Kala IA Makinn Pintar, Indosat Mengajak Manusia Menentukan Arah lewat “Peran-Tara”
Di Ideafest 2026, kolaborasi Indosat dan seniman Sarkodit menerjemahkan gagasan “Heartware Inside the Hardware” menjadi sebuah instalasi seni tentang peran manusia di tengah laju teknologi dan kecerdasan artifisial.
Peran Artifisial atau IA kini semakin pintar, lalu apa yang membuat kita tetap manusia? Ada satu paradoks yang muncul ketika teknologi semakin pintar: semakin banyak hal yang dapat dilakukan mesin, semakin penting pula pertanyaan tentang apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia.
Kecerdasan artifisial kini tidak lagi sekadar menjalankan perintah. AI dapat membantu menganalisis informasi, menghasilkan karya, bahkan memberikan rekomendasi untuk berbagai keputusan. Namun, di balik kemampuan tersebut tetap ada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menentukan ke mana teknologi akan membawa kita?

Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan yang dibawa Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) dalam gelaran Ideafest 2026: Re-Humanize melalui konsep “Heartware Inside the Hardware” yang diselenggarakan pada 4-6 September 2026 di Jakarta Convention Center (JICC). Selain tidak melihat teknologi semata sebagai perangkat dan sistem, gagasan ini menempatkan manusia sebagai pusat—dengan rasa ingin tahu, kreativitas, imajinasi, nilai, serta kebijaksanaan untuk menentukan arah.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa seni melalui kolaborasi Indosat dengan seniman Indonesia Sarkodit lewat instalasi bertajuk “Peran-Tara”.
Ketika Teknologi Membutuhkan Arah
Nama Peran-Tara sendiri menyimpan permainan makna. “Peran” merujuk pada posisi dan kontribusi manusia, sementara “tara” merefleksikan akal serta kebijaksanaan yang digunakan untuk memilih, menentukan arah, dan memberikan makna.
Pesannya sederhana, tetapi semakin relevan di tengah perkembangan AI: teknologi mungkin mampu membawa manusia ke semakin banyak tempat, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menentukan ke mana perjalanan itu ditujukan.
Melalui karya ini, Sarkodit tidak hanya merespons gagasan Heartware Inside the Hardware, tetapi juga merekam perjalanan Indosat dari masa ke masa—sebuah perjalanan yang berangkat dari konektivitas dan terus berkembang menuju berbagai kemungkinan baru melalui teknologi.

“Ketika Indosat membawa gagasan Heartware Inside the Hardware, saya melihatnya sebagai ajakan untuk kembali melihat teknologi dari sisi manusia. Teknologi bisa terus berubah dan semakin canggih, tetapi selalu ada manusia di baliknya yang memiliki ide, membuat pilihan, memberikan makna, dan menentukan akan dibawa ke mana teknologi tersebut. Dari situlah Peran-Tara lahir sebagai interpretasi saya terhadap gagasan tersebut,” ujar Sarkodit lugas.
Heartware di Balik Hardware
Sedangkan bagi Indosat, teknologi pada akhirnya bukan sekadar tentang seberapa canggih sebuah sistem bekerja. Nilainya justru terletak pada sejauh mana teknologi mampu membuka lebih banyak kemungkinan bagi manusia—untuk belajar, bekerja, berkarya, berkomunikasi, dan terhubung.
Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan Indosat, dari upaya menghubungkan Indonesia dengan dunia hingga menghadirkan berbagai inovasi dan solusi berbasis AI yang dirancang untuk memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Hal senada juga disampaikan Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, bahwa Peran-Tara merefleksikan posisi Indosat sebagai penghubung antara teknologi dan kebutuhan manusia.
“Peran-Tara selaras dengan peran Indosat sebagai penghubung antara teknologi terbaik dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Bagi kami, teknologi, termasuk AI, akan lebih berarti ketika membawa manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Semangat ini sejalan dengan #LebihBaikIndosat, bahwa kemutakhiran teknologi pada akhirnya harus membuka lebih banyak kemungkinan bagi manusia.”

Pernyataan tersebut menegaskan satu gagasan penting: kemajuan teknologi tidak seharusnya berhenti pada ukuran seberapa pintar sebuah mesin, melainkan pada seberapa besar teknologi mampu memperluas kemungkinan manusia.
Seni sebagai Ruang untuk Merefleksikan Masa Depan
Di Ideafest 2026: Re-Humanize, Peran-Tara menjadi bagian dari pengalaman interaktif di booth Indosat. Pengunjung tidak hanya diajak menyaksikan karya seni, tetapi juga mengeksplorasi perjalanan teknologi Indosat sekaligus berinteraksi dengan berbagai pengalaman yang membawa perspektif lebih manusiawi terhadap teknologi.
Di tengah percakapan tentang AI yang kerap berfokus pada kecepatan, efisiensi, dan kemampuan mesin, Peran-Tara menawarkan sudut pandang yang berbeda. Ia mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali sesuatu yang mungkin mudah terlupakan: teknologi adalah ciptaan manusia, dan karena itu manusia pula yang bertanggung jawab menentukan untuk apa teknologi digunakan. Sebab, mungkin masa depan bukan semata-mata tentang seberapa jauh AI dapat berkembang.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa bijak manusia mengarahkan perkembangannya. Melalui Peran-Tara, Indosat dan Sarkodit menghadirkan ruang untuk merenungkan hubungan antara manusia, teknologi, dan masa depan—bahwa di balik setiap hardware, algoritma, dan kecerdasan artifisial, selalu ada heartware: manusia yang memberi ide, memilih arah, dan memberikan makna. (SMS|Foto: SMS & Dok. Indosat)
