Bagi dunia, nama Lee Kuan Yew dikenal sebagai negarawan terhebat abad ke-20 sekaligus seorang visioner sejati – pendiri Singapura modern yang membawa sebuah pulau terpencil di kawasan Asia Tenggara menjadi negara maju dan pusat keuangan dunia.

Apa yang dilakukan Perdana Menteri Lee Kuan Yew sungguh luar biasa. Sangat sulit dipercaya. Setelah “terusir dari Malaysia” akibat kekalahan partainya di tahun 1965, Lee benar-benar menangis di televisi nasional. Ia memandang daerah di sekelilingnya yang berupa rawa-rawa dipenuhi malaria tanpa sumber daya alam, tanpa air, dan tetangga yang bermusuhan. Namun usai menyeka air matanya, ia memutuskan untuk membangun oasis Dunia Pertama di tengah wilayah Dunia Ketiga, dan berhasil!
“Pelajari kehidupan dan karya Lee Kuan Yew, maka Anda akan tercengang,” ujar Charlie Munger, seorang investor legendaris, pengacara, aristek utama di balik kesuksesan Berkshire Hathaway, yang juga dikenal sebagai filantropis dan kritikus Bitcoin. Munger adalah salah seorang sahabat dekat Lee semasa hidupnya.
Lee Kuan Yew lahir dengan nama “Harry Lee” di koloni Inggris, dan salah satu lulusan terbaik di Fakultas Hukum Universitas Cambridge. Para profesor di sana mengakui bahwa ia lebih pintar dari mereka, tetapi Lee merasa tetap hanya seorang “penduduk asli” di tanah jajahan Inggris. Pengalaman hidup seperti inilah yang membuat Lee meski sangat cerdas, tetap rendah hati dan bijaksana ketika berkuasa.

Meski memimpin Singapura selama lebih dari tiga dekade, Lee Kuan Yew tidak hidup dalam kemewahan berlebihan. Pilihan hidupnya cenderung fungsional: pakaian rapi tanpa ornamen, rumah yang praktis, dan gaya hidup yang jauh dari kesan flamboyan apalagi glamour. Ia sangat sederhana, dan benci sekali pada korupsi. Untuk hal ini Lee Kuan Yew pernah berkata:
“Korupsi adalah kanker paling mematikan. Ia membunuh keadilan, mengubur kesempatan, dan mengusir pikiran-pikiran yang dapat membentuk masa depan suatu bangsa. Sudah saatnya kita memerangi wabah ini dan merebut kembali negara kita dari cengkeraman keserakahan.”

Sementara kesederhanaan yang melekat pada dirinya juga bukan pencitraan, melainkan refleksi dari keyakinannya bahwa pemimpin seharusnya memberi contoh – bahwa integritas terlihat dari bagaimana seseorang menjalani hidup sehari-hari.
“Saya sangat bertekad. Jika saya memutuskan bahwa sesuatu layak dilakukan, maka saya akan mencurahkan segenap hati dan jiwa saya untuk itu. Seluruh dunia mungkin menentang saya, tetapi jika saya tahu itu benar, saya akan melakukannya. Itulah tugas seorang pemimpin.”
Tak heran sepanjang karir politiknya, ia tetap menjadi tokoh berpengaruh dalam membentuk kebijakan dalam negeri dan luar negeri Singapura, sekaligus menjabat sebagai penasihat bagi para pemimpin asing sebagai negawaran senior. Namun di balik reputasi global dan kebijakan keras yang kerap dikaitkan dengannya, terdapat sisi manusiawi yang jarang dibicarakan: sosok seorang ayah, suami, dan individu dengan disiplin hidup yang nyaris asketis.
Di tengah posisinya sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di Asia, Lee Kuan Yew menjalani kehidupan rumah tangga yang relatif tertutup. Kepergian sang istri pada 2010 menjadi salah satu momen paling emosional dalam hidup Lee – ia secara terbuka mengakui kehilangan tersebut sebagai pukulan terbesar dalam hidupnya, sebab bagi Lee, keluarga bukan sebuah pelarian dari tanggung jawab publik, melainkan sumber kekuatan moral:

“Pada akhirnya, yang paling saya hargai adalah hubungan antarmanusia. Dengan dukungan tak henti-hentinya dari istri sebagai pasangan hidup saya, saya telah menjalani hidup saya sepenuhnya. Persahabatan yang saya jalin dan ikatan keluarga yang erat yang saya pelihara telah memberi saya rasa puas atas kehidupan yang saya jalani dengan baik, dan telah menjadikan saya seperti sekarang ini.”
Lee Kuan Yew juga dikenal sebagai pribadi yang menjalani hidup dengan rutinitas yang konsisten dan sederhana. Ia dikenal bangun pagi, membaca laporan dengan teliti, dan menjaga Kesehatan tubuh hingga lanjut usia. Bagi Lee, disiplin bukanlah pembatas kebebasan, melainkan fondasi untuk kejernihan berpikir.

Dalam berbagai wawancara, ia kerap menekankan pentingnya menjaga tubuh dan pikiran agar tetap berfungsi optimal. Olahraga ringan, pola makan terkontrol, serta tidur yang cukup menjadi bagian dari kesehariannya – sebuah filosofi hidup yang kini terasa relevan di tengah budaya kerja modern yang sering mengabaikan batas tubuh.
“Disiplin adalah cara paling elegan untuk merawat kejernihan berpikir,” ujar Lee, “Jika tubuh Anda runtuh, pikiran Anda akan mengikutinya,” ia menegaskan.
Lee Kuan Yew meninggal dunia akibat pneumonia pada 23 Maret 2015 pada usia 91 tahun. Bagi generasi muda, khususnya di Singapura, Lee Kuan Yew sering hadir sebagai figur sejarah – jauh dan monumental. Namun jika dilihat lebih dekat, warisan terbesarnya bukan hanya sistem atau kebijakan, melainkan nilai hidup: disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, dan keberanian mengambil keputusan sulit. Ia adalah contoh manusia dengan prinsip hidup yang dijalani tanpa mengenal kompromi. (SMS I Foto: Istimewa)
