Skip to content
  Thursday 8 October 2026
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
  • id ID
    • ar AR
    • zh-CN ZH-CN
    • nl NL
    • en EN
    • fr FR
    • de DE
    • id ID
    • it IT
    • ja JA
    • ru RU
    • es ES
Elmediora
Elmediora
  • Home
  • What’s On
  • Health
  • Beauty
  • Profile
  • Fashion
  • Lifestyle
    • Food
    • Techno & Gadget
    • Home & Living
    • Travel
    • Automotive
    • Art & Culture
    • Review
  • Business
Elmediora

ALLPrint Indonesia 2026: Industri Percetakan Sedang Menulis Ulang Masa Depannya

October 7, 2026 Business, What's On
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest

ALLPrint Indonesia 2026: Industri Percetakan Sedang Menulis Ulang Masa Depannya

Dari mesin cetak hingga digital textile printing, packaging, signage, dan teknologi 3D, ALLPrint Indonesia 2026 memperlihatkan satu perubahan besar: industri grafika tak lagi sekadar mencetak, tetapi sedang membangun cara baru untuk memproduksi dan menciptakan nilai.

Bayangkan sebuah produk yang hari ini tampak sederhana: sebuah kemasan makanan, kaus dengan desain personal, label sebuah produk, billboard digital, atau buku yang dicetak dalam jumlah terbatas. Di balik benda-benda tersebut terdapat sebuah industri yang selama ini bekerja nyaris tanpa banyak disadari: industri grafika.

Perubahannya terlihat jelas di ALLPrint Indonesia 2026, yang dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Rabu 7 Oktober dan berlangsung hingga 10 Oktober 2026.

Namun, industri itu kini sedang berubah. Mesin yang semakin pintar, digitalisasi, personalisasi, kebutuhan produksi yang fleksibel, tuntutan efisiensi, hingga perkembangan teknologi cetak digital membuat percetakan tidak lagi berada di wilayah yang sama seperti satu atau dua dekade lalu.

Perubahannya terlihat jelas di ALLPrint Indonesia 2026, yang dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Rabu 7 Oktober dan berlangsung hingga 10 Oktober 2026.

Memasuki penyelenggaraan ke-27, pameran internasional ini mempertemukan sekitar 400 peserta, termasuk 20 UMKM, dari lebih dari 10 negara seperti Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan. Tetapi angka-angka tersebut bukan sekadar statistik pameran. Di balik ratusan exhibitor dan teknologi yang dipamerkan, tersimpan gambaran mengenai sebuah industri yang sedang mencari bentuk barunya.

Percetakan Tak Lagi Berdiri Sendiri

Dulu, berbicara mengenai percetakan berarti berbicara mengenai kertas, tinta, mesin, dan hasil cetakan. Kini batas tersebut semakin kabur. ALLPrint Indonesia 2026 digelar bersamaan dengan Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.

Keenamnya membawa pengunjung ke wilayah industri yang saling beririsan: percetakan, advertising, signage, digital printing, textile printing, packaging, label, hingga berbagai kebutuhan produksi yang bersentuhan dengan industri kreatif. Perubahan tersebut sesungguhnya mencerminkan perubahan kebutuhan pasar.

Sebuah merek tidak lagi cukup memiliki produk bagus. Ia membutuhkan kemasan yang mampu berkomunikasi, label yang informatif, materi promosi yang menarik, serta kemampuan memproduksi berbagai kebutuhan tersebut dengan cepat dan efisien.

Industri fesyen pun membutuhkan teknologi yang mampu menerjemahkan desain ke berbagai jenis tekstil. Sementara dunia advertising bergerak dari media cetak menuju kombinasi antara media fisik dan layar digital. Di titik inilah percetakan mulai kehilangan batas tradisionalnya. Ia berubah dari industri yang menghasilkan cetakan menjadi industri yang menyediakan solusi.

ALLPrint Indonesia 2026 digelar bersamaan dengan Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.

