Menenun Masa Depan Mode: Indonesia dan Prancis Satukan Inovasi, Kerajinan, dan Keberlanjutan Lewat PINTU Focus Week 2026
Seminar Indonesian-French Seminar on Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow menjadi ruang bertemunya para desainer, akademisi, peneliti, dan pelaku industri kreatif untuk merumuskan masa depan fashion yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan berakar pada keahlian craftsmanship.
Di tengah perubahan besar yang tengah melanda industri mode global, pertanyaan paling penting bukan lagi sekadar apa yang akan dikenakan di masa depan, melainkan bagaimana pakaian itu diciptakan, oleh siapa, dan dengan nilai apa.

Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari Indonesian-French Seminar on Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow, sebuah forum intelektual yang diselenggarakan pada 28 Juli 2026 di Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta. Seminar ini menjadi salah satu agenda utama dalam PINTU Focus Week 2026 sekaligus bagian dari Tahun Inovasi Prancis–Indonesia 2026, mempertegas semakin eratnya kolaborasi kedua negara dalam membangun masa depan industri mode yang lebih bertanggung jawab.
Diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie (IFI), bekerja sama dengan LAKON Indonesia dan JF3 Fashion Festival melalui program PINTU Fashion Incubator, seminar ini menghadirkan ruang dialog lintas disiplin yang mempertemukan desainer, akademisi, peneliti, pendidik, hingga pelaku industri kreatif dari Indonesia dan Prancis.
Craftsmanship sebagai Fondasi Slow Fashion
Sesi panel pertama bertajuk Craftsmanship and Slow Fashion mengangkat kembali nilai penting keahlian kerajinan sebagai fondasi industri mode yang berkelanjutan.
Di tengah dominasi produksi massal dan siklus konsumsi yang semakin cepat, para pembicara mengajak audiens untuk melihat bahwa masa depan fashion justru dapat dibangun melalui pendekatan yang lebih manusiawi—menghargai proses, material lokal, pengetahuan tradisional, serta hubungan erat antara desainer dan para pengrajin.
Diskusi menghadirkan sejumlah tokoh penting dari Indonesia dan Prancis, antara lain Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia; Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL; Fengyuan Dai, pendiri label mode 307670; serta dua desainer PINTU Residents, Gabriel Marcella Budiono dan Mickaël Nana dari label MARLON NANA.

Berangkat dari pengalaman mereka masing-masing, para panelis menegaskan bahwa craftsmanship bukan sekadar teknik produksi, melainkan juga bahasa budaya yang mampu melahirkan inovasi sekaligus menjaga identitas lokal di tengah kompetisi industri global.
Saat Inovasi Tekstil Menjadi Penentu Masa Depan Fashion
Jika panel pertama berbicara tentang akar budaya, maka sesi kedua bertajuk Textile Innovation and Future of Fashion mengajak peserta melihat bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi membentuk lanskap baru industri mode.
Pembahasan meluas dari riset tekstil mutakhir, desain sirkular (circular design), hingga transformasi pendidikan mode yang semakin adaptif terhadap tantangan lingkungan dan perubahan teknologi.
Berbagai perspektif disampaikan oleh Pascaline Wilhelm, Direktur ENAMOMA-PSL; Mathieu Buard, kurator sekaligus profesor École Duperré Paris; Alia Sarastita, Founder The New Factory; serta Mohamad Widodo, Head of Postgraduate Studies in Textile Engineering and Apparel Technology Politeknik STTT Bandung.
Mereka sepakat bahwa inovasi tidak lagi dapat dipisahkan dari kolaborasi lintas disiplin. Masa depan industri mode membutuhkan sinergi antara dunia akademik, riset ilmiah, industri kreatif, dan pendidikan agar mampu melahirkan generasi profesional yang siap menghadapi tantangan global.
PINTU: Ketika Diplomasi Bertemu Kreativitas
Dipandu oleh Dino Augusto, seminar berlangsung sebagai ruang pertukaran gagasan yang dinamis sekaligus membuka peluang kolaborasi baru antara Indonesia dan Prancis.
Interaksi langsung antara para desainer, peneliti, akademisi, hingga pelaku industri menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya berbagai kerja sama lintas negara, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, pengembangan produk, maupun kewirausahaan kreatif.

Semangat inilah yang selama ini menjadi fondasi PINTU Fashion Incubator—sebuah inisiatif bersama yang tidak hanya membangun talenta, tetapi juga membangun jembatan antara dua ekosistem mode dengan kekuatan yang saling melengkapi.
Di satu sisi, Indonesia menawarkan kekayaan tradisi tekstil dan kerajinan yang telah diwariskan lintas generasi. Di sisi lain, Prancis menghadirkan tradisi pendidikan desain, riset, dan inovasi yang telah lama menjadi referensi dunia. Ketika keduanya dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi, lahirlah kemungkinan baru bagi masa depan industri mode yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Mode sebagai Ekosistem Pengetahuan
Melalui seminar ini, PINTU Focus Week 2026 menegaskan bahwa industri mode masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang estetika, tren, atau nilai komersial semata.
Fashion kini menjadi ruang bertemunya pengetahuan, teknologi, budaya, dan tanggung jawab sosial. Keahlian tangan para pengrajin, riset ilmiah di laboratorium tekstil, hingga pendidikan bagi generasi desainer berikutnya merupakan bagian dari ekosistem yang sama.
Di sinilah kolaborasi Indonesia dan Prancis menemukan maknanya. Bukan sekadar pertukaran budaya, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun industri kreatif yang mampu tumbuh secara berkelanjutan tanpa kehilangan identitas.
Melalui dialog, inovasi, dan kerja sama profesional yang terus diperkuat, kedua negara sedang menenun sebuah visi bersama—bahwa masa depan fashion terbaik adalah masa depan yang menghargai manusia, budaya, dan bumi secara bersamaan. (SMS | Foto: SMS)
