Pesan Paskah 2026 Kardinal Suharyo: Dari Kegelapan Menuju Terang, Krisis Bangsa, dan Harapan Indonesia
Paskah bukan sekadar perayaan iman, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang perjalanan manusia dari kegelapan menuju terang. Dalam tradisi Kitab Suci, perjalanan ini digambarkan sebagai eksodus—keluar dari perbudakan menuju Tanah Perjanjian. Narasi ini tidak hanya relevan dalam konteks religius, tetapi juga dapat dibaca dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Sejarah Indonesia menunjukkan pola yang serupa. Dari masa penjajahan menuju kemerdekaan, bangsa ini telah melewati berbagai tonggak penting: Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi 1998. Semua itu adalah titik-titik terang dalam perjalanan panjang bangsa. Namun, seperti halnya perjalanan iman, kemerdekaan bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju cita-cita yang lebih besar—keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan yang bermartabat.

Berbagai Bentuk Kegelapan
“Meski demikian, realitas menunjukkan bahwa kita masih menghadapi berbagai bentuk “kegelapan”. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih menjadi persoalan mendasar yang melahirkan banyak dampak buruk lainnya, seperti ketidakadilan, kekerasan, kebohongan publik, serta kerusakan lingkungan. Demokrasi yang diperjuangkan sejak Reformasi pun belum sepenuhnya pulih, bahkan dalam beberapa hal tampak semakin menjauh dari harapan awal para pejuangnya,” ujar Kardinal Suharyo usai memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta (5/4/2026).
Kondisi ini tidak hanya terlihat dalam skala besar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ia melanjutkan, “Salah satu contoh nyata adalah fenomena pemborosan makanan. Nilai makanan yang terbuang di Indonesia mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang hidup dalam kekurangan. Kontras ini menunjukkan bahwa persoalan kita bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal moral dan solidaritas.”
Di sinilah konsep ekologi integral menjadi relevan. Ekologi tidak hanya berbicara tentang lingkungan hidup, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama. Ketika sebagian orang hidup berlebihan dan membuang, sementara yang lain kekurangan, maka yang terjadi bukan sekadar krisis lingkungan, tetapi juga krisis kemanusiaan. Hilangnya solidaritas menjadi akar persoalan yang lebih dalam.
“Akar masalah ini juga dapat ditelusuri pada cara manusia memahami dan menafsirkan nilai-nilai dasar, termasuk dalam Kitab Suci. Perintah untuk “menguasai bumi” sering disalahartikan sebagai legitimasi untuk mengeksploitasi alam. Padahal, jika dibaca secara utuh, manusia juga dipanggil untuk memelihara dan merawat bumi. Tafsir yang tidak lengkap ini telah melahirkan pola pikir eksploitatif yang berdampak luas hingga hari ini,” papar Kardinal Suharyo.

Mengembalikan Peran Manusia Sebagai Penatalayan
Sebagai respons terhadap hal tersebut, berkembang berbagai pendekatan baru yang menekankan pembacaan yang lebih utuh dan kontekstual, seperti ajaran sosial Gereja dan kesadaran ekologis. Upaya ini bertujuan untuk mengembalikan manusia pada perannya sebagai penatalayan, bukan penguasa yang semena-mena. Dengan demikian, relasi manusia dengan alam dan sesama dapat dipulihkan.
Ia mengatakan, “Perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Justru tindakan-tindakan kecil memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran. Mengurangi sampah plastik, mengelola limbah, menanam pohon, serta tidak membuang makanan adalah contoh sederhana yang berdampak besar jika dilakukan secara konsisten. Nilai-nilai ini bahkan dapat ditanamkan sejak dini, seperti terlihat pada anak-anak yang sudah mampu memahami bahwa membuang makanan berarti mengabaikan hak orang lain.”
Jika dikaitkan dengan kehidupan berbangsa, cita-cita Indonesia sebenarnya telah dirumuskan dengan jelas dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Nilai-nilai seperti kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, dan keadilan sosial menjadi arah yang harus terus dituju. Namun kenyataannya, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh sederhana dapat dilihat dalam budaya berlalu lintas, di mana yang kuat sering kali lebih diutamakan daripada yang lemah. Hal ini mencerminkan bahwa peradaban yang kita bangun masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan keadilan dan penghormatan terhadap sesama. Dengan kata lain, “tanah perjanjian” yang kita cita-citakan masih dalam proses menuju kenyataan.

Menyuarakan Kebenaran Memperjuangkan Keadilan
“Meski demikian, harapan tetap ada. Di tengah berbagai tantangan, masih banyak individu dan kelompok yang terus menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan. Mereka adalah “lilin-lilin kecil” yang tetap menyala di tengah kegelapan. Suara mereka, meskipun tidak selalu didengar, memiliki peran penting dalam menjaga arah perjalanan bangsa,” ungkap Kardinal Suharyo.
Pada akhirnya, semua kembali pada makna sejati cinta tanah air. Cinta ini bukan sekadar ungkapan atau simbol, melainkan tindakan nyata yang tercermin dalam integritas, kepedulian, dan tanggung jawab. Bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, moralitas, dan keberanian untuk melakukan yang benar.
Dengan demikian, perjalanan dari kegelapan menuju terang bukanlah sesuatu yang instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama. Setiap individu memiliki peran untuk membawa perubahan, sekecil apa pun itu. Karena dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, harapan akan masa depan yang lebih baik dapat terus dijaga dan diwujudkan. (ESM | Foto: ESM)