Mesin Canggih, Pertanyaan yang Tetap Manusiawi

Di tengah derasnya teknologi, ada satu pertanyaan yang justru semakin penting: untuk apa teknologi itu digunakan? Sebab, membeli mesin baru tidak otomatis membuat sebuah perusahaan menjadi lebih kompetitif.

Pelaku usaha perlu mengetahui apakah teknologi tersebut benar-benar mampu meningkatkan produktivitas, mempercepat proses, memperbaiki kualitas, menghemat biaya, atau membuka jenis pasar baru. Oleh karena itu, nilai sebuah pameran teknologi bukan hanya terletak pada kecanggihan mesin yang dipajang, tetapi pada kesempatan untuk melihat bagaimana teknologi tersebut bekerja dalam situasi nyata.

Di ALLPrint Indonesia 2026, pengunjung dapat menyaksikan demonstrasi mesin, membandingkan berbagai solusi, serta berdiskusi langsung dengan produsen, distributor, dan tenaga ahli.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim mengatakan perkembangan industri percetakan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk cetak, tetapi juga bagaimana pelaku usaha mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, kapasitas produksi, fleksibilitas, dan daya saing.

“Perkembangan teknologi membawa perubahan pada cara industri percetakan menjalankan proses produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Melalui ALLPrint Indonesia, kami mempertemukan pelaku industri dengan teknologi dan solusi yang dapat mereka lihat serta evaluasi secara langsung, sekaligus membuka peluang untuk membangun koneksi dan kerja sama bisnis, kehadiran peserta dari berbagai negara juga memperlihatkan semakin luasnya ekosistem industri yang terlibat dalam perkembangan teknologi percetakan dan grafika di Indonesia,” ujar Daud D. Salim dalam keterangan persnya di depan awak media.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim mengatakan perkembangan industri percetakan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk cetak, tetapi juga bagaimana pelaku usaha mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, kapasitas produksi, fleksibilitas, dan daya saing.

Melalui ALLPrint Indonesia, pelaku industri dipertemukan dengan teknologi yang dapat dilihat dan dievaluasi secara langsung, sekaligus membuka peluang koneksi dan kerja sama bisnis. Dengan demikian, pameran tidak berhenti sebagai ruang untuk melihat. Ia menjadi ruang untuk mempertimbangkan, membandingkan, lalu mengambil keputusan.

UMKM di Tengah Revolusi Teknologi

Ada satu angka yang menarik perhatian: 20 UMKM turut menjadi bagian dari sekitar 400 peserta. Di tengah narasi mengenai mesin berteknologi tinggi dan investasi industri, angka tersebut membawa cerita yang berbeda.

Transformasi digital sering kali terdengar seperti permainan perusahaan besar. Mereka memiliki modal, sumber daya manusia, serta kemampuan untuk berinvestasi dalam teknologi baru. Namun, industri grafika Indonesia juga ditopang oleh banyak pelaku usaha berskala kecil dan menengah.

Bagi kelompok ini, pertanyaan tentang teknologi menjadi jauh lebih mendasar. Teknologi seperti apa yang benar-benar dibutuhkan? Seberapa besar investasi yang masuk akal? Bagaimana meningkatkan kualitas tanpa kehilangan pasar? Dan bagaimana sebuah usaha kecil dapat memenuhi tuntutan konsumen yang semakin cepat dan personal?

Karena itu, keberadaan UMKM dalam ekosistem ALLPrint memiliki arti lebih besar daripada sekadar jumlah peserta. Ia menunjukkan bahwa transformasi industri seharusnya tidak hanya berbicara mengenai seberapa canggih teknologinya, tetapi juga seberapa luas akses terhadap teknologi dan pengetahuan tersebut.

Jika teknologi hanya dinikmati pemain besar, digitalisasi dapat memperlebar jarak. Namun jika pengetahuan, jaringan, dan teknologi membuka peluang bagi pelaku usaha yang lebih kecil untuk tumbuh, transformasi justru dapat menjadi alat pemerataan daya saing.

