Kompetisi Kuliner Internasional KRISTAInterFood 2026 Jadi Panggung Regenerasi Talenta Chef Muda Indonesia
Krista InterFood 2026 mempertemukan lebih dari 1.000 peserta dari 10 negara. Di balik kompetisi, ada upaya memperkuat regenerasi chef, memperkenalkan makanan tradisional Indonesia, dan mendorong kuliner Nusantara menembus pasar global.
Kompetisi kuliner internasional menjadi salah satu agenda utama KRISTAInterFOOD 2026 yang berlangsung di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (5/11). Ajang ini tidak sekadar menjadi arena unjuk keterampilan para profesional kuliner, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan dan memperkenalkan kekayaan gastronomi Indonesia.

Kejuaraan yang melibatkan World Association of Chefs’ Societies (WorldChefs) tersebut diikuti peserta dari 10 negara dengan jumlah lebih dari 1.000 juru masak. Sejumlah kategori dihadirkan, mulai dari kompetisi profesional, pastry, hingga gelato yang menjadi bagian dari program internasional dan masuk dalam kalender kegiatan WorldChefs.
Sekretaris Jenderal ACCI (Culinary Professional Indonesia), Temmy Rahmat, mengatakan kegiatan ini juga menghadirkan kelas khusus untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada peserta internasional. Makanan tradisional dan jajanan pasar menjadi salah satu fokus, termasuk berbagai kreasi kuliner Nusantara seperti tumpeng.
Menurut Temmy, regenerasi menjadi salah satu hal paling menggembirakan dari penyelenggaraan kompetisi tersebut. Sekitar 80 persen peserta merupakan generasi muda, termasuk kurang lebih 40 persen peserta anak muda Indonesia yang menunjukkan kreativitas dan kemampuan dalam menghasilkan karya kuliner.
Ia berharap kompetisi semacam ini dapat menjadi bekal bagi peserta ketika memasuki industri profesional. Sertifikat dan pengakuan internasional yang diperoleh juga dapat memperkuat portofolio serta membuka peluang pengembangan karier.
Menjaga Autentisitas, Menembus Pasar Global
Di luar kompetisi, Temmy menilai kuliner Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional. Cita rasa Nusantara dinilai mampu mendapatkan tempat di berbagai negara, selama karakter aslinya tetap dipertahankan.

Penyesuaian rasa, seperti tingkat kepedasan, menurutnya masih dapat dilakukan mengikuti preferensi pasar tujuan. Namun, tantangan yang lebih mendasar justru terletak pada ketersediaan bahan baku, dukungan regulasi, serta kemudahan proses ekspansi ke luar negeri.
Ia mencontohkan Thailand yang memiliki dukungan pemerintah dalam membantu penyediaan bahan baku bagi pelaku industrinya ketika memasuki pasar internasional. Dukungan serupa dinilai penting agar makanan Indonesia tetap dapat disajikan secara autentik di negara tujuan.
Pendidikan dan Regenerasi Kuliner Tradisional
Temmy juga menekankan pentingnya pendidikan kuliner yang berangkat dari pemahaman dasar. Kemudahan memperoleh resep melalui media sosial memang membuka banyak peluang, tetapi generasi muda tetap perlu memahami teknik memasak, karakter bahan, dan resep tradisional sebelum menciptakan inovasi.
Tradisi memasak di rumah atau home cooking juga perlu dipertahankan. Menurutnya, resep warisan keluarga merupakan bagian penting dari identitas kuliner Indonesia yang tidak boleh tergerus perkembangan teknologi.
“Makanan ibu tidak pernah kalah,” ungkapnya. “Kami juga ingin melalui kompetisi ini, pengalaman dan pengetahuan yang dipetoleh peserta bisa menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia industri kuliner,” tandas Temmy.

Untuk memperkuat fondasi tersebut, ACCI membuka peluang kolaborasi dengan sekolah menengah kejuruan, guru, serta lembaga pelatihan kuliner. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang memahami kekayaan gastronomi Nusantara.
Temmy juga mengingatkan pentingnya profesionalisme dalam industri kuliner, termasuk penggunaan istilah chef secara tepat. Menurutnya, sebutan chef memiliki jenjang dan tanggung jawab tertentu dalam struktur dapur profesional. Karena itu, istilah pelaku kuliner lebih tepat digunakan bagi mereka yang masih mengembangkan kariernya di bidang tersebut.
Melalui kompetisi, pendidikan, dan kolaborasi lintas negara, Temmy berharap kuliner Indonesia semakin dikenal secara global tanpa kehilangan akar tradisinya. Sebab, masa depan gastronomi Nusantara tidak hanya ditentukan oleh kreativitas menciptakan hidangan baru, tetapi juga kemampuan menjaga resep, teknik, dan cita rasa yang diwariskan antargenerasi. (SMS|Foto: SMS)
