Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garmernt Textile (IGT) Expo 2026 Menjahit Masa Depan Manufaktur Indonesia dari Jantung Industri
Lebih dari 200 peserta dari 14 negara berkumpul di Jakarta, membawa inovasi, teknologi, dan peluang investasi yang memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di Asia.
Transformasi industri manufaktur tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, keberlanjutan, dan kolaborasi global. Momentum inilah yang menjadi napas utama Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026, yang kembali digelar di JIExpo Kemayoran Jakarta pada 5-7 Juli 2026.

Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran internasional yang diselenggarakan Krista Exhibitions Group ini resmi dibuka oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan industri manufaktur nasional sekaligus peningkatan daya saing Indonesia di pasar global.
Tahun ini, ILF Expo dan IGT Expo menghadirkan 210 peserta, termasuk 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perusahaan dari 14 negara, yakni Indonesia, China, Italia, Uni Emirat Arab, Pakistan, Spanyol, India, Bangladesh, Jerman, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, dan Korea Selatan. Kehadiran peserta internasional tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia semakin diperhitungkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen di kawasan Asia.
Pameran menampilkan berbagai inovasi yang mencerminkan perubahan wajah industri manufaktur modern. Mulai dari produk kulit dan alas kaki, tekstil, garmen, bahan baku, aksesori, hingga mesin produksi berteknologi tinggi, sistem otomasi, dan solusi manufaktur berbasis digital yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kualitas produk.

Namun, ILF Expo dan IGT Expo tidak hanya menjadi etalase teknologi. Berbagai forum diskusi menghadirkan pembahasan mengenai transformasi digital, modernisasi proses produksi, penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, hingga penguatan rantai pasok sebagai fondasi industri yang semakin tangguh dan berkelanjutan.
Salah satu agenda penting adalah Seminar Nasional Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) bertema “Membangun Industri TPT yang Kompetitif, Berkelanjutan, dan Menjadi Pemain Utama dalam Rantai Pasok Nasional dan Internasional”. Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha untuk membahas strategi memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) melalui inovasi, peningkatan daya saing, serta pengembangan rantai pasok yang lebih kokoh.
Sementara itu, ILF–IGT Manufacturing Forum 2026 mengangkat tema “Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global”. Forum yang diselenggarakan bersama APRISINDO dengan dukungan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari revitalisasi industri padat karya, peningkatan investasi manufaktur, pemberdayaan UMKM dan industri kecil-menengah, hingga peluang ekspor melalui Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Dimensi kreatif turut mewarnai penyelenggaraan melalui The Fashion Show, yang menampilkan karya terbaru dari industri kulit, alas kaki, tekstil, dan fesyen nasional. Peragaan ini menjadi gambaran bagaimana inovasi manufaktur dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tinggi yang siap bersaing di pasar global.
Di sisi lain, Networking Cocktail Dinner yang menjadi bagian dari program Business Matching menghadirkan ruang temu antara produsen, buyer, investor, asosiasi, dan pelaku industri. Forum ini melibatkan berbagai organisasi strategis, seperti APRISINDO, APRINDO, APPMI, APKI, dan APGAI, dengan dukungan Kementerian Perindustrian serta Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Pertemuan tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi lahirnya kemitraan baru, memperluas akses pasar, sekaligus meningkatkan transaksi bisnis yang akan memperkuat ekosistem manufaktur nasional.
Melalui penyelenggaraan ILF Expo dan IGT Expo 2026, Krista Exhibitions Group menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan inovasi, investasi, dan jejaring internasional. Di tengah tantangan global yang semakin dinamis, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, asosiasi, dan mitra internasional menjadi fondasi penting dalam mempercepat adopsi teknologi, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Lebih dari sebuah pameran dagang, ILF Expo dan IGT Expo 2026 menjadi refleksi bahwa masa depan industri manufaktur Indonesia dibangun melalui perpaduan antara inovasi, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas batas. Dari Jakarta, arah baru industri nasional kembali dijahit untuk menjangkau pasar dunia. (SMS | Foto: SMS)
