Cacar api disebabkan oleh reaktivasi Virus Varicella Zoster (VZV), yaitu virus yang sama menyebabkan cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tersebut menjadi dorman dalam saraf tubuh dan dapat tereaktivasi kembali menjadi cacar api di kemudian hari.
Sekitar 9 dari 10 individu dewasa berusia di atas 50 tahun sudah memiliki virus yang menyebabkan cacar api. Akibatnya 1 dari 3 orang individu dewasa berisiko terkena cacar api selama hidupnya. Selain itu, diketahui pula bahwa individu dengan gangguan jantung dan diabetes juga lebih rentan terhadap infeksi cacar api.
Seiring bertambahnya usia (ARDI/age-related immunity decline), orang dewasa pada umumnya mengalami penurunan imunitas membuat semakin rentan terhadap infeksi, salah satunya infeksi virus dari penyakit Herpes Zoster. Penyakit ini sering terjadi pada lansia, karena kekebalan tubuh yang melemah. Penyakit infeksi dengan mortalitas dan morbiditas tinggi yang rentan dialami oleh orang dewasa sebenarnya dapat diupayakan pencegahannya melalui vaksinasi.

Cacar api tidak bisa menular dari satu orang ke orang lainnya. Namun, individu dengan penyakit cacar api yang aktif dapat menularkan VZV melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuh yang ada dan menyebabkan cacar air pada seseorang yang belum pernah memiliki riwayat cacar air. Dianjurkan bagi individu dengan penyakit cacar api yang masih aktif untuk menutup ruam Cacar Api dan menghindari kontak langsung dengan kelompok orang yang rentan. Setelah ruam lepuhan mengering, individu tersebut sudah tidak bisa menularkan VZV ke orang lain.
“Kami di Rumah Sakit Siloam Lippo Village juga menangani banyak pasien Herpes Zoster. Dengan komplikasi yang paling banyak kami tangani, yaitu Nyeri Pascaherpes (NPH). Berdasarkan cerita dari para penyintas, nyeri ini menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan berkurangnya kualitas hidup. Beberapa individu menyatakan bahwa nyeri ini menyebabkan berkurangnya produktivitas kerja, kualitas tidur, waktu dengan keluarga, dan kemampuan untuk menikmati aktivitas sehari-hari,” ujar dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Siloam Lippo Village, Tangerang.
Selain itu, dr. Sandra juga menambahkan bahwa banyak orang sebenarnya berisiko terkena Herpes Zoster (cacar api) tanpa menyadarinya hingga terlambat. Individu dengan penyakit penyerta seperti autoimun, kanker, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan ginjal memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api. Oleh karena itu, pencegahan cacar api jauh lebih penting daripada yang banyak orang sadari.

Komplikasi umum cacar api adalah nyeri saraf jangka panjang atau nyeri pascaherpes (NPH). NPH muncul pada lokasi ruam cacar api dan rasa nyeri dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah ruam cacar api sembuh. Sekitar 10%-18% orang dengan cacar api akan mengalami NPH dan pasien cacar api yang sudah lanjut usia lebih berisiko untuk mengalami NPH yang lebih menyakitkan daripada pasien cacar api yang berusia lebih muda. Selain NPH, komplikasi cacar api lainnya termasuk gangguan penglihatan, gangguan serebrovaskular, dan gangguan pendengaran.
Sesuai rekomendasi Satgas Imunisasi PAPDI 2025, vaksin Herpes Zoster direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit jantung, diabetes, dan juga penyakit ginjal. Dengan vaksinasi, kita dapat mengambil langkah proaktif untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup di masa mendatang. Vaksinasi dapat membantu mengurangi risiko terkena Herpes Zoster dan mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya jika infeksi tetap terjadi.
“Kami aktif meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi khusus tentang pentingnya pencegahan cacar api atau Herpes Zoster, termasuk vaksinasi sebagai langkah preventif yang efektif. Kami percaya bahwa edukasi dan akses informasi yang tepat dapat membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang lebih baik,” kata dr. Johan Wijoyo, Head of Medical Adult Vaccine GSK Indonesia, menegaskan komitmen GSK dalam mendukung upaya pencegahan penyakit menular melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. (Red. | Foto: Istimewa)
