À la Rencontre de la Beauté: Menyusuri Harsa, Laboratorium Kebahagiaan LAKON Indonesia
Dari batik tulis hingga bordir dua sisi di atas organza, LAKON Indonesia mengajak kita melihat lebih dekat bagaimana craftsmanship Indonesia diterjemahkan menjadi mode kontemporer—ringan, elegan, berani, sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Quoi que vous fassiez, pour le travail ou le plaisir, faites-le avec passion! Vivez avec passion” (Apa pun yang dilakukan, untuk pekerjaan maupun kesenangan, lakukanlah dengan penuh passion. Hiduplah dengan passion). — Christian Dior
Barangkali kalimat Christian Dior tersebut menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami Harsa, koleksi terbaru LAKON Indonesia yang dipresentasikan sebagai penutup rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Kamis 29 Juli 2026.

Namun, Harsa bukan sekadar tentang pakaian. Ia adalah cerita tentang perjalanan. Tentang delapan tahun membangun hubungan dengan para perajin batik dan wastra Nusantara. Tentang eksperimen yang tidak selalu berhasil. Tentang kain yang harus diuji berkali-kali, bordir yang menuntut presisi, serta ribuan payet yang harus dijahit satu per satu. Dan, pada akhirnya, tentang kebahagiaan yang justru ditemukan di sepanjang proses.
Sebuah Perjalanan Dimulai
JF3 Fashion Festival 2026 dengan tema “Recrafted: Shaping the Future” mempertemukan berbagai gagasan tentang masa depan mode: warisan budaya, craftsmanship, identitas, teknologi, hingga kolaborasi. Di tengah keragaman tersebut, LAKON Indonesia menutup festival dengan sebuah pernyataan yang terasa personal. Harsa, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan bermakna kebahagiaan, menjadi babak baru perjalanan kreatif LAKON setelah sebelumnya menghadirkan Urub dan Pasar Malam.
Jika pada tahun sebelumnya eksplorasi lebih banyak bergerak di wilayah streetwear, kali ini LAKON kembali menempatkan ready-to-wear dan minimal ready-to-wear sebagai pusat perhatian. Tetapi ada sesuatu yang membuat Harsa terasa berbeda. Koleksi ini tidak hanya ingin memperlihatkan hasil akhir. Ia justru mengajak kita melihat apa yang terjadi sebelum sebuah busana menjadi pakaian.
Karena itu, setelah runway, awak media mendapat kesempatan untuk melihat Harsa lebih dekat melalui sesi Re-See di Teras LAKON, Summarecon Serpong. Bukan sekadar memandang busana dari kejauhan, melainkan mendekati detailnya, mengamati material, menyentuh permukaannya, dan memahami bagaimana setiap teknik dikembangkan. Seolah-olah kita sedang membuka halaman belakang sebuah buku yang biasanya tidak pernah terlihat.
Memasuki Dunia di Balik Koleksi
Di ruang presentasi, perhatian segera tertuju pada beragam material sehari-hari dan siluet yang tampak ringan.

Batik hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang dikerjakan di atas katun voal, katun primis hingga material lainnya. Motif parang dengan dasar batik Madura menjadi salah satu eksplorasi yang menarik perhatian. Dan satu hal ditegaskan LAKON: batik yang ditampilkan adalah batik tulis, bukan hasil cetak.
Di sisi lain, material organza menghadirkan karakter yang sama sekali berbeda. Transparan, ringan, tetapi memiliki struktur yang tegas. Pada tangan LAKON, material yang selama bertahun-tahun lebih sering diasosiasikan dengan busana perempuan itu justru dibawa ke wilayah yang lebih bebas, termasuk melalui pendekatan unisex.
“Sekitar sepuluh tahun lalu, pakaian berbahan organza masih identik dengan busana perempuan. Sangat jarang saya melihat laki-laki mengenakan material seperti ini,” ujar Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia sekaligus Co-Initiator PINTU.
Bagi Thresia, organza justru menarik karena karakternya mampu menciptakan struktur dan siluet yang khas. Ia dapat menjadi lembut sekaligus tegas—transparan tetapi memiliki kehadiran visual yang kuat. Dan di situlah Harsa mulai berbicara dalam bahasa mode yang lebih kontemporer.
Kemewahan yang Tidak Berteriak
LAKON tidak memilih kemewahan yang demonstratif. Sebaliknya, koleksi ini bergerak melalui siluet yang lebih lembut, ringan dan elegan, dari daily wear hingga daily wear deluxe.

