Empat Musim Pertiwi: Kepulangan Penuh Luka dan Misteri Karya Kamila Andini
Dua puluh tahun berlalu. Pertiwi akhirnya pulang—namun kampung halaman tak lagi sama, dan ia pun bukan perempuan yang dulu pergi. Di lanskap Bromo yang megah sekaligus menyimpan kesunyian, sebuah perjalanan tentang luka, trauma, misteri, dan harapan dimulai.
Ada kepulangan yang tidak pernah benar-benar sederhana. Namun, bagi Pertiwi, kembali ke kampung halaman setelah 20 tahun mendekam di penjara bukan sekadar perjalanan menuju sebuah tempat. Ia adalah perjalanan untuk berhadapan dengan masa lalu, luka yang belum selesai, sekaligus pertanyaan tentang siapa dirinya setelah begitu banyak hal direnggut oleh waktu.

Inilah dunia yang dibangun Empat Musim Pertiwi, film terbaru Forka Films karya sutradara dan penulis Kamila Andini, dengan produser Ifa Isfansyah. Film ini membawa penonton mengikuti perjalanan seorang perempuan yang pulang, tetapi justru menemukan bahwa rumah bukan selalu tempat yang mudah untuk kembali.
Lanskap Bromo menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Hamparan alam vulkanik yang luas, keras, dan sunyi memberikan tekstur visual yang kuat bagi perjalanan Pertiwi. Dipadukan dengan busana bernuansa cowboy western, perjalanan tersebut terasa seperti sebuah pengembaraan panjang—seolah Pertiwi sedang melintasi ruang sekaligus waktu untuk mencari sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya.
Namun, Empat Musim Pertiwi tidak berhenti sebagai drama tentang kepulangan. Film ini bergerak melintasi drama, suspense thriller, misteri, hingga elemen sci-fi. Perubahan genre tersebut menjadi bagian dari pendekatan kreatif Kamila Andini dan Ifa Isfansyah untuk menciptakan pengalaman sinematik yang imersif, sekaligus membawa penonton semakin jauh ke dalam perjalanan batin Pertiwi.
Pertiwi dan Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Peran Pertiwi dipercayakan kepada Putri Marino. Untuk karakter yang menyimpan begitu banyak lapisan pengalaman, tantangannya bukan sekadar memperlihatkan kesedihan, melainkan membuat penonton memahami bagaimana seseorang dapat tumbuh dari luka yang begitu panjang.
Putri menggambarkan Pertiwi sebagai perempuan muda dengan jiwa yang telah melampaui usianya. Pengalaman hidup telah membuatnya menjadi seseorang yang berbeda dari perempuan yang mungkin dibayangkan orang-orang di kampung halamannya.
Untuk mendalami karakter tersebut, Putri memilih membaca buku sebagai salah satu cara memahami dunia batin Pertiwi. Ia bahkan tidak mengambil proyek lain selama menjalani proses tersebut.
“Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan kembali dirinya. Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi orang yang sama,” ujar Putri Marino.
Kalimat itu seperti menjadi kunci untuk memahami film ini. Sebab, kepulangan Pertiwi bukan tentang menemukan kembali kehidupan lama. Justru sebaliknya, ia harus menemukan dirinya yang baru.

Di tengah perjalanan tersebut, Pertiwi perlahan menemukan ruang untuk bertumbuh bersama orang-orang yang selama ini berada di pinggir kehidupan kampungnya. Dari sana, film mulai memperlihatkan bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari mereka yang paling kuat. Kadang, kekuatan justru tumbuh dari orang-orang yang sama-sama pernah terluka.
Dari Trauma Kolektif Menuju Kekuatan Bersama
Bagi Kamila Andini, kisah Pertiwi tidak berdiri sendiri. Ada persoalan ketidakadilan dan trauma kolektif yang menjadi lapisan penting dalam film. Namun, alih-alih menjadikan trauma sebagai titik akhir, Kamila mencoba melihat bagaimana seseorang dapat menemukan kekuatan melalui kerentanannya.
“Bicara tentang trauma kolektif, tapi juga bicara tentang collective power yang bisa didapatkan dari perjalanan Pertiwi,” ujar Kamila.
Di sinilah Empat Musim Pertiwi menemukan relevansinya. Film ini tidak hanya bertanya tentang apa yang terjadi pada Pertiwi, tetapi juga tentang apa yang dapat dilakukan manusia setelah mengalami sesuatu yang mengubah hidupnya. Apakah luka hanya akan menjadi beban, atau justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk membantu orang lain?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin kuat karena perjalanan Pertiwi dibungkus dalam pengalaman visual yang tidak konvensional.
Bromo, Misteri, dan Sinema yang Mengajak Penonton Masuk ke Dalam Cerita
Bromo bukan sekadar latar belakang. Lanskapnya menjadi semacam karakter yang menemani perjalanan Pertiwi. Keheningan, keluasan alam, serta tekstur pegunungan vulkanik menciptakan atmosfer yang kontras dengan kegelisahan karakter utamanya. Ada keindahan, tetapi juga sesuatu yang terasa asing dan mengancam. Perasaan itulah yang menjadi pintu masuk menuju lapisan misteri film.
Pendekatan visual dan perpindahan genre membuat perjalanan Pertiwi tidak selalu dapat ditebak. Penonton diajak bergerak dari drama emosional menuju suspense thriller, misteri, bahkan sci-fi.
Bagi Ifa Isfansyah, pengalaman sinematik tersebut bukan sekadar eksperimen kreatif. Ia ingin penonton ikut merasakan perjalanan Pertiwi secara utuh.
“Di balik cinematic experience yang imersif, penonton merasa relate dengan situasi saat ini. Saya harap film ini bisa menyadarkan pentingnya untuk kita semua saling menjaga,” ujar Ifa.

Dari Indonesia Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Empat Musim Pertiwi ternyata tidak berhenti di Bromo. Film ini telah terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Sebelumnya, film juga mencatatkan world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF).
Pada 8 Oktober 2026, tepat saat tayang di bioskop Indonesia, film ini juga akan diputar di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Perjalanannya kemudian berlanjut ke Tokyo International Film Festival dan Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026.
Rangkaian festival tersebut memperlihatkan semakin luasnya ruang bagi karya Kamila Andini di panggung perfilman internasional. Bukan kebetulan pula jika Empat Musim Pertiwi menjadi proyek terbesar Forka Films. Film ini merupakan hasil ko-produksi enam negara: Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Kolaborasi tersebut turut melibatkan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Namun pada akhirnya, sebesar apa pun skala produksinya, inti film ini tetap berada pada satu perjalanan yang sangat personal: seorang perempuan yang pulang setelah kehilangan dua dekade hidupnya.
Pertiwi mungkin kembali ke tempat yang pernah ia kenal. Tetapi kepulangan tidak pernah menjamin seseorang akan menemukan rumah yang sama. Kadang, rumah justru ditemukan setelah seseorang berani berjalan melewati luka, menghadapi masa lalu, dan menerima bahwa dirinya telah berubah. Dan pada 8 Oktober 2026, perjalanan itu akhirnya dibuka untuk penonton Indonesia. Saatnya menyaksikan Pertiwi pulang. (SMS|Foto: Dok. Forka Films)
