Kembang Goeyang: Menghidupkan Kembali Memori Kuliner Indonesia di Tengah Jakarta
Dari Kembang Goela dan Meradelima hingga generasi baru, keluarga Admodirdjo membuka babak baru perjalanan kulinernya lewat comfort food Peranakan yang lebih kasual di Sarinah.
Ada makanan yang kita ingat bukan semata karena rasanya, tetapi karena kenangan yang menyertainya seperti mengingatkan kita pada masa kecil. Jajanan pasar yang dahulu dibeli sepulang sekolah. Kudapan sederhana yang hadir di meja makan keluarga. Roti bakar yang disantap pagi hari. Atau makanan kecil yang mungkin namanya kini mulai asing bagi generasi muda.

Di tengah derasnya tren kuliner modern, makanan-makanan semacam itu perlahan berisiko menjadi sekadar kenangan jika kita enggan melestarikan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, Kembang Goeyang hadir dengan semangat untuk mencegah hal tersebut terjadi.
Berlokasi di lantai GF Sarinah, Jakarta, restoran ini menjadi babak baru perjalanan kuliner keluarga Admodirdjo—keluarga yang selama puluhan tahun dikenal melalui berbagai restoran, termasuk Kembang Goela dan Meradelima. Kali ini, warisan tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang lebih kasual, fleksibel, dan dekat dengan cara makan generasi sekarang.
Bukan sekadar membuka restoran baru, Kembang Goeyang membawa gagasan yang lebih panjang: bagaimana cita rasa Indonesia dapat diwariskan tanpa kehilangan relevansinya.
Dari meja makan keluarga ke generasi berikutnya
Bagi keluarga Admodirdjo, makanan bukan hanya persoalan menu dan resep. Ia adalah bagian dari ingatan budaya. Lily Admodirdjo, sang mama telah membangun perjalanan kuliner selama puluhan tahun melalui berbagai konsep, antara lain Waroeng Kita, Meradelima, Kembang Goela, Bunga Rampai, Suasana, Kiosk 5, Serasi, Seia, Snupen, dan Palalada.
Berbagai restoran tersebut hadir dengan karakter masing-masing, tetapi memiliki benang merah yang sama: menghadirkan kekayaan kuliner Indonesia dalam pengalaman bersantap yang beragam. Latar budaya Indonesia, Tionghoa, dan Belanda yang membentuk perjalanan Lily turut memberi warna pada cara keluarga ini memandang makanan dan identitas kuliner Indonesia.
Kini, perjalanan tersebut memasuki fase baru ketika generasi kedua mulai mengambil peran. Faizal Admodirdjo hadir sebagai Chairman of the Board, sementara Carmelita Febiola M. Admodirdjo dipercaya sebagai Chief Executive Officer.
“Gaya dan penyajiannya memang kami buat berbeda. Kami juga ingin menciptakan tempat yang dapat diterima berbagai generasi, tidak terlalu mengikuti tren sesaat, tetapi tetap terasa tepat untuk saat ini,” ujar Carmelita Febiola M. Admodirdjo pada Elmediora di sela-sela pembukaan restoran Kembang Goeyang, Kamis 20 Agustus 2026, di Sarina Thamrin Jakarta.

Ketika makanan Peranakan dibuat lebih personal
Jika Meradelima dikenal dengan hidangan Chinese Peranakan dalam porsi besar yang dirancang untuk dinikmati bersama keluarga, Kembang Goeyang mengambil pendekatan berbeda. Di sini, makanan hadir dalam porsi personal.
Konsep tersebut membuat pengalaman bersantap menjadi lebih fleksibel. Pengunjung dapat datang untuk sarapan, makan siang, makan malam, atau sekadar menikmati kudapan dan secangkir kopi.
“Kalau di Meradelima gaya makannya lebih untuk makan bersama karena porsinya besar dan family oriented. Di Kembang Goeyang, kita bisa menikmati hidangan per porsi sehingga lebih fleksibel untuk berbagai momen,” jelas Faizal Admodirdjo.
Pilihan menunya pun disusun mengikuti ritme makan sehari-hari, mulai dari Tjemil-Tjemilan, Roti-Rotian, Kuah-Kuahan, Nasi-Nasian, Ulek-Ulekan, hingga Hidangan Penoetoep. Ada makanan berat, tetapi ada pula kudapan yang dapat dinikmati dengan santai.
Salah satu yang menjadi andalan adalah roti bakar bergaya rumahan, dibuat menggunakan bahan-bahan berkualitas dan tersedia dalam berbagai pilihan rasa. Sementara untuk minuman, Kembang Goeyang menghadirkan kopi khas, teh tarik, matcha, hingga es kopi susu gula aren.
Dengan demikian, restoran ini tidak terpaku pada satu waktu makan. Kembang Goeyang ingin menjadi tempat yang bisa dikunjungi sejak pagi hingga malam.
Jajanan pasar sebagai kapsul waktu
Namun, mungkin bagian paling menarik dari Kembang Goeyang justru berada pada jajanan tradisionalnya. Di antara berbagai hidangan yang lebih familiar, restoran ini menghadirkan kembali sejumlah jajanan yang lekat dengan masa kecil generasi terdahulu.
Ada jajanan yang bentuk dan namanya mungkin segera membangkitkan ingatan tentang masa sekolah atau meja makan keluarga. Bagi keluarga Admodirdjo, menghadirkan kembali makanan tersebut bukan sekadar nostalgia. Ada upaya untuk memperkenalkan kembali makanan itu kepada anak-anak dan generasi muda.
Harapannya sederhana: ketika seorang anak mencicipi jajanan yang dahulu dimakan orang tuanya, ia tidak hanya menemukan rasa baru, tetapi juga mengenal bagian dari sejarah keluarganya. Dengan cara itu, makanan menjadi semacam kapsul waktu—menyimpan cerita dari satu generasi dan membawanya menuju generasi berikutnya.
Lebih dari sekadar nostalgia
Menariknya, kecintaan terhadap jajanan tradisional tersebut juga lahir dari pengalaman keluarga Admodirdjo memperkenalkan makanan Indonesia ke dunia. Keluarga ini beberapa kali mendapat kesempatan membawa makanan Indonesia ke World Economic Forum di Davos. Dari pengalaman tersebut, mereka melihat bagaimana makanan Indonesia mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat internasional.

