KOSA – Between Two Mirrors: Perjalanan Panjang Sankai Juku Mencari Jiwa Butoh
Setelah 31 tahun kembali ke Indonesia, Sankai Juku membawa KOSA—sebuah perjumpaan antara masa lalu, tubuh, dan masa kini yang membuat tarian Butoh yang kontemplatif terasa bagai ingatan yang hidup.
Tiga puluh satu tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah hampir segalanya. Tubuh menua, panggung berganti, penonton tumbuh dengan pengalaman baru. Namun bagi sebuah karya seni, waktu tidak selalu berarti akhir. Ada sesuatu yang dapat tertinggal—sebuah gerak, atmosfer, bahkan ingatan—yang diam-diam menetap di tubuh.

Tiga dekade lebih setelah terakhir kali hadir di Indonesia, Sankai Juku kembali membawa KOSA. Bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebuah persilangan antara karya-karya masa lalu dan tubuh generasi kini.
Bagi salah seorang penarinya, Sei Maru, kepulangan ini memiliki dimensi personal. Ia pernah berada dalam perjalanan Sankai Juku ketika kelompok Butoh asal Jepang tersebut hadir di Indonesia 31 tahun lalu. Kini ia kembali bersama generasi penari yang meneruskan bahasa tubuh yang dibangun Ushio Amagatsu, pendiri sekaligus direktur artistik Sankai Juku.
KOSA: Ketika Masa Lalu Bertemu Masa Kini
KOSA pertama kali dipentaskan pada 2022, ketika dunia pertunjukan perlahan bangkit setelah pandemi. Karya ini lahir dari gagasan Amagatsu untuk mengambil fragmen dari berbagai repertoar lama Sankai Juku, menyusunnya kembali, lalu memberinya kehidupan baru.
Karena itu, KOSA bukan retrospeksi dalam pengertian sederhana. Ia tidak berusaha mengulang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali ingatan melalui tubuh yang berbeda dan waktu yang berbeda.
Nama KOSA sendiri berarti persilangan atau interseksi dalam bahasa Jepang. Di atas panggung, persilangan itu terjadi berlapis-lapis: karya lama bertemu karya baru, penari masa lalu bertemu generasi berikutnya, sementara penonton lama bertemu mereka yang baru pertama kali mengenal Sankai Juku.
Bahkan penonton membawa persilangannya sendiri. Mereka yang pernah menyaksikan Sankai Juku mungkin melihat kembali dirinya pada masa lalu. Sementara bagi penonton baru, panggung menjadi pertemuan pertama dengan bahasa tubuh yang belum mereka kenal. KOSA pada akhirnya seperti cermin yang tidak memantulkan wajah, melainkan waktu.
Dari Tubuh yang Ekstrem Menuju Yang Tak Terlihat
Sankai Juku didirikan pada 1975, ketika Butoh masih berada dalam fase eksperimental yang kuat. Pada masa awal, kekerasan, tubuh yang grotesk, dan erotisisme menjadi bagian dari lanskap seni pertunjukan yang lebih eksplisit.

Namun perjalanan artistik Amagatsu kemudian bergerak semakin jauh dari sekadar bentuk fisik. Ia mulai mencari sesuatu yang berada di balik tubuh: pengalaman batin, hubungan manusia dengan alam, kehidupan dan kematian, serta lapisan keberadaan yang tidak mudah diterjemahkan melalui kata-kata.
Dari sanalah tubuh dalam Sankai Juku memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan sekadar instrumen untuk menciptakan gerak, melainkan pintu menuju sesuatu yang tidak terlihat. Maka gerak yang lambat bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Justru dalam keheningan, jeda, dan perubahan yang nyaris tak terlihat, tubuh seperti sedang melakukan percakapan dengan dirinya sendiri.
Setelah Amagatsu tiada, pencarian itu tetap diteruskan. Regenerasi bagi Sankai Juku bukan berarti menciptakan kembali masa lalu secara persis, melainkan meneruskan pertanyaan yang pernah diajukan pendirinya. Yang diwariskan bukan hanya koreografi, tetapi sebuah cara memandang manusia.
Mengapa Tubuh Sankai Juku Berwarna Putih?
Tubuh putih dan kepala yang dicukur telah menjadi salah satu citra paling kuat dari Sankai Juku. Namun bagi Sei Maru, maknanya tidak sesederhana sebuah simbol yang sudah ditentukan sejak awal. Ketika ia bergabung, tradisi tersebut sudah berjalan. Tidak ada penjelasan khusus dari generasi sebelumnya mengenai mengapa tubuh harus dicat putih atau rambut dicukur.
Setelah bertahun-tahun menjalaninya, ia membangun pemahamannya sendiri: mengurangi individualitas dari luar agar sesuatu dari dalam dapat lebih terlihat. Rambut, warna kulit, wajah, dan tanda-tanda identitas personal sehari-hari disisihkan. Tubuh menjadi lebih anonim. Tetapi justru dalam anonimitas itu, tubuh memperoleh kemungkinan untuk menjadi universal.
Tubuh putih tersebut dapat dilihat sebagai kanvas—bukan tubuh yang kehilangan identitas, melainkan tubuh yang sengaja mengurangi tanda-tanda luarnya agar gerak, napas, dan pengalaman batin memperoleh ruang.
Kostum yang Menjadi Arsip
Dalam KOSA, masa lalu tidak hanya hadir melalui koreografi. Ia juga dikenakan. Sebagian kostum berasal dari repertoar Sankai Juku sebelumnya. Pada bagian solo, misalnya, terdapat gaya busana yang merujuk pada pakaian yang pernah dikenakan Amagatsu ketika masih menari.

