ALLPrint Indonesia 2026: Saat Dunia Makin Digital, Mengapa Printing Justru Menemukan Pasar Baru?
Dari buku, kemasan dan tekstil hingga fotografi serta 3D printing, industri grafika Indonesia sedang bergerak melampaui kertas. Teknologi dan kreativitas membuka wajah baru industri percetakan di tengah perubahan perilaku konsumen.
Ada anggapan bahwa semakin digital sebuah masyarakat, semakin dekat pula industri percetakan dengan akhir eranya. Koran berpindah ke layar. Majalah menghadapi media sosial. Buku hadir dalam bentuk e-book. Bahkan kamera yang dulu menjadi perangkat khusus kini berada di hampir setiap telepon pintar. Namun industri printing ternyata tidak sesederhana itu.

Di balik berkurangnya sebagian kebutuhan cetak konvensional, muncul pasar baru: kemasan, label, textile printing, signage, fotografi, personalisasi, hingga 3D printing. Itulah perubahan yang tercermin dalam ALLPrint Indonesia 2026, yang akan berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Diselenggarakan Krista Exhibitions, pameran ini menghadirkan lebih dari 400 peserta dari lebih dari 10 negara, termasuk Indonesia, China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Jerman, India, Singapura, Malaysia dan Hong Kong. Sekitar 20 peserta merupakan UMKM, dengan target 60.000 pengunjung selama empat hari.
Namun angka tersebut bukan cerita utamanya. Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi di baliknya: industri printing sedang mencari alasan baru untuk tetap dicetak.
Dari mencetak massal menjadi mencetak sesuai kebutuhan
Industri percetakan Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh pada 2026. Dalam paparan ALLPrint Indonesia, pertumbuhan disebut berada di sekitar 3,39 persen, dengan pertumbuhan kumulatif sekitar 11,42 persen.
Salah satu penggeraknya adalah sektor kemasan dan label yang disebut tumbuh hingga 20 persen, sementara textile printing sekitar 15 persen. Pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari berkembangnya e-commerce dan UMKM. Semakin banyak produk yang dijual langsung kepada konsumen, semakin besar pula kebutuhan terhadap kemasan, label, identitas visual dan materi promosi.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, melihat industri percetakan kini telah berkembang jauh melampaui mesin cetak konvensional.

