Beyond the Runway: Bagaimana PINTU Mengubah Kolaborasi Indonesia-Prancis Menjadi Gerakan Fashion Global
Memasuki tahun kelima, PINTU tidak lagi sekadar menjadi program inkubasi talenta. Ia telah berkembang menjadi jembatan kreatif yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis dalam sebuah ekosistem fashion berkelanjutan, tempat warisan budaya, inovasi material, dan visi global bertemu di satu panggung.
Di industri fashion global, sebuah runway tidak pernah sekadar menjadi ruang untuk memamerkan koleksi terbaru. Di balik setiap siluet, terdapat proses panjang yang dibangun melalui riset, eksplorasi budaya, eksperimen material, dialog kreatif, hingga pertukaran pengetahuan yang berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Filosofi inilah yang terus dikembangkan oleh PINTU, platform kolaborasi Indonesia–Prancis yang kini memasuki tahun kelimanya. Lebih dari sekadar program pembinaan desainer muda, PINTU telah menjelma menjadi ekosistem kreatif yang menghubungkan talenta, institusi pendidikan, museum, industri, hingga pelaku bisnis fashion dari dua negara yang sama-sama memiliki kekayaan budaya luar biasa.
Pada BRI JF3 Fashion Festival 2026, perjalanan tersebut mencapai babak baru melalui tiga program utamanya—PINTU Incubator, PINTU Accelerator, dan PINTU Residency—yang dirancang untuk mendampingi pelaku industri fashion pada berbagai fase perkembangan karier mereka. Ketiganya membentuk jalur pembelajaran yang memungkinkan para kreator tidak hanya menghasilkan koleksi, tetapi juga membangun fondasi bisnis, jejaring internasional, serta perspektif global.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menampilkan Koleksi
Menurut Presiden JF3, Soegianto Nagaria, koleksi-koleksi yang tampil malam itu merupakan puncak dari perjalanan kreatif yang jauh lebih kompleks dibanding apa yang terlihat di atas runway.
Di balik setiap busana terdapat eksplorasi mendalam, proses belajar lintas budaya, dialog kreatif antara mentor dan desainer, hingga kolaborasi berbagai institusi dari Indonesia dan Prancis. Bagi JF3, panggung tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi yang dibangun secara konsisten mampu melahirkan karya berkualitas sekaligus membuka kesempatan baru bagi generasi kreatif berikutnya.

Momentum penting lainnya hadir melalui peluncuran Yayasan PINTU Indonesia, sebuah fondasi kelembagaan yang memastikan keberlangsungan program dalam jangka panjang. Kehadiran yayasan ini mempertegas komitmen kedua negara untuk terus memperluas ruang kolaborasi di sektor fashion dan industri kreatif.
Komitmen tersebut juga mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Prancis. Vincent Degoul, Deputy Cultural Counselor of the French Embassy in Indonesia sekaligus Deputy Director Institut Français d’Indonésie (IFI), mengungkapkan bahwa selama lima tahun terakhir PINTU telah mempertemukan lebih dari 150 profesional yang terdiri atas desainer, akademisi, peneliti, konsultan, jurnalis, hingga mahasiswa dari kedua negara.
Hubungan kreatif tersebut bahkan telah menjadi bagian dari agenda diplomasi budaya Indonesia–Prancis dan masuk ke dalam peta jalan kerja sama Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, menegaskan bahwa industri budaya dan kreatif kini memainkan peran strategis dalam hubungan bilateral kedua negara.
Belajar dari Jantung Fashion Dunia
Keunggulan PINTU tidak berhenti pada proses mentoring. Selama empat tahun terakhir, para penerima penghargaan PINTU memperoleh akses eksklusif ke sejumlah institusi fashion paling prestisius di Prancis, mulai dari Palais Galliera, Musée des Arts Décoratifs, Galerie Dior, Musée Yves Saint Laurent, Institut Français de la Mode, hingga inkubator kreatif La Caserne.
Mereka juga berdialog langsung dengan para profesional dari department store legendaris Le Bon Marché dan Printemps Haussmann, memperluas pemahaman mengenai industri luxury retail, strategi bisnis fashion, hingga dinamika pasar global.
Empat Perspektif Baru dari Desainer Prancis
Runway PINTU tahun ini menghadirkan empat desainer Prancis dengan pendekatan kreatif yang sangat berbeda, namun sama-sama menawarkan pembacaan baru mengenai fashion kontemporer.

Louise Marcaud kembali ke Indonesia setelah mengikuti PINTU Cultural Visit tahun lalu. Melalui koleksi musim panasnya, ia mengeksplorasi tekstil lurik Indonesia menggunakan pendekatan high-end upcycling, memadukan craftsmanship tradisional dengan estetika modern. Alumni rumah mode seperti Chanel dan Jean Paul Gaultier ini tetap mempertahankan prinsip produksinya: koleksi terbatas, material deadstock, dan produksi lokal sebagai bagian dari praktik fashion yang lebih bertanggung jawab.
Berbeda dengan Louise, Etienne Deroeux menghadirkan dialog antara Indonesia dan Senegal melalui koleksi FAS DELMAN, hasil kolaborasi bersama label Indonesia DENIMITUP dan TAREET. Koleksi streetwear tersebut menggabungkan elemen busana tradisional Afrika dengan siluet urban modern, termasuk eksplorasi volume yang terinspirasi dari gerakan dinamis djellaba, menciptakan bahasa visual baru yang memadukan identitas budaya dengan gaya hidup metropolitan.
Sementara itu, Fengyuan Dai, pendiri label 30%70, memperlihatkan bagaimana keseimbangan tidak selalu lahir dari simetri. Melalui tailoring yang presisi, tekstil daur ulang, material alami, dan eksplorasi teknik artisan, ia membangun koleksi yang bergerak di antara Timur dan Barat, tradisi dan inovasi, elegansi dan kenyamanan. Hasilnya adalah busana dengan nuansa puitis yang terasa lembut sekaligus sangat kontemporer.
Eksperimen paling futuristis datang dari Rohan Mirza melalui koleksi Stone Age. Lewat label ROHAN MIRZA STUDIO, ia memanfaatkan teknologi cetak 3D, silikon, serta teknik fabrikasi eksperimental untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan budaya digital. Koleksi tersebut memotret Paris sebagai kota yang sekaligus melahirkan mimpi dan membongkarnya kembali, menghadirkan refleksi emosional mengenai identitas, memori kolektif, dan mitologi internet dalam bahasa fashion avant-garde.
Ketika Dua Budaya Tidak Lagi Berhadapan, Melainkan Saling Melengkapi
Puncak presentasi PINTU tahun ini hadir melalui program French–Indonesian Co-Creation Residency, sebuah laboratorium kreatif yang mempertemukan desainer dari Indonesia dan Prancis dalam proses penciptaan koleksi bersama.

Kolaborasi Mickael Nana bersama Beatrice Angelica, pendiri NOEN, melahirkan koleksi GARUDA. Terinspirasi dari simbol nasional Indonesia, koleksi tersebut mengeksplorasi pertemuan antara teknik tailoring Barat dengan kekayaan tekstil Nusantara. Alih-alih mempertentangkan dua tradisi berbeda, GARUDA justru menunjukkan bagaimana keberagaman dapat melahirkan bahasa desain baru yang modern sekaligus berakar kuat pada nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Pendekatan berbeda ditawarkan oleh Lisa Rayar dan Gabriel Marcella, Creative Director Soedisoei, melalui koleksi AU LARGE. Berangkat dari budaya maritim yang menjadi bagian penting identitas kedua negara, keduanya mengembangkan motif batik orisinal yang memadukan pola tartan Indonesia dengan garis-garis maritim khas Prancis menggunakan teknik sablon batik inovatif.
Hasilnya bukan sekadar motif baru, melainkan simbol dialog budaya yang memperlihatkan bagaimana tradisi tekstil dapat terus berevolusi tanpa kehilangan keasliannya. Koleksi ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan akar budaya, tetapi justru menghidupkannya kembali melalui perspektif baru.
Fashion Sebagai Diplomasi Masa Depan
Lima tahun perjalanan PINTU memperlihatkan bahwa masa depan fashion tidak dibangun oleh kreativitas semata. Ia membutuhkan pendidikan, riset, jejaring internasional, keberanian bereksperimen, serta kemauan untuk saling belajar lintas budaya.
Melalui PINTU, Indonesia dan Prancis tidak hanya bertukar estetika, tetapi juga membangun model kolaborasi yang menjadikan fashion sebagai bahasa diplomasi, ruang inovasi, sekaligus investasi bagi generasi kreatif masa depan.
Di atas runway JF3 Fashion Festival 2026, yang dipertontonkan bukan hanya deretan koleksi dengan siluet memikat. Yang sesungguhnya dipamerkan adalah sebuah visi—bahwa ketika dua ekosistem kreatif bertemu dalam semangat saling menghargai, fashion mampu menjadi jembatan yang menghubungkan warisan, teknologi, dan masa depan dalam satu narasi yang utuh. (SMS | Foto: SMS & Dok. JF3)
