Fi Asia Indonesia 2026: Inovasi Bahan Pangan Menjawab Tantangan Industri
Dari enzim dan pati fungsional hingga teknologi formulasi, inovasi ingredient semakin penting untuk menjaga kualitas, efisiensi, tekstur, dan daya simpan produk pangan di Asia Tenggara.
Di balik semangkuk mi instan, minuman berbasis tanaman, saus, makanan beku, hingga produk dairy, terdapat teknologi yang jarang terlihat oleh konsumen: ingredient innovation. Sebab, bahan pangan bukan hanya soal menentukan rasa. Ia juga berperan dalam tekstur, stabilitas, daya simpan, efisiensi produksi, hingga kemampuan sebuah produk bertahan selama proses distribusi dan penyimpanan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan di Fi Asia Indonesia 2026 di Jakarta. Para pemasok bahan pangan memperlihatkan bagaimana inovasi ingredient semakin diarahkan untuk menjawab kondisi nyata industri Asia Tenggara—mulai dari iklim yang panas dan lembap, rantai dingin yang belum merata, hingga tuntutan konsumen terhadap makanan yang praktis tetapi tetap memiliki kualitas dan cita rasa yang baik.
Dengan kata lain, inovasi tidak cukup hanya bekerja di laboratorium. Ia harus mampu bekerja di lantai produksi dan bertahan hingga produk sampai ke tangan konsumen.
Enzim: Inovasi Tanpa Harus Membangun Pabrik Baru
Salah satu pendekatan datang dari Novonesis, yang mengembangkan biosolutions berbasis enzim dan kultur mikroba untuk berbagai proses pangan. Menurut Adam B. V. Diggle, Head of Food and Beverage Biosolutions for Southeast Asia di Novonesis, salah satu keuntungan biosolutions adalah kemampuannya untuk diintegrasikan ke dalam lini produksi yang sudah ada.
Artinya, produsen tidak selalu membutuhkan investasi modal besar untuk mengadopsi teknologi tersebut. Namun, penggunaan enzim tetap membutuhkan ketepatan. Waktu dan temperatur menjadi faktor penting karena setiap enzim perlu bekerja pada tahapan proses yang sesuai.
Dalam minuman berbasis tanaman, misalnya, kebutuhan setiap bahan baku berbeda. Pada minuman oat, enzim dapat digunakan untuk membantu memecah komponen oat. Sementara pada minuman kedelai, teknologi dapat diarahkan untuk membantu mengurangi sedimentasi dan tekstur yang terlalu kasar.
Novonesis juga memperlihatkan solusi untuk membantu menjaga performa minuman berbasis tanaman ketika dicampurkan dengan kopi serta meningkatkan karakter foam. Perkembangan ini berjalan seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap produk yang menawarkan kenyamanan sekaligus kualitas rasa dan tekstur yang lebih baik.
Membuat Makanan Instan Terasa Lebih Segar
Kepraktisan juga menjadi tantangan tersendiri. Konsumen menginginkan makanan yang cepat disiapkan, tetapi tetap memiliki tekstur dan sensasi seperti makanan yang baru dimasak. SMS Corporation dari Thailand membawa pendekatan tersebut melalui modified tapioca starch dan waxy tapioca starch yang dapat digunakan untuk berbagai produk, mulai dari mi, saus, makanan beku, snack hingga produk daging.

Menurut Bandit Ritbamrung, Regional Sales Manager SMS, salah satu fokusnya adalah menciptakan tekstur makanan instan yang lebih mendekati produk segar. Modified starch dapat membantu menghasilkan tekstur yang lembut dan chewy, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi produsen dalam formulasi.
Yang menarik, fungsi ingredient tidak hanya berhenti pada tekstur. Tapioka memiliki karakter rasa yang relatif bersih dan netral sehingga dalam formulasi tertentu dapat membantu mengurangi kebutuhan terhadap artificial flavor.
SMS juga mengembangkan sistem modified starch untuk menggantikan sejumlah bahan dengan biaya lebih tinggi dalam aplikasi tertentu. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ingredient semakin dinilai berdasarkan fungsi dan manfaat keseluruhannya, bukan semata-mata harga bahan baku.
Menghadapi Panas dan Kelembapan Asia Tenggara
Bagi industri pangan di kawasan tropis, kondisi lingkungan juga menjadi bagian penting dari formulasi. Lactalis Ingredients menyoroti tantangan yang dihadapi dairy powder dalam kondisi panas dan lembap. Penyerapan kelembapan dapat menyebabkan powder menggumpal atau mengalami penurunan flowability, sehingga menyulitkan proses penyimpanan maupun penggunaannya.
Lactalis memperkenalkan Flowhey high-flowability whey powders, yang menggunakan controlled lactose crystallization untuk membantu mengurangi risiko tersebut. Tujuannya sederhana tetapi penting: menjaga agar bahan tetap stabil, mudah ditangani, dan memiliki performa yang konsisten hingga digunakan dalam proses produksi.
Di sinilah terlihat bahwa inovasi ingredient tidak selalu hadir dalam bentuk produk yang langsung terlihat oleh konsumen. Kadang, inovasi bekerja di balik layar untuk memastikan bahan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Menguji Produk Sebelum Masuk Produksi Besar
Sementara itu, IMCD menyoroti pentingnya fasilitas pengujian dan pengembangan yang dekat dengan pasar. Melalui application labs dan fasilitas pilot, IMCD membantu produsen menguji prototype dan formulasi dalam kondisi yang mendekati proses manufaktur sebenarnya, tetapi dalam skala yang lebih kecil.

