Skip to content
  Sunday 25 October 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

Dari Denim Daur Ulang hingga Sutra Tradisional, Moscow Fashion Week 2026 Membaca Arah Baru Mode Dunia

October 24, 2026 Fashion, Headline, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

Dari Denim Daur Ulang hingga Sutra Tradisional, Moscow Fashion Week 2026 Membaca Arah Baru Mode Dunia

Lebih dari 350 desainer meramaikan panggung mode Moskow pada Oktober 2026. Di antara eksplorasi material, warisan budaya, dan identitas kontemporer, ajang ini membuka percakapan penting tentang peluang desainer Indonesia di pasar internasional.

Denim yang dirangkai kembali dari potongan tak terpakai, sutra tradisional yang berkilau dalam siluet modern, hingga batik yang bertemu renda dan organza. Di panggung mode internasional, tradisi dan eksperimen tidak lagi harus berjalan di jalur yang terpisah.

Gagasan tersebut terasa dalam penyelenggaraan Moscow Fashion Week pada Oktober 2026. Selama enam hari, lebih dari 350 desainer dari berbagai negara menampilkan karya mereka, mempertemukan beragam pendekatan kreatif dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, hingga Rusia.

Lebih dari sekadar tampil di panggung peragaan, partisipasi dalam ajang semacam ini dapat membuka ruang bagi desainer untuk memperkenalkan karakter karyanya dan membangun hubungan dengan pelaku industri di luar negeri.

Di tengah persaingan industri mode yang semakin lintas batas, peragaan busana tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan koleksi terbaru. Bagi label independen dan desainer yang sedang berkembang, panggung semacam ini juga membuka kesempatan untuk mempertemukan karya dengan pembeli, media, distributor, serta pelaku industri dari berbagai pasar.

Namun, daya tariknya tidak berhenti pada siapa yang tampil atau seberapa besar perhatian yang diperoleh. Yang menarik justru bagaimana para desainer menerjemahkan warisan budaya, material, dan gagasan personal menjadi bahasa mode yang dapat dipahami audiens internasional tanpa kehilangan karakter asalnya.

Ketika Denim Bekas Menjadi Pernyataan Mode

Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah KGL, label asal India milik desainer Kanika Goyal. Dikenal melalui pendekatan desain yang berani, Goyal telah membangun reputasi di industri mode, dengan karya yang dikenakan sejumlah selebritas seperti Priyanka Chopra Jonas, Deepika Padukone, dan M.I.A. Label tersebut juga pernah berkolaborasi dengan Adidas Originals.

Di Moscow Fashion Week, Goyal memperkenalkan koleksi Arc Echo, yang mengeksplorasi denim melalui pendekatan rekonstruksi. Potongan-potongan denim yang tidak terpakai disusun kembali menjadi jaket dan celana, sementara busana rajut bermotif mozaik memperluas permainan tekstur dan komposisi.

Disamping memperlakukan material sebagai elemen pasif, pendekatan ini menjadikannya bagian dari narasi desain. Denim yang telah digunakan memperoleh kemungkinan baru melalui pemotongan, penyusunan ulang, dan pengolahan bentuk.

Adanya label independen, partisipasi dalam ajang internasional juga menawarkan kesempatan untuk menguji bagaimana identitas desain diterima di luar pasar asalnya. Goyal memandang eksposur lintas negara sebagai jalan untuk membuka peluang kolaborasi, menjangkau pasar baru, sekaligus memahami respons konsumen dari latar budaya yang berbeda. Baginya, tantangannya bukan sekadar memperluas jangkauan, melainkan mempertahankan karakter yang sejak awal membuat sebuah label memiliki identitas tersendiri.

Label milik desainer Sri Lanka, Kamil Hewavitharana, menampilkan koleksi yang mengangkat corak serupa batik, teknik yang juga memiliki tempat penting dalam tradisi tekstil Indonesia.

Corak Sri Lanka dalam Dialog dengan Siluet Modern

Jika KGL bermain dengan rekonstruksi denim, Limak by Kamil menawarkan pendekatan berbeda melalui pertemuan tradisi tekstil dan kemewahan material. Label milik desainer Sri Lanka, Kamil Hewavitharana, menampilkan koleksi yang mengangkat corak serupa batik, teknik yang juga memiliki tempat penting dalam tradisi tekstil Indonesia.

Motif tradisional yang dirancang khusus untuk koleksi tersebut dipadukan dengan sutra, renda, organza, dan jacquard. Perpaduan ini menghasilkan busana dengan siluet modern, detail yang kaya, serta sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual. Di sini, corak Sri Lanka tidak ditempatkan semata-mata sebagai ornamen yang melekat pada kain. Motif dan proses pengolahan tekstil menjadi bagian dari konstruksi visual yang membentuk karakter koleksi.

Bagi Indonesia, kemunculan corak menyerupai batik dalam presentasi label asal Sri Lanka menghadirkan perspektif menarik tentang bagaimana teknik dan tradisi tekstil di berbagai negara Asia dapat memasuki percakapan mode kontemporer. Warisan tekstil memang dapat menjadi modal kreatif yang kuat. Namun, untuk berbicara kepada pasar internasional, kekayaan tradisi perlu diterjemahkan melalui desain, kualitas pengerjaan, serta identitas merek yang konsisten. Di situlah tantangan sekaligus peluangnya: bagaimana membuat tradisi tetap berakar, tetapi tidak terkurung dalam satu cara pandang tentang masa lalu.

Sutra Tradisional China dan Cahaya Perempuan Modern

Dari Sri Lanka, perhatian beralih ke China melalui Momiwei, label yang menjalani debutnya di panggung mode internasional dalam Moscow Fashion Week dengan dukungan China Fashion Week. Label tersebut telah memiliki pelanggan dari kalangan selebritas, termasuk Fan Bingbing dan Gillian Chung. Untuk koleksi Light Sequence, Momiwei mengangkat cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern. Narasi itu diterjemahkan melalui perpaduan beludru, asetat, dan Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang dibuat secara manual dan dikenal karena karakter permukaannya yang khas.

Pertemuan material tersebut menciptakan dialog antara teknik tekstil tradisional dan gagasan perempuan kontemporer. Warisan budaya tidak sekadar menjadi referensi visual, tetapi juga medium untuk membicarakan identitas, ketahanan, dan transformasi.

Koleksi ini memperlihatkan bagaimana sebuah label dapat memanfaatkan kekhasan material lokal sebagai bagian dari cerita yang lebih luas, tanpa harus meninggalkan konteks budaya yang melahirkannya.

Dalam pasar mode global, pendekatan seperti ini menawarkan satu pelajaran penting: produk dapat menarik perhatian melalui tampilannya, tetapi cerita yang dibangun secara autentik dapat memperdalam pemahaman audiens terhadap sebuah merek.

Dari Film hingga Siluet Asimetris, Eksperimen Desainer Rusia

Eksplorasi material juga menjadi bagian dari presentasi sejumlah desainer Rusia. Ianis Chamalidy, yang pernah berpartisipasi dalam ajang showroom di China Fashion Week pada 2024, memperkenalkan koleksi Via Lucis. Salah satu pendekatan yang menonjol adalah penggunaan potongan film sebagai benang tekstil untuk menciptakan aksesori penutup kepala dan tas.

Material yang biasanya diasosiasikan dengan medium visual diolah menjadi bagian dari objek mode. Eksperimen tersebut memperluas kemungkinan penggunaan bahan sekaligus mengaburkan batas antara tekstil, aksesori, dan seni. Sementara itu, label Za_Za membawa koleksi Life Cycles ke Moskow setelah tampil di Lakmé Fashion Week, India, pada 2025.

Garis-garis yang mengalir, bentuk geometris, dan komposisi asimetris menjadi elemen visual utama koleksi tersebut. Bentuk-bentuk itu menggambarkan perpindahan dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya, menjadikan siluet sebagai medium untuk menyampaikan gagasan tentang perubahan.

Pendekatan yang lebih konseptual terlihat pula pada Ónoma melalui koleksi Incognito. Dikenal dengan gaun berbahan jaring ringan, aplikasi dekoratif, dan sulaman tali, label ini mengangkat kisah seorang perempuan yang berusaha menemukan jati dirinya di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Lapisan busana yang transparan menjadi perangkat visual untuk menggambarkan upaya menyembunyikan diri. Di balik permainan material, koleksi tersebut menyentuh persoalan yang semakin relevan dalam kehidupan modern: hubungan antara identitas pribadi dan eksistensi di ruang digital.

Pertemuan material tersebut menciptakan dialog antara teknik tekstil tradisional dan gagasan perempuan kontemporer. Warisan budaya tidak sekadar menjadi referensi visual, tetapi juga medium untuk membicarakan identitas, ketahanan, dan transformasi.

Di sisi lain, Alena Musaeva mengambil inspirasi dari cerita rakyat Rusia untuk menghadirkan kemeja, rok renda, dan gaun musim panas. Sementara itu, Edder memperkenalkan lini busana resor pertamanya, dengan setelan berpotongan longgar dan kemeja bergaya kasual.

Ragam pendekatan ini memperlihatkan bahwa tidak ada satu formula tunggal untuk membangun identitas desain. Tradisi, eksperimen material, narasi personal, dan kebutuhan konsumen dapat menjadi titik berangkat yang berbeda, selama diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang konsisten.

Moscow Fashion Week dan Peluang bagi Desainer Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan tekstil, teknik kerajinan, serta kapasitas manufaktur yang dapat menjadi modal bagi pengembangan industri mode. Batik, tenun, dan beragam teknik kriya bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber inovasi bagi desainer yang ingin membangun identitas di pasar internasional.

Tantangannya terletak pada bagaimana kekayaan tersebut diolah menjadi produk dengan karakter kuat, kualitas konsisten, dan cerita yang mampu menjangkau konsumen lintas budaya. Persoalan ini turut menjadi pembahasan dalam BRICS+ Fashion Summit yang berlangsung bersamaan dengan Moscow Fashion Week. Indonesia diwakili Rizal Tanzil Rakhman, Government Relation and Sustainability Executive di PT Pan Brothers Tbk.

Menurut Rizal, salah satu tantangan utama industri mode Indonesia adalah menerjemahkan keunikan sumber daya lokal menjadi produk dan cerita merek yang mampu menarik perhatian konsumen internasional. Ia menilai Moscow Fashion Week dapat menjadi platform untuk mempertemukan desainer Indonesia dengan pembeli internasional, media, distributor, komunitas kreatif, serta calon mitra bisnis.

Denim yang dirangkai kembali dari potongan tak terpakai, sutra tradisional yang berkilau dalam siluet modern, hingga batik yang bertemu renda dan organza. Di panggung mode internasional, tradisi dan eksperimen tidak lagi harus berjalan di jalur yang terpisah.

Namun, akses ke panggung internasional hanyalah salah satu bagian dari proses tersebut. Untuk mengubah eksposur menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan, desainer juga perlu mempersiapkan kapasitas produksi, konsistensi kualitas, strategi harga, distribusi, serta komunikasi merek yang sesuai dengan pasar tujuan. Dengan kata lain, koleksi yang kuat perlu ditopang kesiapan bisnis yang sama solidnya.

Identitas Lokal, Bahasa Mode Universal

Moscow Fashion Week Oktober 2026 memperlihatkan beragam cara desainer memaknai identitas dan menerjemahkannya ke dalam koleksi kontemporer. Ada yang mengolah kembali material lama, merayakan tekstil tradisional, bereksperimen dengan bahan tak konvensional, atau menggunakan busana untuk membicarakan perubahan identitas manusia.

Bagi label yang sedang berkembang, panggung internasional dapat menjadi ruang untuk menguji gagasan sekaligus memperluas jejaring profesional. Namun, kehadiran di sebuah peragaan tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan komersial. Hubungan dengan pembeli, kesiapan produksi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah merek.

Sementara bagi desainer Indonesia, pelajaran yang dapat ditarik bukanlah meniru estetika yang sedang berkembang di luar negeri, melainkan menemukan cara untuk membuat kekayaan lokal berbicara dalam bahasa mode yang relevan bagi audiens global. Sebab, tradisi tidak harus dibekukan menjadi simbol masa lalu. Di tangan desainer yang tepat, ia dapat menjadi bahan baku bagi gagasan baru—sesuatu yang berakar pada identitas, tetapi tetap terbuka terhadap perubahan zaman. (VLA|Foto: Dok. MFW 2026)

BRICS+ Fashion Summitdenim daur ulangdesainer Asi Sri Lankadesainer IndonesiaFashion Berkelanjutanfashion internasionalindustri mode IndonesiaKGL Kanika GoyalLimak by KamilMomiweiMoscow Fashion Week 2026Sri Lankatren fashion 2026
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

OTW 2026 Kembali Setelah 1,5 Tahun, Tiket Pesawat ke Jepang Mulai Rp1,9 Juta

October 23, 2026
Popular categories
  • What's On371
  • Headline116
  • Lifestyle106
  • Business105
  • Fashion98
  • Health77
  • Beauty72
  • Profile18
  • Uncategorized5
  • Events3

Dari Denim Daur Ulang hingga Sutra Tradisional, Moscow Fashion Week 2026 Membaca Arah Baru Mode Dunia

October 24, 2026

OTW 2026 Kembali Setelah 1,5 Tahun, Tiket Pesawat ke Jepang Mulai Rp1,9 Juta

October 23, 2026

Tri Kembali Gelar BombasTri 2026, Ada 2.026 Hadiah hingga Mobil BYD Atto 1

October 22, 2026

Laut Bercerita: Ketika Kebebasan, Kehilangan, dan Harapan Bertemu

October 21, 2026

Buttonscarves Perkuat Ekspansi ke Türkiye, Bangun Koneksi Lewat Budaya dan Fashion

October 21, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

Dari Denim Daur Ulang hingga Sutra Tradisional, Moscow Fashion Week 2026 Membaca Arah Baru Mode Dunia

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA