Elegansi dalam Setiap Tegukan: Menyelami Dunia Sake Premium Jepang
Sake bukan sekadar minuman tradisional Jepang, melainkan hasil dari proses panjang yang memadukan teknik, bahan berkualitas, dan ketelitian tinggi. Dalam sebuah sesi “Sake Tasting”, para pengunjung diajak untuk memahami bagaimana perbedaan proses produksi dapat menghasilkan karakter rasa yang begitu beragam—meskipun berasal dari bahan dasar yang sama.

Di tengah suasana hiruk-pikuk kemeriahan pembukaan “Whisky Live Jakarta 2026” di Royal Glasshouse, Hotel Park Hyatt Jakarta, Sabtu 11 April 2026. Ada sebuah sesi hangat yang digelar di stand Nabeshima, yakni “Sake Tasting” yang dipandu oleh selebriti dan MC kondang, Anya Dwinop.
Di sini pengunjung bukan sekadar diajak mencicipi aroma sake kualitas premium, tetapi menghadirkan pengalaman menyelami dunia sake lebih dalam, memahami bagaimana perbedaan proses produksi dapat menghasilkan karakter rasa yang begitu beragam (meskipun berasal dari bahan dasar yang sama), hingga filosofi di balik setiap botol.
Salah satu jenis beras yang digunakan adalah Yamada Nishiki, yang dikenal sebagai beras terbaik untuk pembuatan sake. Beras ini sering digunakan dalam sake premium karena kemampuannya menghasilkan rasa yang bersih dan kompleks. Dikenal sebagai “raja beras sake”, varietas ini menjadi fondasi bagi sake premium karena mampu menghasilkan karakter rasa yang bersih dan seimbang.

Namun, seperti yang dijelaskan oleh Yoshi Narukami (sake brewer) dari Nabeshima, bahan yang sama tidak selalu menghasilkan rasa yang sama.
“Walaupun semuanya dibuat dari beras yang sama, perbedaan proses fermentasi akan menciptakan profil rasa yang benar-benar berbeda—mulai dari aroma, body, hingga aftertaste,” ujar Narukami pada saat ditemui tim Elmediora.
Dari Halus hingga Ekspresif
Sake pertama yang dicicipi menghadirkan kesan ringan dan elegan. Dengan tingkat polishing hingga 50%, lapisan luar beras dibuang untuk menghasilkan rasa yang lebih bersih dan refined.
Memasuki gelas kedua, pengalaman mulai berubah. Aroma menjadi lebih kompleks, sementara rasa terasa lebih hidup di lidah.
“Coba perhatikan aromanya dulu. Sudah terasa berbeda, kan? Di sinilah menariknya sake—setiap botol punya cerita,” tambahnya.
Perbedaan ini menjadi momen di mana peserta mulai benar-benar memahami bahwa sake bukan minuman yang “satu rasa untuk semua”, melainkan spektrum rasa yang luas.

Bintang Utama di Panggung Global
Puncak sesi sake tasting hadir pada sake ketiga—produk yang telah mengharumkan nama brewery di kancah internasional. Sake ini meraih penghargaan di International Wine Challenge tahun 2011, yang menjadi titik awal pengakuan global.
“Sake ini yang membawa kami dikenal dunia. Sebelum itu, kami belum terlalu dikenal di luar Jepang,” jelas sang sake brewer.
Prestasi tersebut berlanjut dengan penghargaan lain pada tahun 2018, memperkuat posisinya sebagai salah satu sake unggulan di kelasnya.
Menariknya, sake pemenang ini direkomendasikan untuk dinikmati dalam kondisi dingin.
“Kalau disajikan dingin, rasanya lebih mudah diterima. Ini juga yang membuatnya cocok dipasangkan dengan berbagai makanan,” kata Narukami antusias.
Sebagai penutup, pengunjung diperkenalkan dengan varian premium, yaitu Genmai Daiginjo. Sake ini menawarkan profil rasa yang sangat halus dengan aroma yang elegan. Dengan tingkat polishing yang lebih tinggi, hasil akhirnya terasa lebih bersih dan kompleks, menjadikannya sebagai highlight dalam sesi tasting.
Aromanya lembut namun kompleks, sementara rasanya terasa ringan tetapi tetap berlapis. Tak heran jika banyak pengunjung langsung menjadikannya favorit.
Di akhir sesi, suasana pun menjadi lebih santai. Satu per satu pengunjung diminta memilih sake favorit mereka.
“Number one, two, three, or four?” tanya Anya.
Jawaban pun beragam, namun satu pilihan paling sering terdengar.
“Number four.”
Pilihan yang mungkin tidak mengejutkan—mengingat keseimbangan rasa dan kehalusan yang ditawarkan menjadi penutup sempurna dalam perjalanan mencicipi sake hari itu. Melalui pengalaman ini, para pengunjung setidaknya bukan hanya menikmati sake, tetapi juga memahami filosofi dan keahlian di balik setiap tetesnya. (SMS | Foto: SMS)