Bukan Hanya Mesin yang Harus Berubah

Ada kesalahpahaman yang kerap muncul dalam pembicaraan mengenai revolusi teknologi: seolah-olah perubahan cukup dilakukan dengan mengganti mesin. Padahal, manusia yang mengoperasikan dan mengambil keputusan di belakang mesin tersebut juga harus berkembang. Karena itulah rangkaian seminar dan forum di ALLPrint Indonesia 2026 menjadi bagian penting dari keseluruhan pameran.

Berbagai topik membicarakan digital textile printing, carton manufacturing, single pass technology, produktivitas flexo printing, hingga pengadaan barang dan jasa digital. Dunia packaging membawa persoalan lain: food safety, proofing, mock-up, hingga sertifikasi halal dan kemasan. Sementara forum bisnis membahas peluang baru bagi pengusaha percetakan, termasuk pergeseran dari spanduk menuju layar digital.

Di sisi kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif membawa tema “Jadi ZINE!”, sedangkan Universitas Trisakti menggelar Creative Lino Stamp Workshop. Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan industri grafika bukan hanya persoalan teknologi. Ia menyentuh pengetahuan, kreativitas, regulasi, pemasaran, sumber daya manusia, dan cara membaca konsumen. Dengan kata lain, industri tidak hanya membutuhkan mesin yang lebih pintar. Ia membutuhkan manusia yang juga semakin adaptif.

Melalui ALLPrint Indonesia, pelaku industri dipertemukan dengan teknologi yang dapat dilihat dan dievaluasi secara langsung, sekaligus membuka peluang koneksi dan kerja sama bisnis. 

Dari Pameran ke Meja Bisnis

Ada alasan mengapa ALLPrint Indonesia 2026 juga memberi perhatian pada Business Matching dan Hosted Buyer. Sebab teknologi baru akan kehilangan makna jika tidak menemukan pasar. Program tersebut mempertemukan exhibitor dengan calon buyer dan pelaku industri berdasarkan kebutuhan serta potensi kerja sama. Di sinilah pameran bergerak dari ruang demonstrasi menuju ruang transaksi.

Sebuah mesin yang sebelumnya hanya terlihat sebagai teknologi dapat berubah menjadi peluang investasi. Sebuah pertemuan antarpelaku industri dapat berkembang menjadi jaringan distribusi. Dan sebuah percakapan singkat di stan pameran dapat menjadi awal dari kerja sama yang berlangsung bertahun-tahun. Bagi industri yang bergerak cepat seperti percetakan, jaringan semacam itu sama pentingnya dengan teknologi itu sendiri.

Masa Depan Percetakan Ada di Banyak Tempat

Jika seluruh bagian ALLPrint Indonesia 2026 dirangkai, terlihat sebuah pola yang menarik. Percetakan bertemu packaging. Packaging bertemu industri makanan dan minuman. Textile printing bertemu fesyen. Signage bertemu advertising. Digital printing bertemu personalisasi. Teknologi grafika bertemu industri kreatif.

Batas-batas yang dulu memisahkan subsektor kini semakin cair. Dan mungkin di situlah masa depan industri percetakan sebenarnya berada. Bukan pada satu jenis mesin. Bukan pula pada satu teknologi. Melainkan pada kemampuan menghubungkan berbagai teknologi dengan kebutuhan manusia dan pasar.

Indonesia sendiri memiliki alasan kuat untuk terus memperkuat ekosistem tersebut. Industri grafika menopang begitu banyak sektor, mulai dari penerbitan dan promosi hingga kemasan, fesyen, perdagangan, makanan dan minuman, serta berbagai aktivitas ekonomi kreatif.

ALLPrint Indonesia memperlihatkan bahwa industri percetakan Indonesia tidak sedang menghilang karena digitalisasi. Sebaliknya, ia sedang menemukan bentuk baru. 

