Enggar Rhomadioni: Ketika Perempuan Menjadi Jalan untuk Membaca Kehidupan
Melalui Pāṭha, Enggar Rhomadioni tidak sekadar melukis figur perempuan. Ia sedang membaca kembali makna ibu, kehidupan, relasi, pengorbanan, hingga kematian—dan mempertanyakan kembali nilai-nilai yang membentuk manusia modern.
Ada sesuatu yang berbeda ketika memasuki ruang pameran tunggal Enggar Rhomadioni. Di atas kanvas, hadir figur perempuan, tubuh, kerang, fragmen, serta bentuk-bentuk surealis yang seolah mengundang imajinasi untuk bergerak ke berbagai arah. Namun semakin lama memandangnya, semakin terasa bahwa lukisan-lukisan tersebut tidak sedang berbicara semata-mata tentang rupa.

Di balik figur perempuan itu, Enggar sedang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya makna perempuan, ibu, kehidupan, relasi, pengorbanan, dan kematian?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin personal setelah pengalaman kehilangan ibunya.
Dalam Pāṭha, pameran tunggal terbarunya di ara contemporary, Jakarta, 15 Agustus–13 September 2026, Enggar membawa penonton memasuki sebuah perjalanan reflektif mengenai feminitas—sebuah perjalanan yang berangkat dari pengalaman pribadi, tetapi perlahan berkembang menjadi perenungan tentang manusia dan kehidupan.
Dari Ksatria Jawa Paripurna menuju makna perempuan
Perjalanan ini memiliki akar pada karya-karya Enggar sebelumnya, khususnya eksplorasinya terhadap konsep Ksatria Jawa Paripurna. Di dalam gagasan tersebut terdapat konsep wanodya, yang pada awalnya dipahami Enggar melalui relasi yang lebih dekat dengan sosok istri atau perempuan sebagai pendamping dalam kehidupan laki-laki. Namun pengalaman hidup kemudian mengubah cara pandangnya.
Kematian sang ibu membuatnya kembali bertanya tentang perempuan. Ia mulai melihat bahwa makna “wanita” jauh lebih luas daripada sekadar “istri”. Perempuan tidak hanya hadir sebagai pasangan dalam relasi domestik. Ia dapat menjadi representasi kehidupan itu sendiri—sebuah ruang tempat manusia dilahirkan, dirawat, dicintai, sekaligus belajar mengenal kehilangan. Dari sinilah pemikiran Enggar bergerak menuju gagasan tentang asah, asih, dan asuh.
“Aku melihat seperti itu kok terlalu maskulin. Laki yang harus memiliki apa pun. Di sini aku menyodorkan dari sisi feminin, yang memiliki nilai asah-asih dan asuh…,” ujar Enggar. Kalimat tersebut menjadi salah satu kunci untuk membaca Pāṭha.
Feminitas sebagai cara membaca peradaban
Enggar melihat kehidupan modern sebagai ruang yang semakin dipenuhi kompetisi, pencapaian, kepemilikan, dan dorongan untuk membangun “monumen” personal. Manusia didorong untuk memiliki lebih banyak, mencapai lebih tinggi, dan membuktikan keberhasilan.

Di tengah dorongan tersebut, Enggar justru mengajukan perspektif yang berbeda: nilai-nilai feminin yang merawat, mengasuh, memberi, dan menghidupi. Karena itu, perempuan dalam karya-karyanya tidak ditempatkan semata sebagai objek visual.
Perempuan justru menjadi subjek pemikiran. Figur ibu menjadi sangat penting. Bagi Enggar, ibu bukan sekadar sosok biologis, melainkan representasi dari kualitas kehidupan yang memberikan ruang bagi manusia untuk tumbuh. Dalam pengertian ini, feminitas menjadi lebih dari persoalan gender. Ia berubah menjadi sebuah cara untuk membaca peradaban.
Apa yang terjadi ketika manusia terlalu sibuk mengejar pencapaian, tetapi semakin jauh dari kemampuan untuk merawat? Apa yang terjadi ketika memiliki menjadi lebih penting daripada memberi? Dan apa yang hilang ketika kehidupan hanya diukur melalui keberhasilan personal? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang secara diam-diam berkelindan di balik lukisan Enggar.
Tiga alam: rahim, relasi, dan kematian
Salah satu cara menarik untuk membaca karya Enggar adalah melalui tiga wilayah eksistensial yang terus muncul dalam pemikirannya: alam rahim, alam relasi antarmanusia, dan alam kematian.