Pendekatan ini dapat membantu produsen menemukan masalah lebih awal, sekaligus mengoptimalkan formulasi sebelum masuk ke produksi massal. Hal tersebut menjadi penting terutama untuk produk seperti fortified beverages yang mengandung serat, vitamin, atau protein. Kombinasi berbagai bahan dapat menimbulkan tantangan pada stabilitas maupun sedimentasi selama proses pemanasan dan penyimpanan.
Dengan melakukan pengujian lebih awal, produsen dapat mencari peluang untuk meningkatkan yield, shelf life, maupun efisiensi proses. Di sisi lain, pendekatan lokal juga membantu perusahaan memahami karakter rasa yang dekat dengan konsumen kawasan.
Eksplorasi seperti matcha dengan red bean atau ube dengan vanilla menjadi contoh bagaimana teknologi ingredient dapat berjalan berdampingan dengan tren rasa regional.
Menyeimbangkan Harga, Kesehatan, dan Rasa
Pada akhirnya, tantangan terbesar formulasi mungkin justru datang dari banyaknya tuntutan konsumen yang harus dijawab secara bersamaan. Produk harus terjangkau, tetapi tetap enak. Konsumen menginginkan pilihan yang lebih sehat, tetapi tidak ingin kehilangan tekstur dan kenikmatan. Produsen juga harus memperhatikan stabilitas, label, serta biaya produksi.
Ingredion melihat kebutuhan tersebut sebagai alasan pentingnya menentukan prioritas sejak awal proses pengembangan. Raymond Deidrick, Vice President and General Manager for Texture and Healthful Solutions ASEAN sekaligus Texture Solutions Food Lead APAC di Ingredion, menjelaskan bahwa kebutuhan pelanggan semakin kompleks dan perubahan berlangsung semakin cepat.

Di Indonesia, affordability menjadi salah satu pertimbangan penting, sementara produk premium dapat memberikan perhatian lebih besar pada nutrisi atau tekstur. Dengan memahami prioritas tersebut sejak awal, tim teknis dapat lebih fokus dalam melakukan berbagai percobaan formulasi hingga menemukan solusi yang sesuai dengan target harga, karakter rasa, tekstur, dan kebutuhan label.
Ingredient Innovation yang Semakin Dekat dengan Kehidupan Konsumen
Berbagai inovasi yang hadir di Fi Asia Indonesia 2026 menunjukkan bahwa masa depan industri bahan pangan bukan hanya mengenai menemukan ingredient baru. Yang semakin penting adalah bagaimana ingredient tersebut dapat bekerja dalam kondisi nyata.
Enzim harus dapat diintegrasikan ke proses produksi. Pati harus mampu menghasilkan tekstur yang diharapkan. Dairy powder harus dapat menghadapi iklim panas dan lembap. Formulasi harus mampu menjaga kualitas selama proses produksi, distribusi, dan penyimpanan.
Pada saat yang sama, semua inovasi tersebut harus menjawab kebutuhan konsumen terhadap harga, kenyamanan, rasa, kesehatan, dan kualitas. Di balik makanan yang semakin praktis dan beragam, terdapat teknologi yang bekerja untuk membuatnya tetap stabil, menarik, dan sesuai dengan ekspektasi konsumen.
Fi Asia Indonesia 2026 memperlihatkan bahwa ingredient innovation bukan lagi sekadar urusan bahan baku. Ia telah menjadi bagian penting dari bagaimana industri pangan beradaptasi dengan perubahan konsumen, teknologi, dan kondisi pasar. (SMS|Foto: Dok. Fi Asia 2026)
