NIHI Sumba Luncurkan Riding & Racquet Club, Destinasi Mewah yang Merayakan Warisan Kuda Sandalwood
Menghadirkan pengalaman berkuda, tenis, kuliner, dan gaya hidup berkelas di tepi Samudra Hindia, Riding & Racquet Club menjadi babak baru perjalanan NIHI Sumba dalam memadukan kemewahan, budaya, dan keberlanjutan.
Di Pulau Sumba, suara debur ombak Samudra Hindia berpadu dengan derap langkah kuda Sandalwood yang berlari di sepanjang garis pantai. Pemandangan tersebut bukan sekadar lanskap tropis yang memukau, melainkan warisan budaya yang telah menjadi denyut kehidupan masyarakat Sumba sekaligus identitas yang melekat pada NIHI Sumba, salah satu resor paling prestisius di dunia.

Kini, kisah tersebut memasuki babak baru melalui peluncuran Riding & Racquet Club, sebuah destinasi gaya hidup eksklusif yang memadukan tradisi equestrian, olahraga, kuliner, serta kemewahan yang berpijak pada kekayaan budaya lokal. Berlokasi di tepi pantai dengan panorama Samudra Hindia, fasilitas terbaru ini menjadi simbol evolusi NIHI Sumba setelah meraih sertifikasi Certified B Corporation®, sebuah pengakuan internasional atas komitmennya terhadap praktik hospitality yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Perpaduan Tradisi, Gaya Hidup, dan Kemewahan
Riding & Racquet Club bukan sekadar fasilitas baru, melainkan ruang yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman hidup yang lebih utuh selama berada di Sumba.
Kompleks ini menaungi Sandalwood Stables, lapangan tenis berstandar internasional, clubhouse lounge & bar, butik eksklusif, hingga pengalaman kuliner ikonis Bakar di Kandang Kuda, tradisi makan malam yang digelar setiap Senin malam.

Setiap sudutnya mengajak tamu menikmati ritme kehidupan Pulau Sumba dengan cara yang berbeda. Pagi dimulai melalui pertandingan tenis berlatar panorama laut lepas, sore diisi dengan menyaksikan kuda-kuda Sandalwood kembali ke kandang, sementara malam ditutup dengan santap bersama di bawah atap alang-alang ditemani langit penuh bintang dan matahari yang tenggelam di cakrawala.
Desain yang Terinspirasi Perjalanan dan Kenangan
Riding & Racquet Club lahir dari visi para pendiri NIHI, James McBride dan Chris Burch, bersama Creative Director Caroline Usher serta UBD Global.
Filosofi desain yang mereka usung meneruskan karakter khas NIHI Sumba sebagai resor yang terasa personal, hangat, dan autentik. Setiap ruang dirancang layaknya sebuah rumah yang tumbuh dari perjalanan panjang, dipenuhi kisah, koleksi, serta kenangan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Memasuki clubhouse, tamu akan merasakan atmosfer yang mengingatkan pada polo lounge klasik dunia, namun tetap berpadu harmonis dengan karakter khas Pulau Sumba.
Dinding kayu jati bertekstur, langit-langit tinggi beratapkan alang-alang, bar bernuansa hijau tua, hingga pencahayaan hangat menciptakan suasana elegan yang sarat nuansa nostalgia.
Interiornya diperkaya berbagai koleksi seperti stik polo vintage, raket tenis kayu antik, perlengkapan equestrian, artefak budaya Sumba, hingga ukiran kayu buatan tangan yang dikurasi secara khusus. Keseluruhan elemen tersebut membentuk ruang yang hidup sekaligus memperlihatkan hubungan erat antara desain, budaya, dan alam.
Kuda Sandalwood, Jantung Pengalaman NIHI Sumba
Dari teras clubhouse, pandangan langsung mengarah ke Sandalwood Stables, rumah bagi kuda-kuda Sandalwood yang selama ini menjadi ikon NIHI Sumba.

Sebagai salah satu ras kuda paling berharga di Indonesia, kuda Sandalwood telah menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Sumba selama berabad-abad. Di NIHI, kehadirannya bukan hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga medium untuk memperkenalkan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Melalui berbagai aktivitas berkuda, para tamu diajak memahami lebih dekat hubungan masyarakat Sumba dengan hewan yang telah menjadi simbol kehormatan, kebebasan, dan tradisi di pulau tersebut.
Saat Senja Menjadi Pengalaman yang Berbeda
Clubhouse menjadi ruang berkumpul untuk menikmati minuman sambil memandang matahari terbenam di ufuk barat. Setiap Senin malam, pengalaman tersebut berlanjut melalui Bakar di Kandang Kuda, sebuah tradisi makan malam terbuka yang menyajikan hidangan panggang di bawah taburan bintang, ditemani suara ombak dan suasana hangat dari Sandalwood Stables.
Momen-momen seperti inilah yang memperlihatkan bahwa kemewahan di NIHI Sumba tidak dibangun melalui kemegahan semata, melainkan melalui kedekatan dengan alam, budaya, dan pengalaman yang autentik.
Babak Baru Perjalanan NIHI Sumba
CEO sekaligus Co-Founder NIHI Hotels, James McBride, mengatakan Riding & Racquet Club merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya equestrian yang telah lama menjadi bagian penting dalam hidupnya sekaligus penghormatan terhadap warisan Pulau Sumba.
“Di sinilah polo lounge menyatu dengan esensi Sumba, warisan kuda-kuda Sandalwood, kehangatan yang menyelimuti setiap kebersamaan, serta karakter khas dari pulau ini. Polo selalu menjadi bagian penting dalam hidup saya, dan melalui NIHI, saya dapat mewujudkan pengalaman ini dengan cara yang terasa begitu khas Sumba,” ujar James McBride.
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi NIHI yang terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Lebih dari Sekadar Destinasi Lifestyle
Di tengah tren wisata mewah yang semakin menekankan autentisitas dan keberlanjutan, NIHI menghadirkan pendekatan berbeda: menjadikan alam, budaya, dan masyarakat lokal sebagai pusat dari setiap pengalaman yang ditawarkan.

Riding & Racquet Club bukan hanya tempat untuk berkuda, bermain tenis, atau menikmati kuliner. Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan inovasi, sekaligus menjadi simbol bagaimana sebuah destinasi mewah dapat tumbuh bersama komunitas dan warisan budaya yang telah menjadikannya istimewa.
Dengan peluncuran fasilitas terbaru ini, NIHI Sumba kembali menegaskan bahwa kemewahan sejati tidak hanya diukur dari fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya menjaga jiwa sebuah tempat. Riding & Racquet Club pun menjadi babak baru, bukan hanya bagi para tamu yang datang dari berbagai penjuru dunia, melainkan juga bagi masa depan Pulau Sumba yang terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya. (VIT | Foto: Dok. NIHI Sumba)
