Dari Solo ke BSD, Rizkya Batik Merawat Warisan Budaya dan Menembus Pasar Global
Lebih dari sekadar busana bermotif tradisional, Rizkya Batik meramu identitas batik Solo dengan desain kontemporer. Berawal dari usaha garmen kecil pada 2010, brand besutan Dwi Hendrarti dan Novana Sandra Dewi ini terus memperluas pasar, sekaligus membawa batik Indonesia menuju panggung global.
Batik tak lagi harus menunggu acara formal untuk dikenakan. Di tangan kreatif yang tepat, warisan budaya ini dapat hadir sebagai bagian dari gaya hidup perempuan modern—elegan, relevan, dan tetap berakar pada tradisi.
Semangat itulah yang mengiringi perjalanan Rizkya Batik sejak didirikan Dwi Hendrarti, atau akrab disapa Hetty Rizkya, di Solo pada 2010. Berangkat dari usaha garmen kecil, brand ini tumbuh menjadi label fashion yang hadir di berbagai pusat perbelanjaan Indonesia, sekaligus mulai merintis pijakan di pasar internasional.

Kini, perjalanan tersebut memasuki babak baru melalui pembukaan Galeri Rizkya Batik BSD, Tangerang Selatan, pada 17 Oktober 2026. Bagi Hetty, galeri ini bukan sekadar ruang penjualan, melainkan perwujudan impian lama sekaligus langkah untuk mendekatkan koleksi Rizkya Batik kepada lebih banyak pelanggan.
Merawat Identitas, Membuka Ruang Inovasi
Di tengah tren fashion yang terus berubah, Rizkya Batik mempertahankan karakter melalui sentuhan warna sogan, terutama nuansa cokelat yang lekat dengan tradisi batik Solo. Identitas tersebut diterjemahkan ke dalam beragam siluet, kombinasi material, serta perpaduan motif yang menghadirkan kesan lebih segar.
Hetty terlibat langsung dalam pemilihan bahan dan pengembangan desain. Motif batik dapat dipadukan dengan kain polos, misalnya, untuk menghasilkan busana yang lebih dinamis dan mudah dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Pendekatan ini juga menjadi jalan untuk menjangkau generasi muda. Bersama Novana Sandra Dewi, putrinya yang kini menjabat sebagai CEO, Hetty mengembangkan desain yang lebih praktis dan kontemporer tanpa menghilangkan karakter tradisional.
Kolaborasi ibu dan anak ini menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi: pengalaman dan konsistensi dalam menjaga identitas, serta pemahaman terhadap perubahan selera konsumen dan peluang pasar baru.

Ragam pilihan material dan teknik produksi turut membuka akses bagi konsumen dengan kebutuhan berbeda. Batik tulis tetap memiliki nilai tersendiri melalui proses pengerjaan yang menuntut keterampilan tinggi, sementara batik cap dan kombinasi kain lainnya menawarkan alternatif yang lebih beragam. Bagi Rizkya Batik, inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memastikan warisan budaya tetap hidup dan dikenakan lintas generasi.
Kualitas sebagai Fondasi Kepercayaan
Di balik desain, kualitas dan kenyamanan menjadi perhatian utama. Pemilihan material dilakukan dengan cermat, termasuk pengujian untuk memastikan bahan nyaman dikenakan dan cukup tahan dalam perawatan sehari-hari. Konsistensi potongan serta ukuran juga dijaga untuk memenuhi ekspektasi pelanggan.
Komitmen tersebut tercermin dalam cara Rizkya Batik menangani keluhan. Ketika ditemukan kerusakan pada kain produk, misalnya, perusahaan memilih memberikan penggantian kepada pelanggan. Bagi Hetty, hubungan dengan konsumen tidak berakhir ketika transaksi selesai. Kepercayaan harus dibangun melalui kualitas yang konsisten dan tanggung jawab terhadap produk.
Selain gerai fisik dan pameran, Rizkya Batik memanfaatkan WhatsApp dan marketplace untuk mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Kanal digital ini turut membantu bisnis menjangkau konsumen ketika pandemi membatasi aktivitas belanja secara langsung.
Dari Indonesia Menuju Pasar Internasional
Ambisi Rizkya Batik tidak berhenti di pasar domestik. Pengalaman mengikuti program inkubasi dan memperoleh bimbingan mentor internasional membuka wawasan baru mengenai standar produksi untuk pasar global.

Novana mempelajari pentingnya detail teknik jahitan, sistem produksi, hingga pemahaman terhadap karakter konsumen Eropa. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mempersiapkan produk agar mampu bersaing tanpa kehilangan identitas budaya Indonesia.
Rizkya Batik juga pernah berpartisipasi dalam Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda, serta kegiatan pameran di Moskow, Rusia, melalui program bersama Dinas Perdagangan. Di sisi lain, pameran menjadi sarana penting untuk memperkenalkan produk secara langsung. Konsumen dapat mencoba busana dan merasakan kualitas material sebelum memutuskan membeli.
Sejumlah pelanggan mancanegara bahkan kemudian tertarik memasarkan koleksi Rizkya Batik di negara mereka. Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dan sejumlah pasar Eropa menjadi bagian dari jangkauan pelanggan brand ini. Malaysia, khususnya, menunjukkan potensi melalui pembelian berulang atau repeat order.
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa daya saing global tidak cukup dibangun melalui desain yang menarik. Konsistensi kualitas, kenyamanan, dan kemampuan menjaga kepercayaan pelanggan juga menentukan keberlanjutan pasar.
Bertumbuh Bersama, Memberi Dampak Lebih Luas
Di balik perkembangan bisnisnya, Rizkya Batik turut melibatkan perajin dalam pengerjaan batik serta membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dalam proses produksi busana. Pelatihan dan pendampingan diberikan sesuai kemampuan masing-masing pekerja agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas perusahaan.

Langkah ini memperlihatkan bahwa industri fashion dapat menjadi ruang pemberdayaan, bukan hanya aktivitas komersial. Pertumbuhan bisnis diharapkan turut menciptakan kesempatan berkarya dan manfaat ekonomi bagi lebih banyak orang.
Kini, Galeri Rizkya Batik BSD menjadi penanda perjalanan baru setelah lebih dari 15 tahun membangun usaha. Hetty tetap menjaga fondasi dan karakter desain, sementara Novana memperkuat pengembangan bisnis serta menjajaki peluang pasar yang lebih luas. Keduanya membawa visi yang sama: menjadikan batik bukan sekadar simbol warisan masa lalu, melainkan produk fashion yang terus berkembang, relevan dengan zaman, dan memiliki daya saing internasional.
Dari Solo hingga BSD, perjalanan Rizkya Batik menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada bentuk yang diwariskan. Dengan kreativitas, kualitas, dan keterbukaan terhadap generasi baru, batik dapat terus menemukan bahasa yang relevan—tanpa kehilangan jati dirinya. (SMS|Foto: SMS)