Rahim adalah awal kehidupan. Relasi adalah ruang tempat manusia bertemu, mencintai, memberi, menerima, sekaligus mengalami luka. Sementara kematian adalah batas yang pada akhirnya tidak dapat dihindari. Ketiganya membentuk perjalanan manusia.
Karena itu, ketika kerang, tubuh, fragmen, rahim, atau figur perempuan muncul dalam lukisan Enggar, objek-objek tersebut tidak harus dibaca secara harfiah. Masing-masing membuka kemungkinan makna yang berbeda.
Enggar memang sengaja tidak mengunci tafsir.
“Aku membuka segala tafsir yang masuk,” katanya lugas.
Sikap ini membuat lukisannya menjadi ruang pertemuan antara gagasan seniman dan pengalaman penonton. Satu lukisan mungkin berbicara tentang ibu bagi seseorang. Tentang kehilangan bagi orang lain. Tentang tubuh, kelahiran, relasi, atau kematian bagi penonton lainnya.
Makna tidak sepenuhnya berada di tangan seniman. Ia juga lahir dari mata yang melihat. Tula Rasi Prabhasini dan gagasan tentang keseimbangan.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Tula Rasi Prabhasini, yang oleh Enggar dijelaskan sebagai “anak cantikku yang seimbang”. Tula Rasi merujuk pada Libra—simbol timbangan yang erat dengan gagasan keseimbangan. Namun keseimbangan dalam karya tersebut bukan sekadar persoalan komposisi visual.
Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: keseimbangan antara rasa sakit altruistik dan maskulinitas, antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain, serta antara sisi feminin dan maskulin dalam diri manusia. Figur perempuan di dalamnya karenanya tidak hadir sebagai sosok pasif.
Ia menjadi medan pertemuan berbagai kontradiksi: kelembutan dan rasa sakit, pengorbanan dan kekuatan, feminin dan maskulin. Dua sisi tersebut tidak harus selalu dipertentangkan. Mungkin justru manusia menjadi utuh ketika keduanya mampu hidup berdampingan.
Picasso dan pentingnya cara berpikir
Menariknya, ketika berbicara mengenai Pablo Picasso, Enggar tidak terutama tertarik pada bentuk visual yang dihasilkan sang maestro. Ia lebih tertarik pada cara Picasso berpikir. Bagi Enggar, kekuatan seni tidak hanya berada pada apa yang terlihat, tetapi pada gagasan yang melahirkan sesuatu yang terlihat itu.
Karena itu, figur perempuan, tubuh, kerang, rahim, fragmen, dan berbagai bentuk surealis dalam lukisannya bukan sekadar elemen dekoratif. Mereka adalah bahasa. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang dilukis Enggar?” Melainkan: “Apa yang sedang dipikirkan Enggar melalui apa yang ia lukis?”
Ketika surealisme memberikan kebebasan
Secara artistik, perjalanan Enggar juga bergerak dari kecenderungan realisme menuju bahasa visual yang semakin sureal. Pada awalnya ia merasa dekat dengan realisme. Namun, tuntutan untuk menghadirkan sesuatu secara persis membuatnya merasa ada batas yang sulit ditembus.

