Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung adalah gangguan pencernaan saat cairan asam lambung ‘naik’ dari lambung ke kerongkongan dan mengiritasi lapisan bagian dalam saluran pencernaan yang dilewati asam lambung.
Umumnya saat terjadi kekambuhan, penderita GERD mengalami rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi asam) dan sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati (heartburn). Selain itu, penderitanya juga kerap merasakan mual dan muntah, begah, nyeri dada, bahkan gangguan pernapasan.
Kembali ke kampung halaman di masa lebaran atau mudik telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. “Namun, bagi Anda yang memiliki riwayat Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), perjalanan jauh dapat menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, jika perjalanan mudik dilakukan saat masih menjalankan ibadah puasa.

Perubahan jam makan, kelelahan fisik, hingga stres selama di perjalanan sering kali memicu naiknya asam lambung. Karenanya, penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika kondisi GERD kambuh di perjalanan,” papar Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp. P.D, Subsp. G.E.H.(K) selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah.
Faktor Pemicu Gerd
Saat dalam perjalanan, kondisi GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain:
- Terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan.
- Mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan.
- Posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut, sehingga mendorong asam lambung naik.
- Stres dan kelelahan dalam perjalanan.

Pertolongan Pertama saat GERD Menyerang
Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa, Dr. dr. Hasan Maulahela menyarankan untuk melakukan langkah berikut untuk meredakan gejala:
- Longgarkan pakaian
Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan. Tekanan pada perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung.
- Atur posisi duduk
Tegakkan posisi duduk, jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut untuk memanfaatkan gaya gravitasi agar asam lambung tidak terus naik.
- Lakukan pernapasan dalam
Tarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Hal ini membantu merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.

Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. “Segerakan berbuka dengan air hangat bukan air dingin atau air dengan es batu dan konsumsi obat jika perlu. Hindari mengonsumsi makanan maupun minuman yang dapat memperburuk kondisi. Namun, jika gejala GERD yang Anda alami tak berangsur pulih, segera kunjungi unit Emergency rumah sakit terdekat untuk penanganan yang tepat. Penting untuk mengetahui alamat-alamat rumah sakit di jalur mudik yang Anda lewati,” lanjut Dr. dr. Hasan Maulahela.
Tips Aman Berpuasa Penderita GERD
Bagi penderita GERD yang berencana mudik tetapi ingin tetap berpuasa secara aman, ia berpesan berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Jangan lewatkan sahur meski sedang berada dalam perjalanan. Pilih karbohidrat kompleks dan serat tinggi dengan porsi yang cukup. Upayakan untuk tidak terburu-buru saat makan dan minum.
- Hindari “balas dendam” saat berbuka puasa. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi “kaget”.
- Jangan langsung tidur setelah makan. Beri jeda minimal 3 jam setelah makan (sahur/buka) sebelum berbaring.
Kelola stres dengan baik. Perjalanan macet dapat memicu stres yang meningkatkan asam lambung dan tetaplah tenang dan beristirahatlah secara berkala di rest area.
(Red. | Foto: Freepik)
