Kasus influenza dan ILI meningkat, dokter ingatkan risiko komplikasi pada kelompok rentan. Lonjakan penyakit dengan gejala mirip flu terjadi di sejumlah daerah. Pakar kesehatan menegaskan influenza bukan sekadar batuk pilek biasa dan dapat memicu komplikasi serius pada lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.
Kasus penyakit dengan gejala mirip influenza atau influenza-like illness (ILI) dilaporkan meningkat di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama karena gejalanya kerap dianggap sebagai “flu biasa” sehingga penanganannya sering kali terlambat.
Padahal, influenza bukan sekadar batuk dan pilek ringan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, influenza musiman menyebabkan sekitar 3-5 juta kasus penyakit berat dan hingga 650.000 kematian akibat komplikasi pernapasan setiap tahun di seluruh dunia. Angka tersebut menunjukkan bahwa influenza memiliki dampak kesehatan yang tidak bisa diremehkan.
Memahami Perbedaan Influenza dan ILI
Secara medis, ILI adalah istilah untuk menggambarkan sekumpulan gejala seperti demam (>38°C), batuk, dan sakit tenggorokan tanpa penyebab pasti yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Artinya, tidak semua ILI adalah influenza.
“ILI itu istilah klinis untuk pemantauan epidemiologi. Sementara influenza adalah diagnosis spesifik yang disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B,” ujar seorang epidemiologi dari fakultas kesehatan masyarakat di salah satu universitas di Jakarta.
Virus lain seperti rhinovirus, adenovirus, hingga human metapneumovirus juga dapat menimbulkan gejala serupa. Namun, yang membedakan influenza dan flu biasa adalah onset yang mendadak dan gejala sistemik yang lebih berat, seperti nyeri otot hebat, lemas ekstrem, dan demam tinggi hingga 39° – 40° C.
Mengapa Kasus Meningkat?
Beberapa faktor yang memicu peningkatan kasus influenza dsan ILI antara lain:
- Perubahan musim dan cuaca ekstrem
- Mobilitas tinggi dan aktivitas di ruang tertutup
- Kepatuhan protokol kesehatan yang menurun
- Penurunan cakupan vaksinasi influenza
Virus influenza dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam dan menular dengan cepat di lingkungan padat seperti sekolah dan perkantoran.
Dokter spesialis paru dari sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta menjelaskan, bahwa peningkatan kasus influenza dan ILI umumnya terjadi saat perubahan musim dan peningkatan mobilitas masyarakat.
“Setelah pandemi, aktivitas sosial kembali tinggi. Interaksi di ruang tertutup, perkantoran, sekolah dan transportasi umum meningkatnya risiko penularan virus pernapasan,” ujarnya.
Virus influenza menyebar melalui droplet saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Partikel virus juga dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam, tergantung lingkungan.
Selain faktor lingkungan, penurunan cakupan vaksinasi influenza tahunan juga menjadi perhatian.
“Vaksin influenza itu bukan sekali sekali seumur hidup. Harus diperbarui setiap tahun karena virusnya terus bermutasi,” kata dokter tersebut.
Kelompok Paling Rentan
Sebagian besar orang sehat dapat pulih dalam 5-7 hari. Namun, kelompok tertentu berisiko mengalami komplikasi serius.
Kelompok rentan meliputi:
- Lansia di atas 60 tahun
- Anak balita
- Ibu hamil
- Penderita penyakit kronis (asma, diabetes, penyakit jantung)
- Individu dengan gangguan sistem imun
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain pneumonia, perburukan penyakit paru kronis, radang otot jantung (miokarditis), hingga gagal nafas.
“Influenza bisa memperparah kondisi komorbid. Pada pasien diabetes misalnya, infeksi berat dapat memicu ketidakseimbangan gula darah yang berbahaya,” jelas spesialis penyakit dalam dari rumah sakit swasta Jakarta.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala berikut:
- Demam tinggi lebih dari 3 hari
- Sesak nafas
- Nyeri dada
- Penurunan kesadaran
- Anak tampak sangat lemas atau tidak mau minum
Deteksi dini penting untuk mencegah komplikasi. Jika gejala tidak membaik dalam waktu satu minggu atau justru memburuk, pemeriksaan medis diperlukan.
“Jangan menunggu sampai sesak nafas berat. Penanganan dini bisa mencegah komplikasi,” ujar dokter tersebut.
Pentingnya Pencegahan dan Vaksinasi
Pakar kesehatan menekankan bahwa pencegahan tetap menjadi strategi utama.
Langkah sederhana yang efektif antara lain:
- Vaksinasi influenza tahunan
- Cuci tangan minimal 20 detik dengan sabun
- Menggunakan masker saat sakit
- Menjaga etika batuk dan bersin
- Istirahat cukup dan konsumsi makanan bergizi
“Vaksin influenza direkomendasikan setahun sekali, terutama untuk kelompok risiko tinggi. Efektivitas dapat mengurangi risiko rawat inap dan komplikasi berat,” kata epidemiolog tersebut.
Bukan Sekadar Flu Biasa
Influenza dan ILI bukan sekadar flu biasa. Meski sering dianggap ringan, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius pada kelompok rentan. Peningkatan kasus ILI, saat ini menjadi pengingat pentingnya menjaga daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dan masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua gejala flu bisa dianggap ringan. Edukasi yang tepat akan membantu mencegah keterlambatan diagnosis dan pengobatan.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Influenza memang umum, tetapi dampaknya bisa serius bila tidak ditangani dengan benar,” ujar dokter spesialis paru tersebut.
Kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala dan melakukan pencegahan akan sangat membantu menekan penyebaran penyakit ini. Dengan mengenali perbedaan influenza dan ILI, memahami faktor risiko, serta menerapkan langkah pencegahan, penyebaran penyakit ini dapat ditekan dan komplikasi dapat diminimalkan. (ALG | Foto: Istimewa)