Surealisme menawarkan ruang yang berbeda. Di dalamnya, fragmen dapat bertemu tubuh. Kenyataan dapat berkelindan dengan imajinasi. Bentuk dapat berubah menjadi simbol. Namun Enggar sendiri tidak ingin terlalu terikat pada label gaya. Ia bahkan mempertanyakan kembali relevansi kategori seperti surealisme dan impresionisme dalam seni kontemporer.
“Apakah gaya surealis, impresionis itu masih relevan sampai hari ini?”
Pertanyaan itu memperlihatkan posisi Enggar: gaya bukan tujuan akhir. Gagasanlah yang menjadi pusat.
Lukisan yang tidak hanya dirancang untuk dilihat
Menariknya, Enggar tidak berhenti pada penciptaan lukisan. Ia juga memikirkan bagaimana penonton akan mengalami keseluruhan pameran. Ia membuat maket, memikirkan tata letak karya, pencahayaan, hubungan antara lukisan dengan dinding, hingga bagaimana satu karya berkomunikasi dengan karya lainnya. Dengan demikian, ruang pameran menjadi bagian dari pengalaman artistik.
Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan lukisan sebagai objek yang berdiri sendiri. Mereka memasuki sebuah dunia yang telah dirancang Enggar—dengan ritme, hubungan, jeda, dan kemungkinan tafsirnya. Seniman membangun dunia. Penonton kemudian masuk ke dalamnya dengan membawa pengalaman masing-masing.
Dari kecelakaan menuju keputusan menjadi seniman
Perjalanan Enggar sebagai seniman profesional juga memiliki sebuah titik balik yang sangat personal. Ia mulai mengenal dunia menggambar sejak SMP dan kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah menyelesaikan studi pada 2017, ia sempat bekerja sebagai muralis. Namun pada tahun yang sama, sebuah kecelakaan mengubah arah hidupnya.
Enggar jatuh dari ketinggian sekitar tujuh meter dan mengalami patah tulang pada tangan kirinya. Masa pemulihan selama kurang lebih enam bulan kemudian menjadi periode refleksi. Ia berada di persimpangan: meneruskan jalan sebagai pendidik seni atau memilih menjadi seniman profesional. Ia memilih yang kedua.
Pada 2018, Enggar memutuskan untuk sepenuhnya menekuni dunia profesional sebagai pelukis. Pengalaman tentang tubuh, keterbatasan, pemulihan, kehilangan, dan perubahan hidup tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap manusia.
Melukis perempuan untuk memahami kehidupan
Pada akhirnya, Pāṭha bukan semata-mata pameran tentang perempuan. Enggar melukis perempuan untuk berbicara tentang kehidupan. Ia menghadirkan ibu untuk berbicara tentang asal-usul dan kehilangan. Ia menghadirkan tubuh untuk berbicara tentang eksistensi. Ia menggunakan simbol untuk membuka pertanyaan mengenai relasi. Ia menghadirkan kematian sebagai bagian dari perjalanan manusia. Dan di tengah dunia yang menurutnya semakin kompetitif dan maskulin, ia memilih kembali kepada nilai-nilai yang bersumber dari feminitas: mengasah, mengasihi, dan mengasuh.

Mungkin itulah yang membuat lukisan-lukisan Enggar terasa lebih dalam setelah dilihat untuk kedua kalinya. Kita datang untuk melihat figur perempuan. Namun pulang dengan pertanyaan tentang diri sendiri. Ketika manusia begitu sibuk membangun pencapaian, kepemilikan, dan “monumen” personal, apa sebenarnya yang sedang kita rawat?
Pertanyaan itu tidak dijawab Enggar.
Dan mungkin memang tidak perlu. Sebab seperti makna Pāṭha—sebuah pengulangan sekaligus sebuah jalan—pemahaman tidak selalu hadir sebagai tujuan akhir. Kadang ia tumbuh perlahan, melalui kehilangan, ingatan, pengalaman, dan keberanian untuk terus membaca.
Enggar Rhomadioni tidak sedang mengatakan kepada kita apa arti perempuan. Ia sedang mengajak kita melihat kembali bagaimana perempuan, dan nilai-nilai feminin yang menyertainya, dapat membantu manusia memahami kehidupan. (SMS|Foto: SMS)
