LENGGOK JAKARTA: Jakarta Philharmonic Orchestra Hadirkan Musik Klasik di Taman Bendera Pusaka
Merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-499 Kota Jakarta, Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) menghadirkan pertunjukan ensemble di ruang terbuka, memadukan lagu perjuangan, musik Betawi, karya nasional, dan klasik Barat. Dan dengan hadirnya lagu-lagu patriotik bernuansa perjuangan semakin menambah dalam rasa cinta terhadap Tanah Air.
Musik klasik tidak selalu harus hadir di dalam gedung konser. Di tengah ruang hijau kota, musik dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menyapa warga sekaligus membuka ruang baru bagi interaksi dan apresiasi seni. Inilah hiburan murah namun sangat berkelas bagi warga Jakarta khususnya.
Semangat itulah yang dibawa Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) melalui pertunjukan bertajuk “LENGGOK JAKARTA” di Taman Bendera Pusaka Jakarta, Sabtu 22 Agustus 2026. Pertunjukan dalam format ensemble ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-499 Kota Jakarta.

Mengambil tempat di ruang terbuka hijau, JPO menghadirkan 15 lagu yang terdiri atas lagu-lagu perjuangan dan nasional, medley lagu Betawi, hingga karya klasik Barat. Pertunjukan melibatkan delapan musisi, dua tenor, dan satu soprano, sehingga menghadirkan format pertunjukan yang lebih intim sekaligus dekat dengan publik.
Konsep tersebut sekaligus menjadi pengalaman baru bagi Jakarta Philharmonic Orchestra. Formasi ensemble ini untuk pertama kalinya digelar di Taman Bendera Pusaka melalui kerja sama JPO dengan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
LENGGOK JAKARTA, Merayakan Kelenturan Warga Kota
Pemilihan tema “LENGGOK JAKARTA” berangkat dari penggalan kata “lenggang lenggok”, yang menggambarkan gerak tubuh ketika berjalan atau menari ke kiri dan ke kanan. Kata “lenggok” juga memiliki makna menari dan bersuka ria.
Dalam konteks pertunjukan ini, LENGGOK JAKARTA menjadi metafora bagi karakter warga Jakarta yang lentur dalam menghadapi berbagai warna kehidupan kota. Jakarta adalah ruang pertemuan berbagai latar belakang, budaya, aktivitas, dan ekspresi—sebuah kota yang terus bergerak sekaligus terus mencari keseimbangan.
Oleh karena itu, pertunjukan JPO tidak hanya dirancang sebagai konser musik, tetapi juga sebagai perayaan kegembiraan dan energi positif warga kota. Pilihan ruang terbuka menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Musik hadir bukan sebagai pertunjukan yang berjarak, melainkan sebagai pengalaman bersama yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai kalangan.
“Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-499 Kota Jakarta menjadi bagian dari perjalanan Jakarta Philharmonic Orchestra dalam mendukung branding Jakarta sebagai kota global. Malam ini, kami menampilkan karya-karya Ismail Marzuki, Ibu Soed, Harry Sabar, serta karya klasik Antonio Vivaldi,” ujar Neneng Rahardja, salah satu founder sekaligus CEO Jakarta Philharmonic Orchestra. “Melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami akan terus menghadirkan aransemen Jakarta Philharmonic Orchestra atas lagu-lagu Jakarta, karya-karya besar musisi Indonesia, serta karya klasik Barat,” lanjutnya.

Dari Taman Kota untuk Jakarta sebagai Kota Global
Pertunjukan LENGGOK JAKARTA berlangsung di Taman Bendera Pusaka, ruang terbuka hijau seluas 5,6 hektare yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 14 Maret 2026. Taman tersebut merupakan hasil integrasi tiga taman ikonik Jakarta—Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser—yang kemudian terhubung menjadi satu kawasan hijau.
Kehadiran Taman Bendera Pusaka menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas ruang publik Jakarta. Kawasan ini tidak hanya ditujukan untuk aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi ruang bagi olahraga, piknik, komunitas, serta berbagai aktivitas warga.
Di tengah agenda Jakarta menuju kota global, keberadaan ruang terbuka hijau seperti ini memperlihatkan bahwa pembangunan kota tidak semata-mata berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kualitas hidup, interaksi sosial, kebudayaan, dan akses masyarakat terhadap ruang publik juga menjadi bagian penting dari wajah kota. Dalam konteks tersebut, kehadiran Jakarta Philharmonic Orchestra di Taman Bendera Pusaka membawa dimensi lain: mempertemukan musik orkestra dengan kehidupan publik kota.
Musik klasik yang selama ini kerap diasosiasikan dengan ruang pertunjukan formal, dalam format ini justru hadir di tengah masyarakat. Ia menjadi bagian dari lanskap kota—berdampingan dengan pepohonan, ruang rekreasi, aktivitas warga, dan denyut kehidupan Jakarta.

Merangkai Musik Indonesia dan Klasik Dunia
Repertoar yang dibawakan dalam LENGGOK JAKARTA mencerminkan upaya JPO untuk mempertemukan kekayaan musik Indonesia dengan tradisi musik klasik Barat. Karya-karya Ismail Marzuki, Ibu Soed, dan Harry Sabar hadir berdampingan dengan karya klasik Antonio Vivaldi, menciptakan jembatan antara warisan musikal Indonesia dan khazanah musik dunia.
Pilihan tersebut sekaligus menegaskan visi Jakarta Philharmonic Orchestra untuk memperkenalkan musik klasik Barat dan Indonesia dalam format orkestra kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar pertunjukan, musik menjadi medium untuk memperkenalkan identitas budaya Jakarta sekaligus menempatkannya dalam percakapan kebudayaan global. (SMS|Foto: SMS & Dok. JPO)