Batik dan bordir karya tangan diterjemahkan melalui permainan proporsi, konstruksi dan material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, jacquard hingga organza. Hasilnya adalah busana yang tidak terasa seperti artefak tradisional yang dipindahkan begitu saja ke atas runway. Ia terasa hidup. Modern. Dan yang terpenting, masih dapat dibayangkan hadir dalam kehidupan sehari-hari.
“Batik Indonesia terus berkembang. Kami ingin menunjukkan bahwa batik tidak hanya hadir dalam bentuk yang konvensional, tetapi juga bisa menjadi medium eksplorasi desain yang modern,” kata Thresia.
Kalimat tersebut terasa sederhana. Namun ketika melihat langsung detail koleksinya, maknanya menjadi jauh lebih jelas. Tradisi tidak harus dibekukan agar tetap dihormati. Ia justru bisa berkembang ketika diberi ruang untuk bereksperimen.
Ketika Tangan Menjadi Karya Seni
Di salah satu bagian koleksi, detail bordir mengundang kita untuk berhenti lebih lama. Dari kejauhan, ia mungkin terlihat seperti ornamen yang indah. Dari dekat, ceritanya berubah. Ada ketelitian yang nyaris tidak terlihat mata.
Bordir pada material tipis seperti organza membutuhkan tingkat presisi yang tinggi. Bahkan beberapa bagian sengaja dibuat berlubang. Teknik bordir dua sisi membuat kesalahan kecil sekalipun dapat mengganggu keseluruhan hasil.
“Orang sering berpikir membuat bordir seperti ini mudah, padahal justru sangat sulit. Setiap tahap harus melalui pemeriksaan. Setiap detail harus dipastikan rapi. Dan setiap eksperimen bisa membawa konsekuensi baru,” ujar Thresia.

Teknik bordir LAKON sendiri bukan sesuatu yang muncul dalam semalam. Pengembangannya telah dimulai sejak 2023 dan diperkenalkan melalui koleksi The Tailor Made di Teras LAKON. Kini, teknik tersebut berkembang ke tingkat yang lebih kompleks. Termasuk ketika bordir bertemu dengan organza.
Di titik ini, craftsmanship tidak lagi sekadar teknik produksi. Ia berubah menjadi bagian dari bahasa desain.
Dua Bulan untuk Satu Busana
Ada satu karya yang mungkin membuat kita memahami nilai sebenarnya dari sebuah busana buatan tangan. Untuk sebuah busana dengan teknik full hand-beading, proses pengerjaannya dapat memakan waktu sekitar dua bulan.
Ribuan payet dijahit satu per satu oleh para perajin. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada tombol fast forward. Dan karena tingkat kerumitan tersebut, busana ini dibuat melalui sistem made-to-order. Semakin rapat detail beads yang dikerjakan dengan tangan, semakin panjang pula waktu pengerjaannya—dan tentu semakin tinggi biaya produksinya.
Tetapi justru di situlah LAKON ingin mengembalikan perhatian kita kepada sesuatu yang sering hilang dalam industri mode modern: waktu!
Sebuah pakaian tidak selalu harus cepat selesai. Ada karya yang memang membutuhkan waktu agar kualitasnya menemukan bentuk terbaik.
Kegagalan Sebagai Vagian dari Perjalanan
Harsa juga mengajarkan bahwa proses kreatif tidak selalu berjalan lurus. Ada eksperimen yang berhasil. Ada pula yang gagal. Namun bagi Thresia, kegagalan bukan akhir dari proses. Ia menjadi informasi baru yang membawa tim menuju kemungkinan berikutnya.
Inilah yang membuat Teras LAKON memiliki posisi penting dalam perjalanan kreatif mereka. Tempat tersebut berfungsi seperti sebuah laboratorium inovasi—ruang untuk menguji teknik, material dan konstruksi sebelum semuanya diterjemahkan menjadi produk yang lebih siap dipasarkan.
Sebagian karya yang ditampilkan dalam sesi Re-See memang merupakan ready-to-wear. Namun sebagian lainnya sengaja dibuat lebih eksperimental. Bukan untuk langsung masuk toko. Melainkan untuk menunjukkan sejauh mana teknik LAKON telah berkembang.
“Semua hasil pengembangan ini nantinya akan menjadi arsip yang dapat terus dikembangkan menjadi produk ready-to-wear ketika waktunya tepat,” jelas Thresia.
Dengan cara tersebut, eksperimen tidak pernah benar-benar sia-sia. Ia menjadi arsip. Menjadi pengetahuan. Hingga kelak, mungkin berubah menjadi sebuah koleksi baru.

