan pensiun yang memadai.

Data SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi dana pensiun mencapai 27,79 persen, sedangkan tingkat inklusinya hanya 5,37 persen. Ada jarak yang cukup lebar antara mengetahui pentingnya dana pensiun dan benar-benar memiliki atau menggunakan produk dana pensiun.

Kesenjangan ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan struktur pekerjaan Indonesia. Pekerja informal dan wiraswasta memiliki pola pendapatan yang berbeda dengan pekerja formal, sehingga mekanisme persiapan pensiun yang terlalu bergantung pada skema pekerjaan formal belum tentu mudah dijangkau semua orang.

Dengan kata lain, memiliki rekening bank atau akses terhadap layanan finansial belum dengan sendirinya berarti seseorang siap menghadapi masa ketika penghasilan dari pekerjaan berhenti.

Masa tua ternyata dimulai jauh sebelum usia pensiun

Riset DBS Foundation menempatkan persoalan ini dalam perspektif life-course—bahwa kualitas kehidupan di usia lanjut sesungguhnya dibentuk jauh sebelum seseorang memasuki masa pensiun.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menekankan pentingnya melihat kebutuhan manusia dari setiap tahapan kehidupan, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif hingga usia lanjut.

Pendidikan menjadi salah satu fondasinya. Rata-rata lama sekolah generasi saat ini berada di kisaran sembilan tahun, sementara lansia saat ini rata-rata memiliki pengalaman pendidikan sekitar enam tahun. Peningkatan akses pendidikan hingga setidaknya 12 tahun dinilai berpengaruh terhadap kesempatan kerja dan kapasitas ekonomi seseorang pada masa mendatang.

Begitu pula dengan kesehatan. Menjaga kesehatan sejak usia produktif bukan hanya persoalan kualitas hidup hari ini. Kondisi kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap mandiri, bekerja, dan mengelola kehidupannya ketika memasuki usia lanjut.

Karena itu, persiapan masa tua tidak semestinya dipersempit menjadi persoalan berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Pendidikan, kesehatan, keterampilan, pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, dan kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian dari satu rangkaian yang saling berkaitan.

Pemerintah, dunia usaha, dan individu punya peran berbeda

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menekankan pentingnya melihat kebutuhan manusia dari setiap tahapan kehidupan, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif hingga usia lanjut.

“Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat,” ujarnya.

Pendekatan tersebut membuat isu ageing society tidak semata menjadi urusan kebijakan lansia. Pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, hingga layanan finansial memiliki hubungan dengan bagaimana seseorang nantinya menjalani masa tua.

Di tingkat individu, persiapan juga dapat dimulai dari langkah yang sederhana dan realistis. Melalui kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation memperkenalkan Retirement Goal Calculator yang membantu pengguna membuat proyeksi kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, serta asumsi imbal hasil investasi.

Bukan berarti sebuah kalkulator dapat menyelesaikan persoalan pensiun. Nilainya justru terletak pada kemampuannya membuat sesuatu yang selama ini terasa abstrak menjadi lebih konkret: berapa kebutuhan seseorang ketika penghasilan dari pekerjaan tidak lagi sama seperti sekarang?

Investasi masa depan tidak selalu berbentuk uang

Kesiapan menghadapi masa depan juga tidak berhenti pada kemampuan mengumpulkan dana. Pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan kapasitas untuk terus beradaptasi menjadi modal yang tidak kalah penting.

Perspektif tersebut disampaikan Cinta Laura Kiehl, Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation, yang melihat persiapan masa depan sebagai sesuatu yang perlu dibangun sejak usia produktif.

“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Namun, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kapasitas diri belum dimiliki semua orang. Karena itu, Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan leadership, communication, financial literacy, problem solving, dan career readiness agar mereka lebih siap membangun masa depan yang mereka inginkan.”

Kesiapan menghadapi masa depan juga tidak berhenti pada kemampuan mengumpulkan dana. Pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan kapasitas untuk terus beradaptasi menjadi modal yang tidak kalah penting.
Perspektif tersebut disampaikan Cinta Laura Kiehl, yang melihat persiapan masa depan sebagai sesuatu yang perlu dibangun sejak usia produktif.

 Melalui Cinta Laura Foundation, menurutnya, ia sangat mendukung mahasiswa tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi juga mengembangkan leadership, komunikasi, literasi finansial, problem solving, dan kesiapan karier.

