Christopher Lehmpfuhl: Menangkap Cahaya Indonesia dari Berlin hingga Borobudur
Pelukis terkenal Jerman Christopher Lehmpfuhl membawa tradisi en plein air dan teknik impasto khasnya ke Indonesia. Dari Jakarta, Cisarua, Borobudur hingga Pacitan, ia menangkap karakter cahaya Nusantara sekaligus membangun dialog artistik antara Indonesia dan Jerman.
Ketika melihat dari dekat, lukisan karya Christopher Lehmpfuhl tampak seperti kumpulan warna. Dari jauh, ia berubah menjadi lanskap. Di Indonesia, cara melihat seperti itu seolah menemukan cahaya baru.

Permukaan kanvasnya dipenuhi lapisan cat minyak yang tebal. Warna-warna bertumpuk, sapuan tangan bergerak spontan, sementara teksturnya menonjol begitu nyata hingga lukisan terasa hampir seperti sebuah relief. Dari jarak beberapa sentimeter, mata seolah hanya menemukan serpihan warna dan material. Namun, mundurlah beberapa langkah.
Perlahan, fragmen-fragmen itu menyatu. Sebuah lanskap muncul. Pemandangan yang semula tampak seperti kumpulan warna berubah menjadi ruang, cahaya, langit, laut, pepohonan, atau sebuah kota. Bagi Lehmpfuhl, jarak bukan sekadar persoalan bagaimana sebuah lukisan dilihat. Jarak adalah bagian dari pengalaman melihat itu sendiri. Dari dekat, kita melihat warna. Dari jauh, kita menemukan gambar.
Prinsip visual inilah yang menjadi salah satu fondasi praktik seni pelukis asal Jerman tersebut. Dan ketika cara pandang itu dibawa ke Indonesia, lanskap Nusantara kemudian menjadi ruang baru untuk menguji bagaimana warna, cahaya, cuaca, dan pengalaman bekerja di atas kanvas.
Dari Berlin, Sebuah Pertemuan
Hubungan Lehmpfuhl dengan Indonesia bermula dari sebuah pertemuan di Berlin. Pada Juli 2024, Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi studio Lehmpfuhl. Ketertarikan SBY terhadap karya-karyanya kemudian berkembang menjadi percakapan yang lebih luas mengenai seni, budaya, komunikasi dan perdamaian.
Setahun setelah pertemuan tersebut, Lehmpfuhl datang ke Indonesia bersama keluarganya atas undangan SBY. Selama perjalanan, ia melukis secara langsung di sejumlah lokasi yang memiliki karakter sangat berbeda. Menyusuri sejumlah lanskap Jawa—dari Jakarta, Cisarua dan Damar Langit, hingga Borobudur dan pesisir Pacitan.

Perjalanan tersebut tidak berhenti sebagai perjalanan seorang pelukis mencari objek. Ia berkembang menjadi sebuah perjumpaan budaya. Sebuah pertemuan antara tradisi plein-air Jerman dengan lanskap Indonesia; antara cara melihat seorang seniman Eropa dengan pengalaman para pelukis Indonesia; dan, pada akhirnya, antara seni, persahabatan, serta gagasan tentang perdamaian.
Dalam perjalanan itu ia juga melukis sejumlah ikon Jakarta, termasuk Monumen Nasional dan Bundaran Hotel Indonesia. Yang menarik, hampir semua pengalaman itu dijalani melalui metode yang menjadi ciri khasnya: en plein air—melukis langsung di hadapan objek.
Jakarta memberinya lanskap metropolitan. Cisarua dan Damar Langit menawarkan pegunungan serta bentang alam yang lebih tenang. Borobudur menghadirkan warisan budaya dan pengalaman spiritual. Sementara Pacitan mempertemukannya dengan laut dan ombak Samudra Hindia.
Ketertarikan pada Impressionisme Sejak Usia Delapan Tahun
Hubungan Lehmpfuhl dengan lanskap dan cahaya sebenarnya dimulai jauh sebelum ia mengenal Indonesia. Ketika berusia sekitar delapan tahun, ia melihat sebuah pameran yang menampilkan karya para pelukis Impressionist, termasuk Claude Monet dan Camille Pissarro.
Yang menarik perhatiannya bukan semata-mata objek dalam lukisan, melainkan cara warna bekerja. Dari dekat, sebuah lukisan Impressionist dapat terlihat seperti kumpulan warna yang terpisah. Namun ketika dilihat dari jarak tertentu, warna-warna tersebut berpadu menjadi bentuk dan suasana. Pengalaman visual itu kemudian menjadi sesuatu yang terus ia eksplorasi sepanjang perjalanan artistiknya.
Lehmpfuhl juga pernah belajar kepada Klaus Fußmann, seniman Jerman yang dikenal melalui karya lanskap, still life, dan etsa. Pengalaman tersebut semakin memperkuat kedekatannya dengan lanskap sebagai subjek sekaligus ruang eksperimentasi. Namun Lehmpfuhl tidak memilih untuk sekadar meneruskan Impressionisme. Ia mengembangkan bahasa visualnya sendiri.
Cat minyak diaplikasikan dalam jumlah besar. Kuas bukan lagi satu-satunya alat. Tangannya sendiri menjadi bagian dari proses penciptaan. Jari-jari menekan, menggeser, menumpuk, dan menyebarkan cat di atas kanvas. Hasilnya adalah permukaan yang kasar, tebal, spontan, dan sangat fisik.
Melukis dengan Tangan, Menangkap Cahaya
Di antara berbagai karakter karya Lehmpfuhl, teknik impasto ekstrem mungkin menjadi salah satu yang paling mudah dikenali. Cat minyak dibiarkan hadir sebagai material. Ia tidak berusaha membuat permukaan kanvas menjadi rata dan halus. Sebaliknya, ketebalan cat justru menjadi bagian dari bahasa visualnya. Ia menggunakan cat minyak Schmincke, produk asal Jerman yang menurutnya memiliki karakter tekstur yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pada beberapa karya, lapisan cat bahkan begitu tebal sehingga permukaannya menciptakan bayangan kecilnya sendiri. Di sinilah lukisan Lehmpfuhl memiliki dua pengalaman sekaligus. Ia adalah gambar, tetapi juga objek. Ia berbicara tentang lanskap, tetapi pada saat yang sama berbicara tentang material. Ia menggambarkan cahaya, tetapi tekstur cat membuat cahaya tersebut benar-benar terasa hadir di permukaan. Dan bagi Lehmpfuhl, cahaya memang merupakan persoalan utama. “Light is my topic,” tegasnya ketika ditemui Elmediora di sela-sela persiapan pameran.
Cahaya menjadi salah satu tema sentral dalam praktik seninya. Ia memandang cahaya sebagai sesuatu yang positif, bahkan memiliki dimensi spiritual. Ada keinginannya untuk “mengembalikan cahaya ke dunia”—sebuah gagasan yang kemudian menemukan resonansinya ketika karya-karyanya ditempatkan dalam konteks Art for Peace and a Better Future.
Indonesia dan Cahaya yang Berbeda
Bagi seorang pelukis lanskap, Indonesia bukan hanya menawarkan banyak objek untuk dilukis. Indonesia menawarkan cahaya yang berbeda.

Lehmpfuhl melihat bahwa setiap tempat memiliki karakter cahaya masing-masing. Cahaya Italia berbeda dari Jerman. Cahaya Swiss memiliki karakter lain. Begitu pula Indonesia. Di negeri tropis ini, ia menemukan cahaya yang menurut pengamatannya sangat khas.
Tidak selalu keras, tetapi mampu membentuk bayangan, atmosfer, kelembapan dan kedalaman ruang dengan cara yang berbeda dari lanskap Eropa. Karena itu, tantangannya bukan sekadar melukis bagaimana Indonesia terlihat. Ia ingin menangkap bagaimana Indonesia terasa. Ada perbedaan penting di antara keduanya. Yang pertama adalah dokumentasi. Yang kedua adalah pengalaman.
Di tangan Lehmpfuhl, lanskap Indonesia kemudian diterjemahkan melalui warna dan tekstur yang tidak berusaha membuat alam terlihat persis seperti fotografi. Ia justru membiarkan pengalaman berada di antara kenyataan dan interpretasi.
Dari Berlin ke Jakarta, dari Borobudur hingga Pacitan, perjalanan Christopher Lehmpfuhl pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seorang seniman Jerman melihat Indonesia. Ia juga tentang bagaimana seni membuat dua cara melihat dunia dapat berdiri di atas kanvas yang sama—dan dari sana, menemukan cahaya yang sama. (SOE|Foto: SMS)