“Industri percetakan saat ini berkembang sangat luas. Tidak hanya berbicara mengenai mesin dan teknologi cetak konvensional, tetapi juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan oleh industri,” ujarnya.
Perubahan teknologi juga menurunkan batas masuk bagi pelaku usaha. Investasi dapat dimulai dari puluhan juta rupiah hingga miliaran rupiah, bergantung pada jenis mesin dan segmen yang dipilih. Bahkan, untuk memulai bisnis printing, seseorang tidak selalu harus memiliki mesin.
Desain, kreativitas dan kemampuan membaca pasar dapat menjadi titik awal. Produksi kemudian dikerjakan melalui jaringan percetakan yang sudah memiliki mesin sesuai kebutuhan. Dari sinilah model bisnis baru berkembang: menjual ide terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan teknologi produksi.
Ketika printing masuk ke fashion dan kehidupan sehari-hari
Perubahan paling mudah dilihat dari semakin luasnya media yang dapat dicetak. Teknologi digital memungkinkan desain diaplikasikan pada tekstil, hijab, pakaian, tas, kartu, dekorasi hingga berbagai materi promosi.
Personalisasi menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Produk tidak lagi harus dibuat dalam jumlah besar dengan desain yang seragam. Bagi UMKM, kemampuan memproduksi dalam jumlah kecil juga membuka peluang untuk menguji pasar sebelum meningkatkan kapasitas produksi.
Konsep print on demand bahkan memungkinkan produksi buku atau produk cetak dalam jumlah puluhan, sesuatu yang jauh lebih sulit dilakukan pada era ketika percetakan sangat bergantung pada produksi massal.
Teknologi digital juga semakin tersebar. Mesin yang dahulu hanya dapat ditemukan di perusahaan percetakan besar kini semakin mudah dijumpai di berbagai daerah. Akibatnya, industri printing tidak hanya tumbuh melalui perusahaan besar. Ia juga berkembang melalui pelaku usaha kecil yang melayani kebutuhan lokal.
Digitalisasi tidak membuat kertas hilang
Ironisnya, ketika dunia semakin digital, kertas belum benar-benar kehilangan tempat.
Italia memberikan contoh menarik. Data Istat menunjukkan bahwa pada 2024, 57,1 persen penduduk Italia berusia enam tahun ke atas membaca setidaknya satu buku dalam setahun. Pada 2025, lebih dari 20 juta orang membaca buku dalam format cetak. Bahkan, 88,7 persen pembaca masih membaca buku dalam format cetak, sementara 71,5 persen pembaca hanya menggunakan buku cetak.
Artinya, perkembangan digital tidak otomatis menghapus medium fisik.
Fenomena serupa terlihat dalam perhatian Finlandia terhadap literasi. Finnish National Agency for Education menjalankan National Literacy Program yang secara khusus mendorong literasi anak-anak dan kaum muda. Finlandia bahkan memiliki National Literacy Strategy 2030 yang mendorong budaya membaca dan penguatan kemampuan literasi di sekolah maupun masyarakat.
Konteksnya penting: teknologi memang mengubah cara manusia membaca, tetapi kebutuhan untuk membaca dan memahami informasi tetap ada. Sementara bagi industri printing, persoalannya kemudian bukan lagi mempertahankan volume cetak seperti masa lalu.
Pertanyaannya berubah menjadi: apa yang masih layak dicetak dan mengapa? Jawabannya tentu semakin beragam.
Buku masih memiliki tempat. Majalah masih memiliki pembaca. Kemasan membutuhkan identitas. Label memberikan informasi. Fotografi dapat berubah menjadi karya fisik. Tekstil dapat menjadi medium ekspresi kreatif. Dan semuanya membutuhkan teknologi printing.
Bahkan fotografi masih membutuhkan cetakan
Perubahan serupa terjadi dalam dunia fotografi. Di tengah dominasi kamera digital dan smartphone, hasil fotografi ternyata masih membutuhkan bentuk fisik, terutama ketika sebuah foto diposisikan sebagai karya seni atau objek koleksi.
Teknologi pencetakan dengan material khusus bahkan memungkinkan hasil foto memiliki daya tahan warna yang sangat panjang. Ini memperlihatkan bahwa digital dan fisik tidak selalu berada dalam hubungan saling menggantikan.
Sebuah foto dapat lahir secara digital, tetapi nilai akhirnya justru dapat ditemukan ketika ia kembali menjadi objek fisik.
Dari kertas menuju logam
Definisi printing bahkan semakin jauh dari kertas. Di ALLPrint Indonesia 2026, teknologi 3D printing menjadi salah satu bagian dari perkembangan industri yang diperlihatkan kepada pengunjung. Jika printing konvensional menghasilkan tinta di atas media, 3D printing memungkinkan sebuah desain diwujudkan menjadi objek tiga dimensi menggunakan material tertentu.
Perkembangan tersebut membawa industri printing semakin dekat dengan manufaktur, desain produk, robotik dan berbagai aplikasi teknologi masa depan. Pertanyaan tentang printing pun berubah. Bukan lagi sekadar “berapa banyak yang dapat dicetak?”, tetapi “apa yang dapat diwujudkan melalui teknologi cetak?”
Teknologi saja tidak cukup
Di tengah transformasi tersebut, industri grafika Indonesia tetap menghadapi tantangan. Persaingan harga, efisiensi produksi, bahan baku, kualitas sumber daya manusia, produk impor dan perubahan pola konsumsi menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi pelaku industri.
Dalam konferensi pers ALLPrint Indonesia 2026, pelaku industri juga menyampaikan aspirasi agar pemerintah memperkuat perlindungan terhadap industri percetakan dalam negeri, termasuk memberikan ruang lebih besar bagi industri domestik dalam rantai pasok kemasan. Pada saat yang sama, industri juga perlu meningkatkan nilai tambah.
Perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif menekankan pentingnya membawa ekonomi kreatif tidak hanya pada aktivitas menjual jasa atau komoditas, tetapi juga mengembangkan intellectual property (IP).
Dalam konteks tersebut, printing menjadi jembatan antara kreativitas dan nilai ekonomi. Desain, ilustrasi, motif, karakter, fotografi maupun identitas merek dapat dikembangkan menjadi IP, lalu diterjemahkan ke berbagai produk fisik.

ALLPrint dan masa depan industri grafika
ALLPrint Indonesia 2026 mempertemukan berbagai bagian dari ekosistem tersebut melalui pameran teknologi sekaligus forum industri. Pameran akan berlangsung bersama Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated dan Pro Label Asia.
Ada pula agenda edukasi seperti seminar tentang masa depan digital textile printing, otomatisasi manufaktur karton, serta forum yang membahas sertifikasi halal dan kemasan. Pada 8 Oktober 2026, Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) juga akan menggelar Musyawarah Nasional XI yang mempertemukan pengurus dari 23 provinsi. Dengan demikian, ALLPrint bukan hanya ruang untuk melihat mesin baru. Ia menjadi ruang untuk melihat ke mana industri ini bergerak.
Printing yang terus berubah
Mungkin industri percetakan memang tidak akan pernah kembali seperti era kejayaannya ketika koran, majalah, buku dan brosur diproduksi dalam volume sangat besar. Tetapi itu tidak berarti printing kehilangan masa depan.
Justru sebaliknya. Ia sedang bergerak dari produksi massal menuju personalisasi. Dari kertas menuju tekstil, kemasan dan berbagai material. Dari sekadar mencetak menuju menciptakan pengalaman. Dari menjual jasa menuju membangun intellectual property.
Dan di tengah semua perubahan itu, satu hal tetap sama: sebuah ide masih membutuhkan cara untuk menjadi nyata. Teknologi printing adalah salah satu cara tersebut. Karena itu, masa depan industri percetakan mungkin bukan tentang mempertahankan apa yang pernah dicetak. Melainkan tentang menemukan apa yang berikutnya layak untuk dicetak. (SMS|Foto: SMS)