Ketika teknologi percetakan berubah, sektor-sektor yang bergantung padanya ikut terdorong untuk berubah. Karena itu, perkembangan industri grafika sesungguhnya bukan cerita tentang tinta dan kertas semata. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah negara beradaptasi dengan cara baru untuk memproduksi, berkomunikasi, menjual, dan menciptakan nilai.

Sebuah Industri yang Sedang Menulis Bab Baru

ALLPrint Indonesia 2026 pada akhirnya lebih menarik jika dibaca bukan sebagai katalog mesin dan teknologi. Ia adalah potret sebuah industri yang sedang bernegosiasi dengan masa depan. Ada teknologi baru yang harus dipelajari. Ada investasi yang harus dihitung dengan cermat. Ada sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan. Ada UMKM yang membutuhkan akses. Ada pasar yang berubah lebih cepat daripada sebelumnya. Dan ada satu kebutuhan yang menyatukan semuanya: kemampuan untuk beradaptasi.

Memasuki usia penyelenggaraan ke-27, ALLPrint Indonesia memperlihatkan bahwa industri percetakan Indonesia tidak sedang menghilang karena digitalisasi. Sebaliknya, ia sedang menemukan bentuk baru. Mungkin kelak percetakan tidak lagi identik dengan suara mesin dan tumpukan kertas. Ia bisa hadir dalam kemasan yang kita pegang, pakaian yang kita kenakan, layar yang kita lihat, label yang kita baca, hingga produk kreatif yang kita gunakan sehari-hari.

Di JIExpo Kemayoran, semua itu bertemu dalam satu ruang. Dan di antara mesin yang terus bergerak, layar yang menyala, desain yang berubah menjadi benda nyata, serta percakapan bisnis yang berlangsung dari satu stan ke stan lainnya, satu pesan menjadi semakin jelas: masa depan industri percetakan Indonesia bukan sedang dicetak ulang. Ia sedang ditulis dari awal. (SMS|Foto: SMS)

ALLPrint Indonesia 2026ALLPrint Indonesia 2026 JIExpodigital printingindustri grafika Indonesiaindustri percetakan IndonesiaKrista Exhibitionspackagingpameran percetakan Indonesiateknologi digitalteknologi percetakan terbarutextile printing
WhatsAppFacebookX TwitterPinterest
Related posts

First Taste of Fall, Latte Lacquer Hadirkan Tiga Rasa untuk Menyambut Musim Baru

October 8, 2026
Popular categories
  • What's On351
  • Headline109
  • Lifestyle103
  • Business99
  • Fashion90
  • Health75
  • Beauty71
  • Profile18
  • Uncategorized5
  • Events3

First Taste of Fall, Latte Lacquer Hadirkan Tiga Rasa untuk Menyambut Musim Baru

October 8, 2026

SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Buka Gerbang Bisnis F&B Indonesia ke Dunia

October 7, 2026

ALLPrint Indonesia 2026: Industri Percetakan Sedang Menulis Ulang Masa Depannya

October 7, 2026

Wardah Skin Longevity Clinic Raih Rekor MURI, Bawa Perawatan Kulit ke Ranah Gaya Hidup Sehat

October 7, 2026

Bukan Sekadar Memperbaiki Sekolah, ZAP Group dan Pandawara Menghidupkan Kembali Ruang Mimpi Anak-anak

October 6, 2026

Mazda Tebarkan Pengalaman Berkendara Penuh Harmoni di GJAW 2024

ART SG Diadakan Kembali untuk Ketiga Kalinya Satukan Galeri-Galeri Terkemuka & Hadirkan Beragam Karya

Inovasi Terbaru Neutrogena untuk Minimalkan Kerutan Memanfaatkan Teknologi Retinol

UNIQLO and Anya Hindmarch Bersama Julie Estelle Suguhkan Signature Style Gaya Playful & Fresh

First Taste of Fall, Latte Lacquer Hadirkan Tiga Rasa untuk Menyambut Musim Baru

About Us Redaksi Cyber Media Guidelines Privacy & Policy Email
© 2025 ELMEDIORA