Pengalaman itu sekaligus melahirkan pertanyaan sederhana: jika orang dari negara lain dapat begitu menghargai kekayaan makanan Indonesia, mengapa kita sendiri tidak melakukan hal yang sama? Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat karakter bahan dalam banyak jajanan pasar Indonesia.
Tepung beras, santan, gula Jawa atau gula aren menjadi bagian dari banyak resep tradisional. Sejumlah jajanan juga secara alami tidak menggunakan gluten. Memang, makanan tradisional tetap memiliki kandungan gula. Namun, kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya memperlihatkan bahwa kuliner Indonesia memiliki kekayaan tersendiri yang selama ini mungkin dianggap biasa karena terlalu dekat dengan keseharian.
Kembang Goeyang mencoba melihat kembali kekayaan tersebut dengan perspektif baru. Peranakan yang tidak berhenti pada satu budaya. Istilah “Peranakan” di Kembang Goeyang juga memiliki pengertian yang lebih luas.
Bukan hanya Peranakan Tionghoa, tetapi pertemuan berbagai budaya yang tumbuh di Nusantara. Ada pengaruh Jawa, Manado, Tionghoa, Belanda, dan berbagai tradisi lainnya yang selama berabad-abad saling bertemu, beradaptasi, dan melahirkan karakter makanan Indonesia yang begitu beragam.
Dalam konteks tersebut, Peranakan bukan sekadar kategori kuliner. Ia adalah cerita tentang perjumpaan. Tentang bagaimana sebuah budaya menerima pengaruh dari luar, mengolahnya, kemudian menjadikannya bagian dari identitas sendiri. Semangat itulah yang ingin dibawa Kembang Goeyang ke meja makan.
Dari Sarinah, makanan Indonesia bertemu wajah Jakarta hari ini
Lokasi Kembang Goeyang di Sarinah juga terasa relevan dengan gagasan tersebut. Sarinah merupakan salah satu ruang penting bagi produk dan budaya Indonesia di pusat Jakarta. Kehadiran Kembang Goeyang di kawasan ini mempertemukan kuliner heritage dengan wajah kota yang terus bergerak.
Interiornya pun tidak dibuat terlalu formal. Nuansa Indonesia Peranakan diterjemahkan melalui atmosfer yang ringan dan playful. Warna putih dan biru menjadi dasar, kemudian diperkaya aksen merah muda, hijau, dan kuning. Sebaliknya, Kembang Goeyang ingin menjadikan warisan kuliner tersebut tetap hidup—dimakan, dibicarakan, dan dinikmati dalam keseharian. Hasilnya adalah sebuah ruang yang tidak berusaha menjadi museum makanan tradisional.
Identitas tersebut diteruskan melalui berbagai detail di meja makan, mulai dari piring, sumpit, hingga buku menu. Pengunjung dapat memilih area indoor maupun teras yang menghadap dinamika kawasan Sarinah dan Jalan M.H. Thamrin.

Ketika warisan tidak harus terasa kuno
Pada akhirnya, kekuatan Kembang Goeyang terletak pada satu gagasan sederhana: warisan tidak harus selalu disajikan dalam bentuk lama untuk tetap menjadi warisan. Ada kalanya resep yang sama membutuhkan cara penyajian baru agar dapat kembali menemukan penikmatnya.
Generasi pertama keluarga Admodirdjo membangun fondasinya melalui restoran-restoran yang telah hadir selama puluhan tahun. Kini generasi berikutnya mencoba meneruskan perjalanan tersebut dengan bahasa yang lebih kasual.
Kembang Goeyang menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Antara jajanan masa kecil dan selera generasi baru. Antara resep keluarga dan cara makan yang lebih personal. Dan mungkin, yang paling penting, antara sebuah memori dengan kesempatan untuk membuatnya tetap hidup. (SMS|Foto: SMS)