Amagatsu memang tidak lagi berada di atas panggung. Namun jejaknya hadir melalui kostum, gerak, dan tubuh para penari yang meneruskan pencariannya. Begitu pula dengan koreografi. KOSA tidak sekadar mengambil sebuah karya lama secara utuh. Fragmen-fragmen gerak dan pose dari masa lalu muncul kembali dalam struktur yang baru.
Seperti ingatan manusia, gerak tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama. Ia berubah, mengalami distorsi, tetapi menyimpan sesuatu dari asalnya. Tubuh pun menjadi arsip.
Butoh yang Tidak Pernah Selesai
Dari sini muncul pertanyaan yang lebih besar: apa sebenarnya Butoh yang “original”? Butoh berakar pada pencarian Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno sekitar tujuh dekade lalu. Namun berbeda dengan seni tradisional yang memiliki pakem relatif mapan, Butoh hingga kini belum berhenti menjadi sesuatu yang terus berkembang.
Sei Maru sendiri telah mengajarkan Butoh selama sekitar 40 tahun. Mereka yang belajar darinya membawa pengaruh Sankai Juku ke tubuh masing-masing. Tetapi ketika pengaruh tersebut bertemu pengalaman, budaya, dan pencarian personal, sesuatu yang baru pun lahir.
Mungkin di situlah letak orisinalitas Butoh. Bukan pada upaya mempertahankan satu bentuk yang dianggap paling murni, tetapi pada keberanian untuk terus menggali. Butoh hidup karena ia belum selesai. Ia bergerak dari tubuh ke tubuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap penari menerima warisan, tetapi juga membawa tubuhnya sendiri untuk menafsirkannya.
Antara Tanah, Gravitasi, dan Keheningan
Sei Maru melihat perbedaan menarik antara Butoh dan balet klasik Barat. Jika balet kerap mengarahkan tubuh ke atas—melompat, menjulang, seolah melawan gravitasi—Butoh memiliki kecenderungan untuk merasakan kembali berat tubuh, mendekati tanah, dan menurunkan pusat gravitasi.
Bukan berarti Butoh sekadar “tarian ke bawah”. Yang lebih penting adalah hubungan tubuh dengan gravitasi, ruang, napas, dan sesuatu yang berada di dalam diri. Tubuh tidak selalu berusaha menaklukkan ruang. Ia justru seperti mendengarkan ruang.
Karena itu, gerakan sekecil apa pun dapat terasa besar. Yang penting bukan seberapa jauh tubuh berpindah, melainkan apa yang terjadi di dalam tubuh ketika ia bergerak.
Ketika Empat Tubuh Menjadi Sejarah
Ada pula kisah menarik di balik karakter Sankai Juku yang didominasi penari laki-laki. Pada masa pelatihan awal, sekitar 30 orang mengikuti proses tersebut dan perempuan bahkan mencapai sekitar setengah atau lebih dari jumlah peserta. Namun dalam perjalanan sekitar dua tahun sebelum penampilan pertama, jumlah penari perempuan perlahan berkurang.
Pada akhirnya tersisa empat anggota inti, termasuk Sei Maru dan Amagatsu—semuanya laki-laki. Dominasi tubuh laki-laki yang kemudian menjadi salah satu karakter visual Sankai Juku ternyata bukan identitas yang sejak awal dirancang. Ia tumbuh dari perjalanan manusiawi: siapa yang datang, siapa yang pergi, dan siapa yang bertahan. Waktu kemudian mengubah kebetulan menjadi sejarah.

Ketika Masa Lalu Pulang
Tiga puluh satu tahun setelah terakhir kali hadir di Indonesia, Sankai Juku kembali melalui KOSA. Mereka membawa masa lalu, tetapi tidak tinggal di dalamnya. Mereka membawa jejak Amagatsu, tetapi tidak mencoba menghadirkannya kembali secara harfiah. Mereka membawa fragmen karya lama, tetapi membiarkannya bertemu tubuh, ruang, dan waktu yang baru. Barangkali di situlah kekuatan KOSA: masa lalu tidak harus ditinggalkan agar masa kini dapat bergerak.
Di atas panggung, tubuh-tubuh putih bergerak perlahan. Kepala yang dicukur, kostum yang membawa jejak sejarah, musik yang mengambang di antara keheningan, serta gerak yang muncul seperti dari kedalaman tubuh menciptakan sebuah dunia yang sulit diterjemahkan dengan bahasa.
Penonton mungkin tidak selalu memahami apa yang sedang “diceritakan”. Namun Butoh memang tidak datang untuk bercerita dengan cara yang lazim. Ia datang untuk membuat tubuh merasakan sesuatu sebelum pikiran sempat memberinya nama. Dan ketika lampu panggung padam, mungkin yang tertinggal bukanlah sebuah cerita. Melainkan ingatan.
Sebuah sensasi yang menetap diam-diam di tubuh penonton. Sebuah perasaan yang belum memiliki nama. Atau sebuah perjumpaan dengan diri sendiri yang baru terasa setelah pertunjukan berakhir.
Sebab pada akhirnya, Butoh bukan hanya tentang tubuh yang bergerak. Ia adalah tubuh yang mengingat, tubuh yang mencari, dan tubuh yang berusaha mengungkapkan sesuatu yang tidak sanggup disampaikan oleh kata-kata. Dan melalui KOSA, Sankai Juku mengingatkan kita bahwa waktu boleh berjalan sejauh apa pun—tetapi tubuh memiliki caranya sendiri untuk membawa masa lalu pulang. (RED|Foto: SMS & Dok. SALIHARA)