Craftsmanship yang Lebih Inklusif
Ada satu filosofi lain yang membuat perjalanan LAKON menarik. Kualitas artisan work selama ini sering diasosiasikan dengan produk kelas atas. Detail tangan yang sangat rumit, pengerjaan panjang, dan material khusus biasanya membuat sebuah busana berada di segmen harga tertentu.
LAKON ingin menantang anggapan tersebut.
Menurut Thresia, sejak awal berdiri, LAKON berusaha mempertahankan kualitas eksekusi yang prima—mulai dari batik, bordir hingga berbagai teknik karya tangan—namun tetap berusaha menghadirkannya dalam jangkauan pasar menengah.
Pertanyaan mengenai hal itu bahkan muncul ketika Thresia menerima tamu dari Prancis. Mereka melihat koleksi LAKON dan mempertanyakan bagaimana sebuah brand yang menyasar pasar menengah dapat menghasilkan kualitas eksekusi setinggi itu. Jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan perjalanan panjang: investasi pada riset, eksperimen dan pengembangan teknik. Kualitas tersebut bukan hasil kebetulan. Ia dibangun sedikit demi sedikit.
Menariknya, eksplorasi LAKON tidak berhenti pada pakaian sehari-hari. Kini LAKON juga mulai menerima pembuatan wedding gown. Meski demikian, Thresia tidak melihat gaun pengantin sebagai ruang yang harus selalu tunduk pada pakem putih. “Bagi saya, kebebasan adalah ketika kita memiliki banyak pilihan,” katanya.
Maka warna, tekstur dan siluet dapat menjadi ruang bagi calon pengantin untuk mengekspresikan karakter personal mereka. Begitu pula dengan koleksi sehari-hari. Melalui permainan styling, sejumlah busana dapat dipadukan lintas gaya, bahkan mempertemukan elemen busana laki-laki dan perempuan.

Di sinilah Harsa terasa semakin relevan. Ia tidak memaksa seseorang untuk menjadi bagian dari sebuah gaya. Ia justru memberikan kemungkinan.
Harsa: Kebahagiaan yang Tidak Selalu Terdengar Riang
Ada satu detail menarik dari presentasi Harsa yang mungkin luput jika kita hanya melihat koleksinya. Musik yang digunakan dalam acara fashion show merupakan karya Sujiwo Tejo. Bagi sebagian orang yang tidak memahami liriknya, nuansa musik tersebut mungkin terasa sendu.
Kontras dengan koleksi Harsa yang penuh warna. Namun justru di situlah pesannya. Menurut Thresia, lagu tersebut sebenarnya berbicara tentang perjalanan manusia. Bukan tentang kesedihan. Dan bisa jadi, mungkin saja, itulah cara LAKON memahami kebahagiaan.
Kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk tawa. Tidak selalu berwarna cerah. Kadang ia muncul setelah melewati perjalanan panjang, kegagalan, keraguan dan pekerjaan yang teramat melelahkan. Kebahagiaan adalah ketika kita menyadari bahwa semua proses itu memiliki arti.
Le bonheur est dans le processus. Pada akhirnya, Harsa tidak lagi hanya berbicara tentang hasil akhir. Ia berbicara tentang proses. Tentang delapan tahun perjalanan LAKON Indonesia bersama para artisan batik dan wastra Nusantara. Tentang bagaimana teknik dikembangkan, diuji, disempurnakan dan disimpan sebagai pengetahuan untuk masa depan.
“Kebahagiaan tidak hanya datang ketika sebuah karya selesai,” kata Thresia. “Kebahagiaan justru hadir dalam setiap proses yang dijalani—ketika berdiskusi, bereksperimen, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga melihat hasilnya terus berkembang.”

Mungkin karena itu Harsa terasa lebih dari sekadar koleksi penutup sebuah festival. Ia seperti sebuah catatan kecil tentang bagaimana masa depan fashion Indonesia seharusnya dibangun. Bukan dengan terburu-buru. Bukan dengan meninggalkan tradisi demi terlihat modern. Dan bukan pula dengan menjadikan craftsmanship sekadar ornamen. Melainkan dengan memberi waktu kepada tangan untuk bekerja, memberi ruang kepada eksperimen untuk gagal, dan memberi kesempatan kepada tradisi untuk menemukan bentuk baru.
Ketika kita berjalan meninggalkan ruang Re-See dan kembali melihat keseluruhan koleksi, busana-busana itu seolah berubah makna. Organza bukan lagi sekadar kain transparan. Batik bukan lagi sekadar motif. Bordir bukan sekadar dekorasi. Dan payet bukan sekadar kilau. Di balik semuanya ada tangan, waktu, kesabaran dan keberanian untuk terus mencoba.
Harsa, pada akhirnya, adalah tentang menemukan kebahagiaan di tempat yang mungkin paling sering kita lupakan: di dalam proses itu sendiri. Dan mungkin, seperti pesan Dior yang menjadi pembuka perjalanan ini, fashion memang paling indah ketika ia dikerjakan dengan passion—dengan penuh cinta, dengan kesungguhan, dan dengan keyakinan bahwa setiap karya yang lahir dari tangan manusia selalu memiliki cerita untuk ditinggalkan. (SMS|Foto: SMS)
