Create, Connect, Earn: Museum Nasional Menjadi Playground Kreator Indonesia
Dari ruang yang menyimpan sejarah bangsa hingga teknologi kreatif berbasis AI, Melalui IdeaFriends 2026, Indosat, Adobe, dan Kementrian Ekonomi Kreatif mempertemukan kreativitas, teknologi, budaya, komunitas, dan peluang monetasi dalam satu ekositem. Dari Adobe Express hingga pengembangan kekayaan intelektual, kreator Indonesia didorong untuk tak hanya berkarya, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari ide mereka.
Malam di Museum Nasional Indonesia pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026, mendadak memiliki wajah yang berbeda. Ada pemandangan yang tidak biasa. Alih-alih hanya menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, kawasan Taman Arca berubah menjadi playground bagi para kreator. Sekitar 100 kreator dari berbagai bidang berkumpul, bertukar ide, mencoba teknologi, membangun jejaring, dan membicarakan satu pertanyaan yang semakin relevan: bagaimana kreativitas dapat menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan?

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah IdeaFriends “After Hours: Creator Economy”, kolaborasi antara Indosat Ooredoo Hutchison, Adobe, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Museum Nasional Indonesia, dan IdeaFest.
Di tempat yang menyimpan begitu banyak cerita tentang Indonesia, para kreator justru diajak menulis cerita baru tentang masa depan ekonomi kreatif.
Dari Create hingga Earn
Salah satu momentum utama dalam IdeaFriends 2026 adalah peluncuran Create and Earn, program monetisasi kreator dari Adobe yang untuk pertama kalinya resmi diperkenalkan di Indonesia. Melalui program ini, kreator dapat membuat template menggunakan Adobe Express dan memperoleh imbalan berdasarkan karya serta traffic yang dihasilkan.
Indonesia menjadi negara pertama yang meluncurkan Create and Earn—sebuah langkah yang menunjukkan besarnya potensi komunitas kreator Tanah Air. Data Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi kreatif Indonesia telah memberikan kontribusi Rp1.757,87 triliun terhadap PDB nasional pada 2025 dan menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Sementara itu, creator economy Indonesia diperkirakan telah mencakup hampir 12 juta content creator.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kreativitas bukan lagi sekadar aktivitas sampingan. Ia telah menjadi bagian penting dari lanskap ekonomi digital Indonesia. Namun, jumlah kreator yang besar juga menghadirkan tantangan baru. Tidak semua kreator memiliki akses yang sama terhadap teknologi, pengetahuan, jaringan profesional, maupun kesempatan untuk mengubah karya menjadi penghasilan.

Di sinilah gagasan Create, Connect, Earn menjadi penting. Create membuka ruang untuk berkarya. Connect mempertemukan kreator dengan teknologi, komunitas, pemerintah, dan industri. Sementara Earn memastikan kreativitas memiliki jalan untuk berkembang menjadi sumber penghasilan.
Ketika AI Mempercepat Kreativitas
Perkembangan artificial intelligence atau AI telah mengubah cara manusia bekerja dan berkarya. Proses produksi visual, desain, hingga konten kini dapat dilakukan dengan lebih cepat. Namun, teknologi tidak menghapus kebutuhan terhadap kreativitas manusia.
Sebaliknya, ketika produksi menjadi semakin mudah, ide, perspektif, pengalaman, dan cerita justru menjadi semakin berharga. Melalui Adobe Express, para kreator mendapatkan akses terhadap berbagai perangkat kreatif, termasuk fitur berbasis AI, untuk membantu menerjemahkan gagasan menjadi karya.
Dalam kolaborasi ini, Indosat juga memberikan akses Adobe Express Premium gratis selama enam bulan bagi pengguna. Program tersebut dilengkapi materi pembelajaran, mentoring, creative challenge, serta kesempatan untuk terhubung dengan komunitas dan profesional industri.
Tujuannya bukan sekadar membuat proses kreatif menjadi lebih cepat, tetapi membantu kreator memiliki lebih banyak ruang untuk fokus pada hal yang paling penting: apa yang ingin mereka katakan melalui karya.
Mengubah Karya Menjadi Aset
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, melihat akses dan ekosistem sebagai dua elemen penting dalam perjalanan seorang kreator.
“Para kreator membutuhkan akses terhadap teknologi, kesempatan untuk belajar, komunitas untuk berkolaborasi, dan kesempatan untuk menjadikan kreativitas mereka sebagai sumber penghidupan dan karier,” ujar Irene.

Menurutnya lagi, kesempatan tersebut juga harus tersedia bagi talenta di berbagai daerah. Kreator di Jakarta maupun daerah perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, memperkenalkan karya, dan menjangkau audiens yang lebih luas. Lebih jauh, Irene menekankan pentingnya mengenalkan Kekayaan Intelektual (KI) sejak dini.
Sebuah karya tidak cukup hanya dibuat dan dilindungi. Karya juga perlu dikembangkan menjadi aset melalui lisensi, kolaborasi, model bisnis, maupun berbagai bentuk komersialisasi. Dengan 21 subsektor ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia, ruang untuk mengembangkan kekayaan intelektual terbuka sangat luas.
Pada titik ini, menjadi kreator bukan hanya tentang menghasilkan konten. Ia juga tentang memahami bagaimana sebuah ide dapat tumbuh menjadi aset yang memiliki nilai jangka panjang.
Membawa Cerita Indonesia ke Dunia
Bagi Indosat, kekuatan creator economy Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari kekayaan budaya yang dimiliki negeri ini. Direktur dan Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, mengatakan budaya merupakan salah satu keunikan terbesar Indonesia yang dapat dikembangkan melalui ekosistem kreator.
“Karena itu, kita membutuhkan teman-teman dari ekosistem kreator untuk mengembangkan budaya kita menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat dikenal dunia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperluas makna creator economy. Indonesia bukan hanya memiliki pasar digital yang besar, tetapi juga memiliki sumber cerita yang nyaris tak terbatas: tradisi, seni, kuliner, fesyen, alam, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara.

Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan menjadi karya kreatif yang relevan, memiliki identitas kuat, dan mampu menembus pasar global. Teknologi dapat menjadi jembatan untuk mewujudkannya.
Museum sebagai Titik Temu Masa Lalu dan Masa Depan
IdeaFriends “After Hours: Creator Economy” menghadirkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar forum diskusi. Ada Tur Malam di Museum, Adobe Express Template Challenge, Lightning Talks, pengenalan komunitas, hingga sesi networking yang mempertemukan kreator dengan komunitas, industri, pemerintah, dan mitra ekosistem kreatif.
Kehadiran karya peserta terpilih di area festival juga membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh eksposur, memperluas jaringan, dan memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas.
Pada akhirnya, pilihan Museum Nasional sebagai ruang pertemuan terasa simbolis. Museum menyimpan karya dan artefak dari masa lalu. Sementara para kreator yang hadir di IdeaFriends membawa gagasan tentang masa depan.
Di antara keduanya terdapat satu kesamaan: keduanya bercerita tentang siapa kita sebagai bangsa. Bedanya, jika museum menjaga cerita yang telah diwariskan, generasi kreator hari ini memiliki kesempatan untuk menciptakan cerita berikutnya.
Dan ketika kreativitas bertemu teknologi, konektivitas, komunitas, serta akses terhadap pasar, sebuah ide tidak lagi harus berhenti sebagai ide. Ia bisa menjadi karya. Karya bisa menjadi aset. Dan aset, pada akhirnya, dapat membuka jalan menuju masa depan ekonomi kreatif Indonesia. (SMS|Foto: SMS)
