Skip to content
  Saturday 31 October 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

Deden Siswanto Membaca Luka Hutan Lewat Wastra dan Ranting Pohon dalam Koleksi MYMD

October 30, 2026 Fashion, Headline, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

Deden Siswanto Membaca Luka Hutan Lewat Wastra dan Ranting Pohon dalam Koleksi MYMD

Melalui koleksi Burned Forest bersama MYMD, Deden Siswanto mempertemukan tenun bulu Garut, siluet oversized, dan ranting pinus dalam presentasi yang merefleksikan kerusakan hutan. Sebuah eksplorasi yang mempertemukan ekspresi artistik, identitas wastra, dan prinsip ready-to-wear.

Ketika hutan hanya bisa dikenang melalui apa yang tersisa darinya. Ketika pepohonan yang dahulu membentuk lanskap hijau berubah menjadi batang-batang yang menghitam, sementara asap tebal mengambil alih ruang yang semestinya menjadi milik udara bersih.

Ketika pepohonan yang dahulu membentuk lanskap hijau berubah menjadi batang-batang yang menghitam, sementara asap tebal mengambil alih ruang yang semestinya menjadi milik udara bersih itulah yang menjadi titik berangkat Deden Siswanto dalam merancang koleksi bertajuk Burned Forest. .

Gambaran tentang kerusakan alam itulah yang menjadi titik berangkat Deden Siswanto dalam merancang koleksi bertajuk Burned Forest. Melalui lini keduanya, MYMD (My Mom and Dad), desainer Indonesia tersebut menerjemahkan keprihatinannya terhadap kebakaran hutan dan pencemaran udara ke dalam bahasa fashion.

Koleksi ini diperkenalkan pada segmen penutup IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada 18 Oktober 2026. Dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), Deden menghadirkan pendekatan yang mempertemukan busana ready-to-wear, eksplorasi wastra, dan presentasi teatrikal.

Dari pada menjadikan pakaian semata sebagai objek estetika, ia membangun sebuah narasi visual melalui siluet oversized, palet warna natural, tekstur kain, hingga aksesori dari ranting pinus asli. Ada sesuatu yang kontras dalam presentasi tersebut. Potongan busana yang relatif sederhana berhadapan dengan elemen alam yang kasar dan organik. Ranting-ranting yang diikat, dipadukan dengan ornamen logam, kemudian ditempatkan sebagai bros pada sejumlah tampilan. Bukan sekadar aksesori dekoratif, melainkan representasi visual dari hutan yang kehilangan keutuhannya.

Burned Forest: Membawa Cerita Kerusakan Hutan ke Atas Panggung

Bagi Deden, koleksi Burned Forest yang berangkat dari kegelisahan melihat persoalan kebakaran hutan, asap, dan kualitas udara yang semakin mengkhawatirkan. Ia ingin menggambarkan keadaan ketika alam yang seharusnya menjadi bagian utuh dari kehidupan justru mengalami kerusakan. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui pilihan material, warna, bentuk aksesori, hingga atmosfer pertunjukan.

Gambaran alam yang seharusnya menjadi bagian utuh dari kehidupan justru mengalami kerusakan tersebut, kemudian diterjemahkan Deden melalui pilihan material, warna, bentuk aksesori, hingga atmosfer pertunjukan.

Palet beige, warna-warna natural, serta nuansa yang cenderung redup membangun kesan organik sekaligus muram. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana Deden mengolah karakter warna yang selama ini menjadi bagian dari identitas MYMD. Namun, elemen yang paling mencuri perhatian adalah ranting pinus asli yang diaplikasikan sebagai aksesori busana. Ranting tersebut diikat dan dipadukan dengan elemen logam, kemudian ditempatkan pada beberapa bagian pakaian.

Deden juga mengolah bentuk kerah tinggi yang menutup bagian leher. Awalnya, ia ingin menghadirkan gambaran seseorang yang mengenakan masker untuk melindungi diri dari udara yang tercemar. Akan tetapi, representasi tersebut dinilai terlalu harfiah sehingga kemudian diolah menjadi bentuk yang lebih menyerupai sayap.

Detail-detail itu memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan lingkungan dapat diterjemahkan menjadi elemen desain tanpa harus disampaikan secara literal. Bahkan, pilihan musik turut menjadi bagian dari narasi. Deden menggunakan Earth Song milik Michael Jackson untuk membangun atmosfer emosional yang selaras dengan cerita kerusakan alam.

“Ketika presentasi, kita membutuhkan storytelling. Jadi, cerita yang ingin disampaikan harus benar-benar sampai melalui koleksi yang ditampilkan,” ungkap Deden.

Karena baginya, sebuah fashion show tidak cukup hanya menampilkan rangkaian busana. Musik, pencahayaan, styling, dan suasana panggung perlu dirancang sebagai satu kesatuan agar penonton dapat merasakan gagasan yang ingin disampaikan desainer.

Tenun Bulu Garut, Tekstur Tradisional dalam Interpretasi Modern

Di tengah narasi kerusakan alam, eksplorasi wastra menjadi lapisan cerita lain dalam koleksi ini. Kebutuhan untuk mengangkat wastra Indonesia dalam panggung IN2MOTIONFEST menjadi salah satu pertimbangan Deden. Namun, ia menghadapi tantangan tersendiri karena kolaborasi dengan mitra wastra membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit.

Bagi Deden, sebuah fashion show tidak cukup hanya menampilkan rangkaian busana. Musik, pencahayaan, styling, dan suasana panggung perlu dirancang sebagai satu kesatuan agar penonton dapat merasakan gagasan yang ingin disampaikan desainer.

Tanpa partner kolaborasi khusus untuk kesempatan ini, ia memilih menggali kembali koleksi kain yang telah dimilikinya. Pilihannya jatuh pada tenun bulu Garut yang kemudian diolah menjadi aplikasi pada beberapa tampilan. Alih-alih menjadikan kain tradisional sebagai material utama seluruh busana, Deden menempatkannya sebagai aksen melalui bentuk obi, syal, dan detail aplikasi lainnya.

Pendekatan tersebut menghasilkan tampilan yang cenderung unfinished dan rustik. Karakter tekstur tenun bulu Garut memberikan dimensi visual yang berbeda ketika bertemu dengan siluet modern MYMD. Secara visual, tenun tersebut juga memiliki karakter geometris dengan motif yang menyerupai bentuk wajik. Kekhasan teksturnya menjadi kontras yang menarik terhadap potongan busana oversized yang lebih sederhana.

Ada pula pertimbangan komersial di balik keputusan tersebut. Deden menyadari bahwa harga sehelai wastra relatif tinggi. Jika digunakan secara dominan, biaya produksi berpotensi memengaruhi harga jual produk, terutama karena MYMD dikembangkan sebagai lini ready-to-wear dengan rentang harga yang lebih terjangkau. Oleh karena itu, penempatan wastra sebagai elemen aplikasi menjadi jalan tengah antara eksplorasi identitas tekstil Indonesia dan kebutuhan untuk mempertahankan karakter komersial koleksi.

MYMD dan Gagasan Busana Tanpa Batas Gender

Di balik presentasi yang sarat ekspresi artistik, MYMD memiliki identitas desain yang cukup jelas. Lini busana ini mengusung konsep oversized dengan karakter cenderung maskulin, tetapi dirancang agar dapat dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan.

Nama MYMD sendiri merupakan singkatan dari My Mom and Dad. Konsepnya berangkat dari gagasan sederhana tentang pakaian yang dapat digunakan bersama oleh anggota keluarga, tanpa harus terikat secara kaku pada kategori busana pria atau perempuan.

“Siapa pun bisa memakai koleksi ini. Saya bisa pakai, istri saya juga bisa. Yang penting orang tersebut cocok dengan style-nya,” jelas Deden.

Siluet longgar menjadi salah satu ciri yang dipertahankan. Selain memberikan keleluasaan bergerak, potongan oversized memungkinkan pemakainya mengeksplorasi berbagai kombinasi gaya. Menariknya, gagasan tersebut juga berangkat dari pengamatan Deden terhadap kebutuhan berpakaian sehari-hari, termasuk bagi konsumen Muslim.

Ia memperhatikan bagaimana celana yang terlalu panjang atau ketat terkadang menyulitkan aktivitas berwudu. Karena itu, beberapa rancangan MYMD menggunakan potongan celana yang lebih longgar dan sedikit menggantung agar praktis dikenakan. Dengan demikian, konsep lintas gender yang ditawarkan MYMD bukan hanya perkara estetika atau tren unisex. Ada pertimbangan fungsi dan kenyamanan yang menjadi bagian dari proses desainnya.

Ketika Fashion Show Menjadi Pertunjukan

Salah satu karakter yang membuat presentasi Deden menarik untuk diamati adalah pendekatannya yang teatrikal. Ia tidak menempatkan fashion show sekadar sebagai ruang untuk memperlihatkan pakaian kepada audiens. Baginya, sebuah koleksi membutuhkan alur cerita dan atmosfer yang mampu membawa penonton masuk ke dalam gagasan yang dibangun. Itulah sebabnya musik, tata cahaya, styling, dan aksesori mendapat perhatian khusus dalam proses kreatifnya.

Dalam pendekatan Deden, styling menjadi salah satu instrumen untuk mencapai keseimbangan tersebut. Lilitan, aksesori, dan permainan proporsi dapat menciptakan tampilan yang lebih dramatis di atas runway. Namun, ketika elemen tambahan dilepas, pakaian tetap berdiri sebagai busana yang fungsional.

Deden mengerjakan pengembangan koleksi sekaligus pengarahan artistik secara bersamaan. Seluruh proses tersebut berlangsung sekitar satu bulan, termasuk pencarian material dan penyusunan konsep pertunjukan.

“Yang paling sulit adalah bagaimana supaya tetap ready-to-wear, tetapi juga tampil berbeda. Ketika styling dilepas, bajunya harus kembali menjadi baju biasa,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan salah satu tantangan yang dihadapi desainer ketika membawa koleksi komersial ke panggung peragaan. Busana perlu memiliki daya tarik visual yang kuat, tetapi tidak kehilangan fungsi ketika kembali dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendekatan Deden, styling menjadi salah satu instrumen untuk mencapai keseimbangan tersebut. Lilitan, aksesori, dan permainan proporsi dapat menciptakan tampilan yang lebih dramatis di atas runway. Namun, ketika elemen tambahan dilepas, pakaian tetap berdiri sebagai busana yang fungsional. Ia bahkan menaruh perhatian pada detail yang kerap berada di luar konstruksi pakaian itu sendiri, termasuk pemilihan musik dan diskusi mengenai pencahayaan.

Pada momen penutup, Deden turut berjalan bersama para model. Baginya, kehadiran desainer di panggung merupakan bagian dari presentasi sekaligus penegasan bahwa koleksi tersebut merupakan representasi gagasan kreatifnya.

Palet Netral dan Filosofi Mix and Match

Identitas MYMD tidak dibangun melalui permainan warna yang mencolok. Sejak awal, Deden mempertahankan palet hitam, putih, biru, dan beige sebagai fondasi koleksinya. Pilihan warna tersebut berkaitan dengan filosofi mix and match yang menjadi salah satu prinsip desain MYMD. Ia ingin menghadirkan pakaian yang dapat dipadukan dengan berbagai item lain yang telah dimiliki konsumen, sehingga tidak harus selalu membeli satu set koleksi untuk mendapatkan tampilan yang berbeda.

Sebuah outer, misalnya, dapat dikenakan bersama berbagai pilihan atasan dan bawahan. Begitu pula celana oversized yang dapat menjadi bagian dari tampilan kasual maupun gaya yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga membuat koleksi MYMD tidak terlalu bergantung pada perubahan tren warna setiap musim. Deden lebih memilih membangun konsistensi identitas melalui siluet, proporsi, dan warna-warna yang relatif mudah dipadukan. Menariknya, prinsip tersebut juga memberikan ruang bagi elemen wastra dan aksesori ranting dalam koleksi Burned Forest untuk menjadi pusat perhatian.

Dari Runway ke Keseharian

Meski membawa konsep artistik ke panggung peragaan, MYMD tetap berorientasi pada busana yang dapat dikenakan dan dijangkau konsumen. Deden menyebutkan bahwa koleksinya dibanderol mulai dari Rp450 ribu hingga Rp1,5 juta per potong. Saat ini, produk MYMD dipasarkan secara daring melalui akun Instagram resminya dan belum memiliki situs web maupun toko fisik permanen. Ia juga membuka kemungkinan untuk mengembangkan toko fisik di Bandung pada Desember 2026.

Meski membawa konsep artistik ke panggung peragaan, MYMD tetap berorientasi pada busana yang dapat dikenakan dan dijangkau konsumen. 

Dalam perjalanannya yang telah memasuki tahun keempat, MYMD terus membangun identitas melalui potongan oversized, palet warna netral, dan desain yang fleksibel. Peluang untuk menjangkau pasar internasional pun mulai terbuka. Deden menceritakan pengalamannya mengajak seorang muse asal Turki yang pernah tampil dalam peragaan sebelumnya untuk kembali berjalan di runway. Menurutnya, terdapat ketertarikan dari pihak luar negeri terhadap karakter desain MYMD, terutama siluet oversized yang dinilai sesuai dengan preferensi sebagian konsumen di sana.

Ketertarikan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa desain yang tidak terikat pada batas gender maupun proporsi tertentu memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pada akhirnya, Burned Forest memperlihatkan dua sisi perjalanan kreatif Deden Siswanto. Di satu sisi, ia menggunakan fashion sebagai medium untuk menyuarakan keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan. Di sisi lain, ia tetap mempertahankan prinsip bahwa sebuah rancangan harus memiliki fungsi, kenyamanan, dan kemungkinan untuk dikenakan kembali di luar panggung peragaan.

Tenun bulu Garut memberikan jejak tradisi, sementara ranting pinus menjadi pengingat tentang alam yang terluka. Keduanya bertemu dalam siluet kontemporer yang menjadi karakter MYMD. Sebab, fashion tidak selalu harus berbicara melalui kemewahan material atau kompleksitas konstruksi. Terkadang, kekuatan sebuah koleksi justru terletak pada cerita yang dibawanya dan bagaimana cerita tersebut diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dikenakan. (SMS|Foto: SMS)

busana oversized unisexDeden Siswanto IN2MOTIONFEST 2026desainer Indonesiafashion ramah lingkunganIN2MOTIONFEST x JMFW 2026koleksi Burned Forestmodest fashion IndonesiaMYMD by Deden Siswantotenun bulu Garutwastra Garut
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

IMOS 2026 Perkuat Industri Sepeda Motor Nasional, 15 Merek dan 53 Industri Pendukung Siap Berpartisipasi

October 31, 2026
Popular categories
  • What's On383
  • Headline118
  • Business108
  • Lifestyle108
  • Fashion104
  • Health78
  • Beauty72
  • Profile18
  • Uncategorized5
  • Events3

IMOS 2026 Perkuat Industri Sepeda Motor Nasional, 15 Merek dan 53 Industri Pendukung Siap Berpartisipasi

October 31, 2026

Di Balik Kesibukan Memompa ASI, Ibu Juga Berhak Menikmati Waktu untuk Diri Sendiri

October 30, 2026

Deden Siswanto Membaca Luka Hutan Lewat Wastra dan Ranting Pohon dalam Koleksi MYMD

October 30, 2026

Tiga Karakter Aroma, Tiga Interpretasi Gaya: Fres & Natural Bereksplorasi di JFW 2027

October 30, 2026

PEVS 2026 Gambarkan Perkembangan Ekosistem Kendaraan Listrik, dari Mobil Penumpang hingga Solusi Bisnis

October 30, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

10 Atlet Voli Tercantik Dunia

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA