Mendengarkan dengan Hati: Mengapa Empati Menjadi Bagian Penting dari Kesehatan Mental
Melalui “Listen With Heart”, Teras by Plataran, frank green, dan IKAPSI UNDIP mengajak masyarakat memahami emosi serta membangun hubungan yang lebih suportif melalui kebiasaan mendengarkan tanpa menghakimi.
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, mendengarkan terkadang menjadi hal yang justru paling sulit dilakukan. Percakapan berlangsung, pesan saling bertukar, dan respons datang silih berganti. Namun, tidak setiap percakapan memberi seseorang kesempatan untuk benar-benar merasa dipahami.
Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan jawaban, apalagi nasihat panjang. Ia hanya ingin bercerita tanpa dipotong, mengungkapkan perasaan tanpa dianggap berlebihan, dan menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Gagasan inilah yang menjadi inti Listen With Heart, sebuah kegiatan yang diselenggarakan Teras by Plataran dan frank green bersama Ikatan Alumni Psikologi Universitas Diponegoro (IKAPSI UNDIP) dalam rangka memperingati World Mental Health Day 2026.
Berlangsung di Teras by Plataran, Pondok Indah Mall 2, Jakarta, acara ini mengajak peserta mengeksplorasi hubungan antara refleksi diri, pengenalan emosi, dan kemampuan mendengarkan dengan empati. Alih-alih membatasi pembahasan kesehatan mental pada diskusi formal, kegiatan ini menggabungkan percakapan, pengalaman sensoris, dan aktivitas kreatif sebagai pintu masuk untuk memahami diri sendiri maupun orang lain.
Mengenali Emosi Sebelum Memahami Orang Lain
Rangkaian kegiatan dibuka melalui Cup of Calm, sesi menikmati minuman khas Teras by Plataran menggunakan wadah minum frank green dalam suasana santai. Setelah itu, peserta mengikuti Blooming Together by IKRAR, aktivitas merangkai bunga bersama Laura Muljadi, model sekaligus figur publik. Kegiatan kreatif ini menjadi sarana untuk berhenti sejenak, mengenali perasaan, dan mengekspresikan emosi melalui proses merangkai bunga.
Di balik aktivitas sederhana tersebut, terdapat gagasan bahwa memahami orang lain dapat dimulai dari kesediaan mengenali apa yang sedang dirasakan diri sendiri.

Emosi tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dijelaskan. Ada perasaan yang dapat diungkapkan melalui kata-kata, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk dikenali dan dipahami. Memberi ruang bagi perasaan tersebut tanpa buru-buru menilainya dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
Pendekatan ini juga mengingatkan bahwa tidak semua emosi harus segera diperbaiki atau dihilangkan. Terkadang, hal pertama yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakuinya.
Mendengarkan Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Pembahasan kemudian berlanjut dalam sesi Heart to Heart Talkshow: The Power of Empathetic Listening, yang menghadirkan dua psikolog dari IKAPSI UNDIP, Hesty Novitasary, M.Psi., Psikolog, dan Nyayu Nuurhasanah, M.Psi., Psikolog.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menjadi pendengar yang baik, berusaha memahami perasaan di balik cerita, serta menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk berbicara. Mendengarkan dengan empati berbeda dari sekadar mendengar kata-kata. Ada upaya untuk memahami sudut pandang orang lain tanpa terburu-buru menyela, menyimpulkan, atau membandingkan pengalaman mereka dengan pengalaman pribadi.
Perbedaan itu terlihat dalam respons sederhana. Ketika seseorang menceritakan persoalannya, misalnya, respons spontan seperti “Kamu seharusnya tidak perlu merasa begitu” mungkin dimaksudkan untuk menenangkan. Namun, kalimat tersebut juga berpotensi membuat orang yang bercerita merasa emosinya tidak dipahami.
Sebaliknya, pertanyaan seperti “Kamu mau cerita lebih banyak?” atau “Apa yang paling berat buatmu saat ini?” dapat membuka ruang percakapan yang lebih nyaman.
Mendengarkan secara empatik bukan berarti harus selalu menyetujui pandangan seseorang. Intinya adalah memberikan perhatian, berusaha memahami pengalaman mereka, dan menghormati perasaan yang sedang diungkapkan. Kebiasaan ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih suportif, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun tempat kerja.

Menciptakan Ruang Aman untuk Bercerita
Ketua IKAPSI UNDIP periode 2026–2031, Firman, menekankan bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental dapat dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami satu sama lain. Melalui Listen With Heart, ia berharap masyarakat semakin peka terhadap perasaan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya, sekaligus mampu menciptakan ruang yang memungkinkan seseorang bercerita tanpa takut dihakimi.
Pesan tersebut menempatkan kepedulian bukan sebagai sesuatu yang selalu membutuhkan tindakan besar. Dalam keseharian, perhatian dapat muncul melalui kesediaan meluangkan waktu, memberikan ruang bagi orang lain untuk menyelesaikan ceritanya, atau menanyakan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Penting pula untuk memahami bahwa menjadi pendengar yang baik bukan berarti mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan semua persoalan orang lain. Menghormati batas pribadi, menjaga kepercayaan, dan mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional juga merupakan bagian dari dukungan yang sehat.
Kegiatan seperti ini dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental. Namun, percakapan tentang kesejahteraan psikologis akan memiliki makna lebih besar apabila nilai-nilai yang dibicarakan tidak berhenti di ruang acara, melainkan diterapkan dalam interaksi sehari-hari.
Empati Dimulai dari Hal Sederhana
Kesehatan mental kerap dibicarakan melalui istilah yang kompleks, padahal sebagian praktik kepedulian dapat dimulai dari tindakan yang sederhana: mengenali emosi sendiri, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak menganggap remeh pengalaman orang lain.
Tidak setiap masalah dapat diselesaikan melalui percakapan. Namun, percakapan yang berlangsung dengan perhatian dan rasa hormat dapat membantu seseorang merasa tidak menghadapi pengalamannya sendirian.
Melalui Listen With Heart, Teras by Plataran, frank green, dan IKAPSI UNDIP membawa pesan bahwa empati bukan sekadar konsep yang terdengar baik, melainkan keterampilan yang perlu dipelajari dan dipraktikkan. Sebab, dalam hubungan antarmanusia, tidak semua kehadiran harus ditandai dengan kata-kata yang sempurna. Terkadang, cukup dengan hadir sepenuhnya, mendengarkan sampai tuntas, dan tidak buru-buru menghakimi, seseorang dapat menemukan ruang untuk merasa lebih dipahami. (SMS|Foto:SMS)