Perspektif ini memperluas makna investasi untuk masa depan.

Menyiapkan dana pensiun memang penting. Tetapi seseorang yang memiliki kesehatan yang baik, keterampilan yang relevan, kemampuan beradaptasi, serta akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja juga memiliki modal yang lebih besar untuk mempertahankan kemandirian ketika kondisi ekonomi dan sosial berubah.

Dari persoalan ageing menjadi agenda lintas generasi

Bagi DBS Foundation, perubahan demografi juga membuka kebutuhan baru yang dapat diisi oleh dunia usaha dan Businesses for Impact, khususnya dalam layanan kesehatan dan perawatan, keamanan finansial, pembelajaran sepanjang hayat, serta keterhubungan sosial.

Sejak 2015, DBS Foundation menyebut telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 juta telah dialokasikan kepada 25 penerima dari kelompok tersebut.

Foundation juga menjalankan berbagai kolaborasi, termasuk bersama UNICEF dalam peningkatan gizi dan kualitas pembelajaran anak serta Dicoding dalam pengembangan keterampilan digital dan peluang ekonomi bagi generasi muda.

Sementara melalui Impact Beyond Award (IBA), DBS Foundation mendukung inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat menua di Asia. Empat social enterprise telah menerima total hibah SGD3 juta untuk berbagai solusi, termasuk pelatihan caregiver, teknologi yang membantu kemandirian lansia, serta pengembangan ekosistem perawatan lansia.

Menyiapkan hari tua berarti menyiapkan kehidupan hari ini

Indonesia tidak sedang menunggu ageing society datang. Perubahannya sudah berlangsung. Populasi lansia meningkat, ukuran keluarga menyusut, pekerjaan informal tetap mendominasi, sementara kesiapan pensiun belum sebanding dengan tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Rangkaian perubahan tersebut membuat persiapan masa tua menjadi agenda yang jauh lebih luas daripada sekadar menyisihkan uang setiap bulan.

Ia dimulai dari pendidikan. Berlanjut melalui pekerjaan dan keterampilan. Dijaga dengan kesehatan. Diperkuat oleh perlindungan sosial. Dan pada akhirnya membutuhkan perencanaan finansial yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Bagi generasi produktif hari ini, masa tua mungkin masih terasa jauh. Namun, kualitas masa tua sebenarnya sedang dibentuk sekarang—melalui keputusan-keputusan kecil yang kita ambil mengenai pendidikan, kesehatan, pekerjaan, gaya hidup, dan cara mengelola uang.

Karena itu, menghadapi Indonesia yang semakin menua bukan hanya tentang mempersiapkan generasi lansia. Ini tentang memastikan setiap generasi memiliki kesempatan untuk tumbuh, bekerja, hidup sehat, dan pada waktunya menua dengan bermartabat. (SMS|Foto: SMS)

ageing society Indonesiadana pensiun IndonesiaDBS FoundationIndonesia menuju populasi menuainklusi dana pensiunkesiapan pensiun Indonesiaketahanan finansialliterasi dana pensiunpekerja lansia Indonesiaperencanaan masa tuapopulasi lansia Indonesia 2045retirement planning Indonesiasandwich generation Indonesia
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

Viva Cosmetics Membuka Babak Baru: Dari Ikon Kecantikan Lokal Menuju Era “Glowing Bersamamu”

September 20, 2026
Popular categories
  • What's On328
  • Headline104
  • Lifestyle95
  • Business92
  • Fashion88
  • Health73
  • Beauty67
  • Profile18
  • Uncategorized5
  • Events3

Viva Cosmetics Membuka Babak Baru: Dari Ikon Kecantikan Lokal Menuju Era “Glowing Bersamamu”

September 20, 2026

Cosmobeauté Indonesia 2026: Ketika Industri Kecantikan Tumbuh Menjadi Sebuah Ekosistem

September 20, 2026

Di Balik Inovasi Pangan, Fi Asia Indonesia 2026 Soroti Peran Sains dan Regulasi

September 19, 2026

Fi Asia Indonesia 2026: Inovasi Bahan Pangan Menjawab Tantangan Industri

September 19, 2026

Happy Facial Room Ayu Dewi: Ruang Me Time Pribadi di Rumah

September 18, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

Viva Cosmetics Membuka Babak Baru: Dari Ikon Kecantikan Lokal Menuju Era “Glowing Bersamamu”

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA