Skip to content
  Monday 24 August 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

Seni sebagai Bahasa Perdamaian: Guntur Wibowo, Koelo Maryam, dan La Ode Membaca Masa Depan di Era AI

August 24, 2026 Lifestyle, Art & Culture, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

Seni sebagai Bahasa Perdamaian: Guntur Wib, Koelo Maryam, dan La Ode Membaca Masa Depan di Era AI

Ketika teknologi mampu menciptakan gambar dalam hitungan detik, apa yang masih membuat karya manusia istimewa?

Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam Artist Talk kedua SBY Art Community (SAC) yang berlangsung pada 22 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menghadirkan tiga seniman muda—Koelo Maryam, Guntur Wibowo, dan La Ode Umar Arsuria—dengan Gie Sanjaya sebagai moderator sekaligus kurator, diskusi tersebut menjadi ruang untuk membicarakan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar teknik melukis.

Tiga seniman muda—Koelo Maryam, Guntur Wibowo, dan La Ode Umar Arsuria—dengan Gie Sanjaya sebagai moderator sekaligus kurator dalam Artist Talk kedua SBY Art Community (SAC) yang berlangsung pada 22 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Berbicara tentang keresahan terhadap dunia, harapan akan perdamaian, kolaborasi lintas generasi, hingga pertanyaan mengenai posisi manusia ketika Artificial Intelligence (AI) semakin masuk ke dalam proses kreatif.

Artist Talk ini merupakan bagian dari rangkaian pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration, pameran kedua SAC yang digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-499 DKI Jakarta, dan berlangsung hingga 30 Agustus 2026.

Dari Keresahan Menjadi Sebuah Kanvas

Gagasan pameran tahun ini berangkat dari keresahan terhadap situasi perdamaian global. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang merupakan pendiri SBY Art Community, kemudian menantang sekitar 20 anggota komunitas untuk menuangkan keresahan sekaligus harapan mereka terhadap perdamaian ke dalam satu kanvas melalui proses kolaborasi.

Bagi Guntur Wibowo, gagasan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah tema. Ia kemudian diterjemahkan melalui proses kreatif yang melibatkan seniman dari berbagai latar belakang dan institusi.

“Dari ide gagasan Pak SBY, lalu kita ilustrasikan dengan media gambar yang kita diskusikan dari empat institusi dari Jakarta, Bandung, Solo, dan Jogja, termasuk seniman independen,” tutur Guntur, yang juga merupakan bagian dari tim pelaksana pameran.

Lukisan karya Guntur Wibowo yang prosesnya dimulai dari pertukaran gagasan.

Prosesnya dimulai dari pertukaran gagasan. Berbagai ide muncul, kemudian dituangkan menjadi sketsa sebelum berkembang menjadi karya kolaboratif. Yang menarik, proses tersebut juga membuka ruang bagi teknologi baru. AI digunakan sebagai bagian dari proses pencarian dan pengembangan gagasan tentang perdamaian. Namun, teknologi tidak mengambil alih seluruh proses penciptaan. Dan di situlah percakapan tentang AI menjadi semakin menarik.

AI Boleh Membantu, Tetapi Tangan Manusia Tetap Berbicara

Bagi Gie Sanjaya, perkembangan teknologi dalam dunia visual tidak mungkin dihindari. Menurut kurator tersebut, AI dapat digunakan terutama pada tahap awal, misalnya dalam proses mind mapping untuk membantu mengembangkan gagasan. Namun setelah konsep ditemukan, proses artistik tetap kembali kepada manusia. Ada tinta yang harus digoreskan. Ada warna yang harus dicampur. Ada keputusan artistik yang harus dibuat. Dan ada pengalaman personal yang tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin.

“Teknologi berkembang cepat di semua sektor, termasuk di dunia visual artistik,” jelas Gie. “Selanjutnya ada goresan tinta, mix colour, dan lainnya yang tetap harus dikerjakan sendiri oleh seniman,” tambahnya.

Dengan kata lain, AI dapat membantu menemukan kemungkinan, tetapi manusia tetap menentukan bagaimana kemungkinan tersebut menjadi karya. Pandangan itu sejalan dengan pemikiran Koelo Maryam dan La Ode Umar Arsuria.

Koelo Maryam: Tidak Melawan AI, tetapi Berdamai Dengannya

Bagi Koelo Maryam, perkembangan AI merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Sebagai seniman yang berlatar belakang Desain Komunikasi Visual dengan mayor ilustrasi, Maryam memahami bagaimana teknologi digital telah menjadi bagian dari proses kreatif sejak lama. Namun perjalanan artistiknya sendiri justru bermula dari sesuatu yang sangat manual.

Saat kuliah di IKJ, dari semester satu hingga semester lima, ia masih mengerjakan berbagai tugas menggunakan gouache dan akrilik di atas kertas. Setelah selesai, barulah karya tersebut dipindai. Baru setelah semester lima ia mulai menggunakan teknologi digital.

Guntur Wibowo, Koelo Maryam, dan La Ode Umar Arsuria memiliki pandangan sejalan bahwa ada pengalaman personal yang tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin.

Pengalaman berpindah dari manual ke digital membuatnya melihat perkembangan teknologi bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Tetapi dealing juga bukan berarti menyerahkan seluruh proses kreatif kepada teknologi.

“Kita tidak bisa melawan AI. Kita harus dealing dengan AI,” ujar Maryam.

Menurut Maryam lagi, seniman harus mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri sebagai pencipta. Sebab etika AI dapat menghasilkan gambar hanya melalui sebuah prompt, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apakah sebuah karya cukup hanya terlihat bagus?

Atau, apakah ia juga harus memiliki sesuatu yang lebih dalam?

La Ode: Ketika “Rasa” Menjadi Pembeda

Sementara bagi La Ode Umar Arsuria, jawabannya terletak pada satu kata: rasa. Seniman asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang menempuh pendidikan Seni Rupa Murni di IKJ ini melihat teknologi sebagai bagian dari masa depan yang tidak mungkin dilawan. Menurutnya, manusia tinggal menentukan bagaimana teknologi tersebut diposisikan: sebagai alat bantu, sebagai saingan, atau sebagai ancaman. Namun ia memilih melihat teknologi sebagai alat. Karena ada sesuatu yang menurutnya masih sulit digantikan mesin: pengalaman manusia.

AI mungkin mampu mengedit sebuah gambar hingga terlihat sangat bagus. Ia bahkan dapat membuat visual yang tampak sedih, bahagia, dramatis, atau melankolis. Tetapi bagi La Ode, ada perbedaan antara membuat sesuatu terlihat sedih dan mengalami kesedihan itu sendiri. Di situlah “rasa” menjadi penting.

Rasa lahir dari pengalaman. Dari ingatan. Dari kehilangan. Dari kebahagiaan. Dari perjalanan hidup seseorang. Dan semua itu kemudian hadir dalam goresan, pilihan warna, komposisi, bahkan dalam ketidaksempurnaan sebuah karya.

Dari Teknologi Kembali kepada Manusia

Percakapan ketiga seniman muda ini akhirnya membawa kita pada sebuah ironi menarik.

Di satu sisi, teknologi membuat proses penciptaan menjadi semakin mudah. AI mampu membantu mencari referensi, menyusun gagasan, bahkan menghasilkan visual yang sebelumnya membutuhkan waktu lama. Namun semakin canggih teknologi, semakin penting pula pertanyaan tentang apa yang membuat seni tetap manusiawi.

Dalam konteks pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration, jawabannya terasa semakin relevan. Sebab tema perdamaian sendiri bukan sesuatu yang dapat diciptakan hanya melalui formula. Perdamaian membutuhkan pengalaman manusia, empati, keberanian untuk mendengarkan, dan kemampuan memahami perbedaan. Begitu pula seni.

Pelukis Maryam membawa perspektif generasi yang tumbuh di antara seni manual dan teknologi digital.

Sebuah karya tentang perdamaian tidak hanya membutuhkan gambar yang indah. Ia membutuhkan manusia yang memiliki keresahan, harapan, dan keyakinan bahwa dunia dapat menjadi lebih baik.

Kolaborasi sebagai Masa Depan

Pada akhirnya, apa yang dilakukan SAC melalui pameran ini bukan hanya mempertemukan sejumlah seniman dalam satu ruang. Ia mempertemukan gagasan. Gagasan tentang perdamaian bertemu dengan teknologi. Generasi senior bertemu generasi muda. Seni manual bertemu dunia digital. Dan pengalaman personal bertemu dengan keresahan global.

Guntur membawa semangat komunitas Jong Merdeka—sebuah gagasan tentang kebebasan dalam berkarya. Maryam membawa perspektif generasi yang tumbuh di antara seni manual dan teknologi digital. Sementara La Ode membawa keyakinan bahwa di tengah kecanggihan teknologi, manusia masih memiliki sesuatu yang sangat sederhana sekaligus sangat berharga: rasa.

Ketiganya mungkin belum memiliki jawaban pasti tentang seperti apa masa depan seni. Tetapi justru di situlah menariknya. Sebab seni tidak selalu harus memberikan jawaban. Kadang ia hanya perlu mengajukan pertanyaan yang tepat. Ketika mesin mampu menciptakan gambar, mampukah manusia tetap menciptakan makna? Dan mungkin, selama manusia masih memiliki rasa, jawabannya akan selalu ada. (SMS|Foto: SMS)

Art for Peace and a Better Future: CollaborationArtificial Intelligence dalam seniArtist Talk SACGaleri Emiria Soenassa & Oesman EffendiGuntur WibowoJong MerdekaKoelo MaryamLa Ode Umar Arsuriapameran lukisan 2026pameran lukisan Jakartapameran seni Jakarta 2026SAC 2026SBY Art Communityseni dan AIseni sebagai bahasa perdamaianTaman Ismail Marzuki
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

LENGGOK JAKARTA: Jakarta Philharmonic Orchestra Hadirkan Musik Klasik di Taman Bendera Pusaka

August 23, 2026
Popular categories
  • What's On293
  • Headline94
  • Fashion85
  • Lifestyle85
  • Business82
  • Health67
  • Beauty65
  • Profile17
  • Uncategorized5
  • Events3

Seni sebagai Bahasa Perdamaian: Guntur Wibowo, Koelo Maryam, dan La Ode Membaca Masa Depan di Era AI

August 24, 2026

LENGGOK JAKARTA: Jakarta Philharmonic Orchestra Hadirkan Musik Klasik di Taman Bendera Pusaka

August 23, 2026

URBAN REVIVO di Senayan City Flagship Store Pertama Terbesar di Asia Tenggara

August 23, 2026

Nike Plaza Senayan: Destinasi Baru untuk Olahraga dan Gaya

August 22, 2026

UNIQLO Fall/Winter 2026: Modern City Feelings, Wardrobe yang Mengikuti Ritme Urban

August 22, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

Seni sebagai Bahasa Perdamaian: Guntur Wibowo, Koelo Maryam, dan La Ode Membaca Masa Depan di Era AI

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA