Dari Bali ke Panggung Dunia, Clarissa Sumasto Meramu Identitas Indonesia dalam CLARISSA – The Spirit of a Goddess
Mengolah Kopyor Coconut dan Golden Salak menjadi premium spirit, Clarissa Sumasto membawa filosofi kekuatan perempuan, estetika feminin, dan kekayaan alam Indonesia ke panggung internasional melalui Jakarta Fashion Week 2027.
Industri minuman spirit selama ini lekat dengan citra maskulin. Namun, Clarissa Sumasto melihat ruang untuk menghadirkan perspektif berbeda. Melalui CLARISSA – THE SPIRIT OF A GODDESS, ia mencoba mempertemukan kekayaan alam Indonesia, estetika feminin, dan gagasan tentang kekuatan perempuan dalam sebuah identitas brand premium.
Bagi Clarissa Sumasto, membangun sebuah brand bukan semata tentang menciptakan produk, melainkan merumuskan cerita yang memiliki karakter dan nilai. Sebagai Founder & Creative Director CLARISSA, ia ingin menghadirkan perspektif baru dalam industri spirit, sekaligus memperkenalkan potensi bahan lokal Indonesia kepada pasar yang lebih luas.

“Menurut saya, dunia spirit selama ini sangat identik dengan laki-laki. Padahal, perempuan juga bisa menikmati dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi di industri ini. Saya ingin menghadirkan sesuatu yang memiliki karakter elegan dan dapat diterima oleh berbagai kalangan,” ungkap Clarissa pada saat ditemui disela-sela kesibukannya menghadiri JFW 2027, Sabtu 31 Oktober 2026.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui slogan Awaken the Goddess Within. Sebuah pesan tentang kepercayaan diri, penghargaan terhadap diri sendiri, dan keberanian perempuan untuk merayakan keunikan yang dimilikinya.
Kekayaan Bali dalam Interpretasi Premium
Salah satu fondasi identitas CLARISSA terletak pada pemilihan bahan bakunya. Brand ini mengangkat dua kekayaan alam Indonesia, yakni Kopyor Coconut dan Golden Salak atau salak gula pasir yang berasal dari Bali.
Seluruh proses crafting dilakukan di Pulau Dewata. Pilihan tersebut memiliki keterkaitan dengan filosofi brand yang mengusung identitas The Spirit of a Goddess, sekaligus menempatkan Bali sebagai bagian penting dari cerita yang ingin dibawa Clarissa ke pasar internasional.
Pengembangan produk ini bukan perjalanan singkat. Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mengeksplorasi bahan, merumuskan karakter rasa, hingga menyempurnakan desain kemasan. CLARISSA hadir dalam satu varian dengan kadar alkohol 40 persen ABV (Alcohol by Volume) dan melalui enam kali proses distilasi.
Di balik proses tersebut, Clarissa menempatkan kualitas sebagai prioritas. Ia memilih untuk memahami dan menyempurnakan produknya sebelum memperluas jangkauan pasar.
“Saya tidak mengejar kuantitas. Bagi saya, CLARISSA seperti anak yang baru lahir. Saya ingin benar-benar memahami produk ini dan memastikan kualitasnya sebelum membawanya lebih jauh ke pasar internasional. Saya juga membawa nama Indonesia,” jelas penyuka warna rose gold ini.
Komitmen terhadap bahan lokal juga membuka peluang keterlibatan petani dan pemasok di Bali. Clarissa berharap pertumbuhan brand dapat berkembang menjadi kolaborasi yang memberikan ruang lebih luas bagi komunitas lokal. Baginya, Kopyor Coconut dan Golden Salak bukan sekadar bahan baku, melainkan representasi kekayaan Indonesia yang memiliki karakter dan potensi untuk diperkenalkan ke dunia.
The Spirit of a Goddess: Lebih dari Sekadar Nama
Filosofi perempuan menjadi elemen yang membedakan CLARISSA dari identitas brand spirit pada umumnya. Nama The Spirit of a Goddess tidak dimaksudkan untuk menempatkan perempuan dalam gambaran kecantikan yang seragam, melainkan merayakan keistimewaan setiap individu.

Clarissa percaya bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan, karakter, dan kecantikannya sendiri. Pesan tersebut ia ungkapkan melalui pernyataan yang menjadi inti filosofi brand.
“The goddess is every woman in this world. The goddess is you. CLARISSA bukanlah Goddess itu sendiri, tetapi ingin membantu setiap perempuan membangkitkan Goddess yang ada di dalam dirinya,” tutur Clarissa penuh percaya diri.
Menariknya, identitas feminin tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi CLARISSA sebagai produk yang hanya ditujukan kepada perempuan. Clarissa memandang elegansi dan feminitas sebagai karakter yang dapat diapresiasi siapa saja.
Filosofi itu juga diterjemahkan melalui identitas visual kemasan. Botol dengan sentuhan rose gold merepresentasikan kelembutan, feminitas, dan kepercayaan diri, sementara tutup berbentuk diamond memberikan aksen elegan yang mudah dikenali.
“The softness is there, the elegance is there, the confidence is there. Saya ingin CLARISSA memiliki karakter yang cantik, elegan, tetapi tetap kuat,” ungkap Clarissa.
Dengan demikian, desain kemasan tidak sekadar menjadi elemen estetika, tetapi juga medium untuk menyampaikan karakter dan gagasan yang ingin dibangun di balik nama CLARISSA.
Mempertemukan Fashion, Seni, dan Identitas Perempuan
Kehadiran CLARISSA dalam Jakarta Fashion Week 2027 menjadi langkah untuk memperkenalkan identitas brand kepada audiens yang lebih luas. Pilihan platform ini bukan tanpa alasan. Clarissa melihat hubungan erat antara fashion dan filosofi yang dibawanya.
Baginya, fashion merupakan salah satu bentuk ekspresi diri. Busana bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga cara seseorang menyampaikan karakter, kepribadian, dan kepercayaan dirinya. Perspektif serupa ingin ia bangun melalui CLARISSA. Karena itu, arah pengembangan brand tidak berhenti pada produk, tetapi juga merambah persinggungan dengan fashion, seni, budaya, dan gaya hidup.
“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Jakarta Fashion Week. Para desainer memberikan sepenuh hati, pemikiran, kreativitas, dan dedikasi mereka untuk menghadirkan karya terbaik. Bagi saya, berada di tengah mereka merupakan sebuah kehormatan,” ujar Clarissa tersenyum bangga.
Partisipasi tersebut sekaligus memperlihatkan upaya Clarissa membangun identitas CLARISSA sebagai brand yang memiliki kedekatan dengan ekosistem kreatif. Sebuah pendekatan yang menempatkan cerita, estetika, dan karakter sebagai bagian dari nilai sebuah merek.

Membawa Nama Indonesia ke Pasar Global
Di balik identitas feminin dan pendekatan kreatifnya, CLARISSA memiliki ambisi bisnis yang lebih luas. Indonesia tetap menjadi akar sekaligus identitas utama brand, tetapi Clarissa ingin membawa premium spirit berbahan kekayaan alam lokal ke pasar internasional.
Saat ini, CLARISSA telah menjangkau China. Penjajakan pasar juga dilakukan di Jepang dan Singapura, dengan peluncuran resmi di Singapura direncanakan pada 8 Maret 2027, bertepatan dengan hari kelahiran wanita berparas cantik elegan ini. Sementara itu, harga retail yang disampaikan Clarissa berada di kisaran US$100.
Ke depan, strategi pengembangan brand juga diarahkan pada kolaborasi di bidang fashion, seni, hospitality, dan lifestyle. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas ruang perkenalan CLARISSA, sekaligus membangun positioning premium yang tetap berakar pada identitas Indonesia.
Clarissa memahami bahwa membawa sebuah brand ke pasar global bukan hanya tentang memperluas distribusi. Ada reputasi, konsistensi kualitas, dan identitas asal yang harus dijaga.
“Harapan saya bukan sekadar membuat CLARISSA dikenal di berbagai negara, tetapi membangun sebuah brand Indonesia yang bisa dibanggakan dan mendapatkan tempat di panggung dunia,” ungkap Clarissa menutup bincang-bincangnya dengan awak media.
Dari Bali, CLARISSA merangkai cerita tentang kekayaan alam Indonesia dalam interpretasi yang modern. Di tangan Clarissa Sumasto, gagasan tentang keanggunan perempuan bertemu dengan kreativitas dan semangat membangun identitas lokal. Sebab, pada akhirnya, ambisi yang ingin dibawanya bukan sekadar memperkenalkan sebuah nama ke berbagai negara, melainkan membuktikan bahwa kreativitas dan potensi Indonesia memiliki ruang untuk bersaing di panggung dunia. (SMS|Foto: SMS)
